Posts

Showing posts with the label Sepotong Episod

Mahar 35 Jt?

..35 juta rupiah dibayar tunai!" . . . . . . . . Sah? Alhamdulillaah Bukan mahar, kok. Tenang ya. Kamu masih punya kesempatan *apadeh. Yang di atas itu akad bayar hutang dari seorang klien yang.. subhanallah, nagihnya butuh kesabaran dan pengertian.  Kok perlu pengertian segala? Bayar hutang ya bayar aja kali? Iya, soalnya kita sama-sama saling membutuhkan. Alhamdulillaah ada rezekinya temen-temen.. Kerja di sini itu emang banyaaaak banget saya belajarnya. Belajar psikologi manusia iya, memahami karakter karyawan iya, ngulik angka-angka yang bikin mata keriting iya, sampai ngurusin preman-yang-entah-datang-darimana  yang maen malak seenaknya aja, juga iya. Susah sih. Capek sih. Greget gemes pengen nguwel-nguwel juga sih, kadang. Tapi kok .. seru gitu ya ngadepinnya. Haha. I enjoyed it so much somehow. Makin susah, makin seru. Makin ditantang makin ingin mengejar.  Saya masih inget waktu serombongan laki-laki (kalau ng...

My Ring, My Savior

"Erna, cincinnya bagus. Cocok sekali." Seru Hoca di sela-sela bimbingan siang itu. Saya celingukan sendiri sementara alis naik turun, bingung. Cincin ? "O.. oh ini.." tukas saya kikuk begitu menyadari arah tatapan beliau. Sebuah lingkaran perak bermotif dedauan tersemat di jari tengah. Hoca menatap dengan seksama ketika saya mengangkat tangan dan merentangkan jemari kanan. Sinar matahari yang masuk melalui jendela membuat batu-batu kecil di sekelilingnya tampak menyilaukan. Jika saja ia tidak bertanya, saya sendiri tidak ingat telah memakainya tadi sebelum berangkat ke kampus. "It fits you well," tambahnya lagi seraya menyungging senyum, tulus. " Tesekkur ederim ." Saya sedang akan kembali ke tempat duduk di sebrang meja ketika beliau bertanya tentang alasan saya memakainya. Maklum saja, di Turki, memakai cincin bagi seorang perempuan bukanlah perihal sepele. Ia memberikan arti mendalam. Berbeda dengan Indonesia yang siapapun bisa memaka...

Salam dari Balon

"Assalamu'alaikum.." "Betul ini dengan Mba Erna?" Kali ke sekian pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Plus ninety . Kode negara Turki, kan? Tapi siapa? "Wa'alaykumussalam. Iya, ada yang bisa dibantu?" +90xxxxxxxxxx is typing.. ... Lalu, entah bagaimana ceritanya malam itu aku begitu sibuk mengacak-acak seisi lemari. Mengeluarkan habis barang dari koper mungil berwarna coklat. Menatap silih berganti tas punggung di atas kasur, hitam atau  kuning? "Teteh mau kemana sih, kok nggak ajak-ajak kita?" "Iya. Giliran kita mau ujian aja, malah pergi. Teteh mah gitu orangnya.." Hanya empat hari. Semoga saja tiga setel baju akan cukup untuk bekal perjalanan. Dan karena ini belum masuk musim dingin, seharusnya cuaca di sana akan baik-baik saja. Kutumpuk jaket di atas koper yang telah terkunci. Meletakkan tas kuning loreng tepat di sampingnya, di kursi.   Wajah-wajah itu masih tertekuk masam. Jika bukan karena ujian tengah ...

Klakson

Kujejalkan ponsel ke saku terdepan tas. Bosan juga lama-lama. Lelah. Biarlah aku menikmati sisa perjalanan ini. Lampu-lampu temaram sepanjang jalan tertegun sendu diantara sepoi musim panas. Suara decitan ban yang di rem, klakson yang sesekali bersahutan, nada mesin pemindai kartu penumpang, hentakan sepatu hak tinggi gadis berambut pirang.. Ah, sungguh harmoni malam yang terlalu indah untuk dilewatkan. Kini mobil yang kutumpangi menikung perlahan di belokan. Kilauan sinar kuning menyorot tajam dari arah sebalikan. Bis besar lain rupanya sedang menunggu di seberang, memastikan keduanya bisa berbagi ruang membelah jalanan malam. Pak supir membunyikan klakson sekali, tanda sapaan yang disambut dengan bunyi klakson dari bis lainnya. Halo, selamat bertugas ! Hai, semangat bertugas juga untukmu ! begitu mungkin kiranya pesan yang ingin mereka sampaikan. Mereka memacu gas lebih kencang sekarang. Saling menghilangkan satu sama lain menuju hening malam. Tapi senyum itu, masih saja tergurat...