Posts

Tengkyu, Abang

Percakapan dalam angkot.

'TASIUN TASIUN.. A, A, tasiun hayuk A!"

Sepuluh menit menuju jam sembilan malam. Saya duduk gelisah. Angkot yang sejak tadi ditumpangi tak kunjung berjalan. Alih-alih maju, eeh.. malah mundur lagi. Gas rem gas rem, ujung-ujungnya ngetem.

'Bang masih lama ya?' pertanyaan yang paling disebelin sopir angkot.

'Ya, gapapa Neng, turun aja.'

Dengan senang hati saya keluar dari angkot ijo muda. Ya ngapain juga nunggu lama-lama untuk sesuatu yang nggak jelas kan? Mending turun. Toh banyak juga angkot yang dari tadi lalu lalang tanpa ngetem.  

Dua puluh meter saya berjalan dan menunggu angkot lain lewat. Lima detik, sepuluh, tiga puluh, satu menit, tiga menit. Ini angkot pada kemana ya?

Angkot yang beberapa saat lalu saya campakkan tampak mulai penuh. Hanya hitungan detik angkot itu melesat maju menuju tempat saya berdiri.

Waduh, gimana nih? Naik nggak ya? Tengsin :{. Tapi kalau nggak naik, nanti lama lagi datengnya. Serba salah.

Sebetulnya …

Jeritan takdir

Genap lima puluh tiga tahun di bawah langit kontrakan. Tuhan.. Kemiskinan ini, akankah jadi penggugur dosa menuju surga?

_FM

Yuk Jalan-jalan ke Isparta; Turki Rasa Jogja, Rek !

Image
Merhabalar OOL'ers ~
Apa kabar? Semoga sehat semua ya :).
Yuk deh nulis lagi. Berhubung udah lama sekali nggak berbagi tulisan tentang jalan-jalan, kali ini saya akan share tentang pengalaman liburan ke Antalya dan Isparta beberapa waktu lalu. Yeey ^^9 ! Here we go..
Jadi ceritanya, di sela-sela deadline tesis dan aneka proyek yang mencekik kemarin, alhamdulillah saya dapat kesempatan untuk piknik. Lumayan buat meregangkan otot dan otak yang mulai ngebul, hihi. Sebetulnya nggak literally niat jalan-jalan banget sih. Berhubung ada satu event (cie gaya) yang mengharuskan saya pergi ke Isparta--padahal nggak pernah masuk list-to-visit-- maka jadilah jiwa melancongnya kambuh lagi. Padahal awalnya pesimis banget buat hal-hal beginian (re: jalan-jalan di Turki), secara kuliah saya udah di penghujung senja alias udah mau berakhir masanya, belum lagi sibuk tesis dan ini itu. Eh ternyata Allah punya rencana lain melalui acara 'paksa' ini, hehe. Salah satu bentuk pemaksaan yang pa…

Islamophobia in Turkey?

Image
ADA yang janggal dengan tatapan Esra Hoca siang hari itu.

"Erna, setelah ini, jangan sekali-kali lagi pakai jilbab hitam ya. Hic yakismis degil sana*." Akhirnya beliau buka suara. Saya yang masih terduduk bingung gantian menatap Tugba Hoca yang turut mengamini perkataan Esra Hoca barusan. Tumben sekali duo hoca ini kompak mengomentari gaya berbusana saya, bukan dalam konteks memuji seperti biasa tapi justru sebaliknya.

"Kenapa memangnya, Hocam? Saya kelihatan sekecil itukah dengan jilbab hitam?" Saya ingat teman kamar pernah protes ketika saya mengenakan gamis berwarna hitam karena jadi kelihatan kecil, kaya batang. Bukan batang lagi, lidi mungkin. Udah kurus, kecil pake baju item juga. Tambah nggak keliatan.

Beliau menggeleng. "E-emh. Kamu kelihatan kaya.. orang islam radikal,"




.. Wha... What? Say it again? Kepala saya berasa dipukul palu godam seketika. Berharap salah dengar atau bahasa Turki saya lagi eror jadi ngaco ngartiin perkataan hoca barusan.…

Kenapa Perlu Banget Kuliah di Luar Negeri? (1): When the world is no longer scary

Image
Kalau moto Asma Nadia adalah satu buku sebelum mati, maka mantra "minimal study abroad sekali seumur hidup!" mesti banget jadi moto pemburu ilmu. Apapun bentuknya! Kuliah reguler S1, master, PhD, post doktora, internship, pelatihan, student exchange, dll. Intinya, keluar negeri dengan tujuan belajar, bukan semata jalan-jalan. Mmh.. Minimal 2-3 bulan gitu lah ya, nggak harus lama-lama. Asal cukup untuk mempelajari seluk-beluk kehidupan mereka, melihat budaya dan kebiasaan, kehidupan sosial dan perilaku masyarakat, to learn what's right and wrongs menurut norma yang ada, untuk belajar berempati dan saling menghargai, saling terbuka aka open minded, bertemu dengan muslim dari negara lain, kawan dan saudara baru, networking, dst. Plis, alasannya standar banget deh, Er 😑.

Neyse ya.. sejuta satu alasan (yang lebih keren) bisa kamu buat sendiri kalau mau. Hehe. Tapi berhubung ini tulisan saya, dan terserah saya, jadi bahasan kali ini juga akan dibuat semau saya. Hihi. Well..…

Mohon Bersabar Ini Ujian

.
.
.
.

Belum ada postingan baru lagi nih. Hiks. Banyak banget sebenernya yang pengen ditulis. Tapi.. tapi tapi tapi.. masih sibuk nge-draft tesis! Heu. 😵😂

Mohon jangan bosan doakan saya ya wahai sholih/ah. Biar cepet kembali ke rumah yang hampir... berlaba-laba ini *lirik kiri kanan, tiup2in debu*

Inshaallah kalau minggu depan draftnya selesai, saya balas dendam deh posting tulisan seminggu penuh, hehe.

Sekian.

Pamit semedi lagi.

Daaahh..!


--

p.s: yang masih suka nanya2 tentang adat nikahan Turki, pria/ wanita Turki, cara pedekate sama orang Turki; semuanya sudah saya rangkum dalam buku #SERBASERBITURKI alias #SST ya dear. Silakan dicari di toko buku terdekat. *ujung2nya promosi 🙈😂


Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

"Al !" (ambil !) Gadis bermata bulat besar yang tadi duduk di seberang ruangan menyodorkan mangkuk berisi potongan apel. Saya menggeleng pelan, melambaikan tangan ringan.

"Tidak usah, terima kasih."

"Al.. !" (ambillah.. !) katanya lagi, mengayunkan mangkuk lebih dekat.
"Lutfen.." (please..)

Ih ini orang, nggak kenal aja maksa-maksa. Gimana kalau kenal?

.

Hari berikutnya dia akan datang menawarkan jeruk atau pir. Kali selanjutnya, biskuit, chips, coklat, manisan, kacang-kacangan khas Turki, apapun! Saya sampai heran dibuatnya.

"Gunah ama ya.." (dosa loh [kalau nggak diambil]) desaknya suatu sore ketika saya menolak biskuit karena lagi kenyang banget habis makan.

"Bir tane alın sonra yiyin." (ambil satu aja, makannya nanti gapapa). Duh Gusti..
Apa daya? Daripada dia merengek terus dan nanti saya dosa beneran mending ikutin maunya aja deh. Ambil dulu, makannya nanti entah kapan.

Hampir empat tahun di Turki dan ternyata sa…