Kapan Nikah, Er?


"Kenapa belum nikah?"

"Kapan nikah?"

"Ditunggu ya undangannya?"

z
.
z
.
zzz..


Cung yang sering dapat pertanyaan batman super menyebalkan seperti itu?

Biasanya sih, beberapa kawan perempuan seusia saya kerap kali tjurhat pajang kali lebar dan tinggi kalau udah nyinggung masalah beginian. Hihi. Maklum, sensitif. Adek-adek yang masih imut dan ngaku polos tapi senyam-senyum sendiri baca tulisan ini, nanti kalian akan paham kok perasaan yang saya maksudkan.

Kamu sebel ya, Er, kalau ditanya begituan?

Generally asking, mahasiswa tingkat akhir mana sih yang happy ditodong pertanyaan 'Kapan sidang?Kapan wisuda?' saat kebanyakan kawan seangkatannya udah banyak yang lulus dan bekerja?

Belum lulus bukan berarti you do nothing, kan? Unless you really mean to act such way. Tapi saya yakin sih enggak. Minimal karena perasaan malu, kamu bakal diam-diam berusaha lebih keras, bukan? Nge-lab lebih serius. Baca referensi lebih banyak. Begadang lebih sering. Dan bersujud lebih panjang di sepertiga malam.
Menyusun strategi bagaimana caranya nggak kena SPP semester tambahan. Terus dan terus berpikir, meski kadang kalau ketemu adek tingkat atau dospem sok-sok ketawa tegar cengengesan as if you are ok and just fine. Padahal mah pengen teriak luar dalam. Bener apa bener ๐Ÿ˜†? Ngenes banget ya jadi mahasiswa tingkat akhir ๐Ÿ˜‚.

Jadi, kamu sebel ya, Er?

Again, truthfully wondering, istri mana sih yang otomatis memasang wajah sumringah bahagia diberondong ujaran 'Kapan punya anak? Udah positif belum? Udah lama nikah kok belum punya momongan, Jeng? Nggak usah ditunda-tunda lah' ketika perempuan lain dengan umur pernikahan yang hampir sama telah diamanahi satu, dua atau bahkan tiga orang buah hati yang lucu-lucu nan menggemaskan.

Itu kalau pertanyaan-pertanyaan di atas adalah beberapa baris skenario dalam sinetron, dengan asumsi saya sebagai salah satu pemeran emak-emak antagonisnya *yakali*, pengen banget teriak
'Oy mak! Emang sape nyang nunda-nunda? Mak-nya pikir saya dan suami kagak ikhtiar ape? Dikira bikin anak segampang goreng cilor?; aduk, goreng, langsung jadi? Istigfar Mak. Istigfar.. #terlalu menjiwai peran.

Ini para mahmud tahu nggak sih, kalau temen-temen yang sering kamu kasih pertanyaan di atas itu ikhtiar dunianya sudah jauh luar biasa? Dokter A sampai Z ditanya, pola makan pola hidup dijaga segitu ketatnya, anak-anak yatim disantun dipeliharanya. Tahu nggak?

Buibu juga tahu nggak, kalau para-pendamba-keturunan yang suka buibu ejek ketawain plus ghibah-in itu tak pernah lepas doanya di waktu-waktu mustajab kepada sang Maha Rahman? Mengharap belas kasih Allah  untuk mengaruniai mereka seorang anak? Nggak usah banyak, satuuu aja.
Mak-nya nggak tahu, kan?

Buibu tahu nggak, kalau para calon ibu yang (secara tidak langsung) sering kalian bully lewat pertanyaan itu, rela menukar semua perbendaharaan dunia dengan anak-anak yang kerap kali kalian siksa karena 'kenakalan'-nya? Nggak tahu kan?

Makanya, punya mulut itu jangan usil *galak amat, Er.

Nggak kok, Mba Erna, kita mah nggak ngejek, cuma kesian aja, ye?
Kalau maksud buibu mengasihani saudara itu sama dengan meng-ghibah mereka, mohon maaf, otak saya nggak nyampe kesono. Kecuali tebakan saya benar, kalau kita hidup di alam berbeda; alam usil dan non-usil ๐Ÿ˜‚.

