TTA (bagian #1)
Aaah! Keterlaluan sekali mereka!. Kalau kata A Rafiq dalam lagunya: 'sungguh kau tak pandai menimbang rasa..!' Malam itu kudapati ibu teremenung sendu di pojokan dapur. Bukan. Bukan sendu atas kebandelan kayu bakar semi basah yang tak kunjung terbakar di tungku. Tak pantas juga merenungi harga sembako yang memang semakin menggila akhir-akhir ini. Apa mau dibuat? Harga naik gak naik, tetap saja.. susah. Kutarik kursi kayu kecil dekat gentong air. Mengusap debu tak tampak satu dua kali, sekedarnya. Duduk sedekat mungkin dengan tungku, dekat ibu. "Kenapa lagi, Bu?" Ekspresi itu sudah berulang kali kulihat. Beban super berat seolah sedang menggelayuti pipinya yang sudah mulai keriput dan kempot disana-sini. Muram. Beberapa kali hanya terdengar desahan nafas berat diantara gemeretuk bunyi ranting yang mulai terbakar. Sesekali beliau tersenyum getir, untuk dirinya sendiri. "Ibu salah ya? heh.." sekali lagi senyumnya tersungging. Pandangannya tak ber...