Posts

Yuk Jalan-jalan ke Isparta; Turki Rasa Jogja, Rek !

Image
Merhabalar OOL'ers ~
Apa kabar? Semoga sehat semua ya :).
Yuk deh nulis lagi. Berhubung udah lama sekali nggak berbagi tulisan tentang jalan-jalan, kali ini saya akan share tentang pengalaman liburan ke Antalya dan Isparta beberapa waktu lalu. Yeey ^^9 ! Here we go..
Jadi ceritanya, di sela-sela deadline tesis dan aneka proyek yang mencekik kemarin, alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk piknik. Lumayan buat meregangkan otot dan otak yang mulai ngebul, hihi. Sebetulnya nggak literally niat jalan-jalan banget sih. Berhubung ada satu event (cie gaya) yang mengharuskan saya pergi ke Isparta--padahal nggak pernah masuk list-to-visit-- maka jadilah jiwa melancongnya kambuh lagi. Padahal awalnya pesimis banget buat hal-hal beginian (re: jalan-jalan di Turki), secara kuliah saya udah di penghujung senja alias udah mau berakhir masanya, belum lagi sibuk tesis dan ini itu. Eh ternyata Allah punya rencana lain melalui acara 'paksa' ini, hehe. Salah satu bentuk pemaksaan yang pa…

Islamophobia in Turkey?

Image
ADA yang janggal dengan tatapan Esra Hoca siang hari itu.

"Erna, setelah ini, jangan sekali-kali lagi pakai jilbab hitam ya. Hic yakismis degil sana*." Akhirnya beliau buka suara. Saya yang masih terduduk bingung gantian menatap Tugba Hoca yang turut mengamini perkataan Esra Hoca barusan. Tumben sekali duo hoca ini kompak mengomentari gaya berbusana saya, bukan dalam konteks memuji seperti biasa tapi justru sebaliknya.

"Kenapa memangnya, Hocam? Saya kelihatan sekecil itukah dengan jilbab hitam?" Saya ingat teman kamar pernah protes ketika saya mengenakan gamis berwarna hitam karena jadi kelihatan kecil, kaya batang. Bukan batang lagi, lidi mungkin. Udah kurus, kecil pake baju item juga. Tambah nggak keliatan.

Beliau menggeleng. "E-emh. Kamu kelihatan kaya.. orang islam radikal,"




.. Wha... What? Say it again? Kepala saya berasa dipukul palu godam seketika. Berharap salah dengar atau bahasa Turki saya lagi eror jadi ngaco ngartiin perkataan hoca barusan.…

Kenapa Perlu Banget Kuliah di Luar Negeri? (1): When the world is no longer scary

Image
Kalau moto Asma Nadia adalah satu buku sebelum mati, maka mantra "minimal study abroad sekali seumur hidup!" mesti banget jadi moto pemburu ilmu. Apapun bentuknya! Kuliah reguler S1, master, PhD, post doktora, internship, pelatihan, student exchange, dll. Intinya, keluar negeri dengan tujuan belajar, bukan semata jalan-jalan. Mmh.. Minimal 2-3 bulan gitu lah ya, nggak harus lama-lama. Asal cukup untuk mempelajari seluk-beluk kehidupan mereka, melihat budaya dan kebiasaan, kehidupan sosial dan perilaku masyarakat, to learn what's right and wrongs menurut norma yang ada, untuk belajar berempati dan saling menghargai, saling terbuka aka open minded, bertemu dengan muslim dari negara lain, kawan dan saudara baru, networking, dst. Plis, alasannya standar banget deh, Er 😑.

Neyse ya.. sejuta satu alasan (yang lebih keren) bisa kamu buat sendiri kalau mau. Hehe. Tapi berhubung ini tulisan saya, dan terserah saya, jadi bahasan kali ini juga akan dibuat semau saya. Hihi. Well..…

Mohon Bersabar Ini Ujian

.
.
.
.

Belum ada postingan baru lagi nih. Hiks. Banyak banget sebenernya yang pengen ditulis. Tapi.. tapi tapi tapi.. masih sibuk nge-draft tesis! Heu. 😵😂

Mohon jangan bosan doakan saya ya wahai sholih/ah. Biar cepet kembali ke rumah yang hampir... berlaba-laba ini *lirik kiri kanan, tiup2in debu*

Inshaallah kalau minggu depan draftnya selesai, saya balas dendam deh posting tulisan seminggu penuh, hehe.