Perempuan (re: jiwa ibu) yang normal itu, dimana-mana fitrahnya sama, suka anak kecil. Pasti berharap punya anak dan cenderung berikhtiar ke arah sana. Jadi, kalau reuni atau temu keluarga besar nanti, plis, pertanyaan retorisnya nggak perlu diulang-ulang ya. Kalau dia lahiran mah pasti dikabar-kabar kok. Siapin aja kado baby terbaiknya ๐Ÿ˜.


Berarti kamu sebel dong, Er, kalau ditanya begitu?




Ceritanya hadiah perpisahan; dikasihnya kapan, bukanya kapan.
Makasih banyak ya shalihah @Zzzzzz

Hmm..
Honestly speaking, yes I do. Saya sebel. Atau mungkin bukan sebel ya, lebih ke arah merasa.. apa ya.. terintimidasi (?).
Seolah setiap ada yang bertanya tentang itu, saya harus sesegera mungkin melakukannya. Hari ini, jam ini, saat ini juga!

Bukan intimidasi, Er. Kita itu peduli, kasian.

Lagi, kalau maksud buibu peduli itu sama dengan ngetawain plus mencibir, sepertinya kita harus suit jepang nih untuk memutuskan siapa yang masuk ke alam usil atau non usil. Peduli itu dengan aksi ya buibu.. bantuin nyari calon, bantuin ta'aruf, bantuin kenalin, bantuin doain. Bukan bully-in ๐Ÿ˜‚.

Eh aku udah tawarin temenku bantuan cariin calon loh Mba, tapi nggak jadi juga tuh, ndak ngerti dia maunya orang yang kaya gimana. 

๐Ÿ™ˆ
๐Ÿ™ˆ
๐Ÿ™ˆ   

Buibu, nyari calon suami itu nggak kayak beli cilok. Gapapa beli sisa penghabisan yang penyok, peot dan nggak berisi daripada nggak dapet sama sekali dan abangnya keburu pulang. Bukan itu.

Bukan seperti milih kucing dalam karung juga, hompimpah bimsalabim abrakadabra. Tidak sesederhana ini. Tapi harus dipilih baik-baik.
Betul kita tidak boleh menunda, tapi juga tidak tergesa-gesa. Yang penting ikhtiar ke arah sana sudah dan terus ada.

Kalau belum menikah juga?
Ya berarti memang belum sampai pada waktunya. Sidang nggak akan sidang kalau belum saatnya sidang. Punya anak nggak punya anak kalau belum tiba saatnya punya anak. Nikah juga sama, nggak akan dikasih rezeki nikah, kalau menurut Allah belum tiba masanya. Jadi, tetap kalem dan khusnudzan saja ya, bujanghidin dan bujangwati ๐Ÿ˜Š

Sebagai seorang perempuan, ngomongin masalah beginian emang lebih sering bikin baper/galau sih. Ya itu wajar dan sah-sah aja. Nah tapi, kadang saya suka agak resah-resah gelisah gimana gitu kalau ada perempuan (khususnya ahheuwatt) yang bawa-bawa galaunya ini ke media sosial, kapipeis tulisan orang, share status sana sini! And I was like.. ๐Ÿ˜ถ ๐Ÿ˜ถ ๐Ÿ˜ถ
Subhanallah, dimana letak izzah (kemuliaan) mu, ya shalihah?

Apakah sajadahmu tak cukup besar untuk menampung segala gundah? Tidakkah tilawahmu cukup menjadi obat atas segala resah? Dan khalwat-khalwat khusyu-mu dengan Ar Rahiim, tidakkah membuatmu yakin dengan janji-Nya?:


ูˆَุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชُ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจِูŠู†َ ูˆَุงู„ุทَّูŠِّุจُูˆู†َ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ ...
dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)  



Ah elah Mba, sok ngomong-ngomong izzah, foto sampeyan aja masih nampang dimana-mana.

Betul. Saya juga tidak meng-klaim diri sebagai pribadi paling benar dan lebih baik dari Mbak-nya. Makanya kita saling mengingatkan ya, semoga jadi bahan tadzkiroh (reminder) bersama; kau, aku, dan sepucuk daun merah.



Jadi, kapan nikah, Er?
Di waktu yang tepat (menurut Allah) ๐Ÿ˜Š.

Kalau minat, nanti Oolers saya undang juga inshaAllah ๐Ÿ˜‚



As always, salam cinta dari saya,
Pengamat Kehidupan.




Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Wanita Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'