Posts

Showing posts with the label Rumah Puzzle

TTA (bagian #1)

Aaah! Keterlaluan sekali mereka!. Kalau kata A Rafiq dalam lagunya: 'sungguh kau tak pandai menimbang rasa..!' Malam itu kudapati ibu teremenung sendu di pojokan dapur. Bukan. Bukan sendu atas kebandelan kayu bakar semi basah yang tak kunjung terbakar di tungku. Tak pantas juga merenungi harga sembako yang memang semakin menggila akhir-akhir ini. Apa mau dibuat? Harga naik gak naik, tetap saja.. susah. Kutarik kursi kayu kecil dekat gentong air. Mengusap debu tak tampak satu dua kali, sekedarnya. Duduk sedekat mungkin dengan tungku, dekat ibu.   "Kenapa lagi, Bu?" Ekspresi itu sudah berulang kali kulihat. Beban super berat seolah sedang menggelayuti pipinya yang sudah mulai keriput dan kempot disana-sini. Muram. Beberapa kali hanya terdengar desahan nafas berat diantara gemeretuk bunyi ranting yang mulai terbakar. Sesekali beliau tersenyum getir, untuk dirinya sendiri. "Ibu salah ya? heh.." sekali lagi senyumnya tersungging. Pandangannya tak ber...

MISI #1 Air wajahmu adalah budimu

“Kenapa? Marah? Kalau tidak suka dan tidak ikhlas, tinggalkan saja!” katanya dengan sedikit nada membentak.  Sudah dua jam lalu adzan ashar berkumandang. Sebentar lagi ayah dan si sulung akan pulang kerja sementara dua anak lainnya akan pulang dari pengajian. Rendaman baju sejak satu atau dua hari lalu tampaknya telah lelah menanti untuk dicuci. Sebaskom piring kotor pun masih tertegun sendu di pojokan sumur. Asap perih yang memedihkan mata mengepul riang dari tungku perapian seolah tak peduli dengan mata yang bercucuran karena kehadirannya. Sesekali terdengar bunyi tiupan songsong* dari arah dapur, dengan polosnya turut memeriahkan kegelisahan sore itu. Bu Mulya tampak sibuk bolak-balik dapur dengan sendok sayur plastik berwarna merah menggantung di tangan kanannya sementara tangan kirinya berusaha menahan si bungsu yang hampir terlepas dari gendongan.  Reina masih terpaku di mulut dapur. Memegangi mangkok plastik biru berisi toge yang akarnya tak...

Melukis Ayah #1

Usianya baru saja 5 kala itu. Cerewet. Lincah. Berani. Dan penuh percaya diri. Setidaknya untuk ukuran anak seusianya. Meski begitu, dia tetap saja hanya seorang gadis kecil. Entah apa yang dipikirkan sang ayah. Menyuruh putrinya berlari di tengah rintik hujan hanya demi sebatang rokok. Runa mengangguk polos.Tangan mungilnya mendapati uang 250 rupiah. Tanpa banyak bertanya ia segera berlari menuju warung Bah Juhri--Pemilik warung yang sekaligus kakeknya. Langit yang gelap, tetesan hujan, dan cipratan air jalanan di gang tampak sangat tidak bersahabat malam itu. Tapi Runa tidak memiliki alasan untuk mengeluh. Keingintahuannya tentang benda yang bernama 'rokok' itu tampaknya membuat Ia lupa kalau tubuhnya menggigil kedinginan. Rokok  garfield 1, rokok  garfield 1, rokok  garfield 1.. Runa bergumam pada dirinya sendiri. Seolah melupakan pesanan sang ayah adalah dosa besar baginya. Runa tahu betul bahwa kesalahan berarti hukuman baginya. Sementara pikirannya yang ...