Sekian.

Pamit semedi lagi.

Daaahh..!


--

p.s: yang masih suka nanya2 tentang adat nikahan Turki, pria/ wanita Turki, cara pedekate sama orang Turki; semuanya sudah saya rangkum dalam buku #SERBASERBITURKI alias #SST ya dear. Silakan dicari di toko buku terdekat. *ujung2nya promosi 🙈😂


Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

"Al !" (ambil !) Gadis bermata bulat besar yang tadi duduk di seberang ruangan menyodorkan mangkuk berisi potongan apel. Saya menggeleng pelan, melambaikan tangan ringan.

"Tidak usah, terima kasih."

"Al.. !" (ambillah.. !) katanya lagi, mengayunkan mangkuk lebih dekat.
"Lutfen.." (please..)

Ih ini orang, nggak kenal aja maksa-maksa. Gimana kalau kenal?

.

Hari berikutnya dia akan datang menawarkan jeruk atau pir. Kali selanjutnya, biskuit, chips, coklat, manisan, kacang-kacangan khas Turki, apapun! Saya sampai heran dibuatnya.

"Gunah ama ya.." (dosa loh [kalau nggak diambil]) desaknya suatu sore ketika saya menolak biskuit karena lagi kenyang banget habis makan.

"Bir tane alın sonra yiyin." (ambil satu aja, makannya nanti gapapa). Duh Gusti..
Apa daya? Daripada dia merengek terus dan nanti saya dosa beneran mending ikutin maunya aja deh. Ambil dulu, makannya nanti entah kapan.

Hampir empat tahun di Turki dan ternyata sa…

Rasanya itu $%*&^%%#!

Image
Antalya, 20.03.17

"Excuse me !" sapa sebuah suara. Saya yakin banget kalau lelaki gundul berkaca mata hitam itu menunjuk saya. Bersetel kaos oblong hitam dengan celana selulut berwarna senada, perut menonjol keluar, gaya perlente. Setipe-tipe turis yang sering berlalu lalang di zona wisata Turki. Di sebelahnya, seorang perempuan agak muda dengan dress gelap pendek bergelayut manja. Sesekali tertawa menampakkan gigi putihnya yang, harus saya akui sangat rapi. Tetapi bukan di situ letak masalahnya.

Saya masih termangu di tempat ketika si lelaki maju beberapa langkah dan menyerahkan hapenya.

"Take photo? Okey?" mengisyaratkan tiga jari di udara.

"Ah, oh, emh.." gelagap saya bingung sembari menerima iPhone yang layarnya tampak masih mengkilap. Dikira turis Eropa, orang lokal toh. Kirain tadi mau tanya arah lokasi wisata apa gitu, ternyata minta foto. Nasib melancong dan terpisah dari rombongan ya begini nih; disasar jadi tukang foto dadakan. Saya pikir ya …

Pernikahan ala Turki

Image
"Kebanyakan anak perempuan di Turki dimanjakan oleh orangtua mereka. Mungkin karena alasan inilah kebanyakan gadis Turki usia sekolah yang saya temui terlihat kurang mandiri dan kurang dewasa dibandingkan perempuan Indonesia pada usia yang sama. Segala sesuatunya masih sangat tergantung orangtua mereka meskipun secara fisik terlihat lebih besar. Akan tetapi wanita Turki yang sudah dewasa dan siap menikah biasanya lebih mandiri dan rajin, sigap serta lebih peka soal urusan rumah. Maklum, biasanya ini merupakan pertimbangan penting bagi calon mertua di Turki yang hendak mencarikan calon isteri untuk anak laki-lakinya.."

 "75% perempuan Turki akan bersedia menikah dengan lelaki Indonesia jika fisik dan karakter yang diinginkannya memang ada di dalam lelaki Indonesia.."

Tuh, secuil cuplikan khusus buat kamu, lelaki yang berminat menikahi perempuan Turki bermata jeli. Jadi, kapan mau datang melamar :D?
*
"Apabila pernikahan dilakukan beda bangsa, lain lagi persyarat…