Cerpen: SEIRIS PRASANGKA (extended version)


Puan önemli değil, geçer önemli.
Nilai tidak penting, lulus yang penting.

Yes! Ujian akhir semester dua benar-benar rampung juga akhirnya. Lega sekali. Seolah berhasil mengangkat batu super besar dari kepala. Selesai ujian dan lulus. Apalagi kado terindah bagi mahasiswa selain ‘ujian selesai dan lulus’? Alhamdulillah, anggap saja ini sebagai berkah menjelang Ramadhan di negeri orang, batinku haru. 
Seperti yang telah direncanakan jauh-jauh dulu, hari ini kami—aku, Alona dan Shafya—akan belanja ke pasar harian di kawasan Cankaya-Konak. Menghadiahi diri atas perjuangan panjang menempuh ujian; belanja ala wanita. Sejujurnya tubuhku lelah sekali. Badan rasa remuk redam tak karuan. Sejak tiga hari terakhir aku dan beberapa kawan Indonesia lain disibukkan dengan agenda organisasi pelajar. Tapi apa daya? Janji telah terpatri, terutama kepada Shafya.
Ayolah, Fira. Ikut, yuk! Temani. Aku bosan sekali di asrama. Aku stres dengan semua ujian ini. You know that my department is the slooowest among others. And it makes me even more stress.” rajuknya, setengah mendesak. Aku tidak tahu sejak kapan Shafya punya ekspresi memelas yang begitu mengibakan. 
Siang itu kami susuri setiap inci toko di sepanjang jalan yang menghubungkan Cankaya dan Konak. Belasan gerai telah ramai sesak oleh pengunjung. Riuh rendah transaksi calon pembeli menjadi irama yang wajar. Bes lira! Bes lira! Lima lira! Lima lira! Teriak beberapa penjual, membuat suasana pasar semakin semarak.
Sesekali dengan pede kugantikan Alona memimpin jalan. Rasa-rasanya aku pun mulai hapal setiap sudut gang di sini. Saking seringnya ke pasar. Tidak selalu untuk belanja, mungkin sekadar nge-çay—ritual minum teh ala Turki—melepas penat seusai kelas. Windows shopping mengeja mode yang berganti setiap musim. Menyaksikan ratusan merpati mengepak sayap di balik bayangan Clock Tower Konak. Mencoba tempat wudhu dan merasakan sensasi shalat di mesjid berbeda. Atau hanya berbasa-basi dengan anak Suriah yang menjajakan tisu di pintu gerbang mesjid dan jalanan pasar. Percaya atau tidak, karena kebiasaan terakhir inilah, Shafya dan Alona menganggapku gadis ‘aneh’. 
Aren’t you afraid of them?” Bisik Alona saat mendapatiku mengacak rambut anak berusia 9.
Aku menggeleng. “Hayır. Çünkü sen bana daha korkunçsun! Tidak. Karena bagiku kau jauh lebih menyeramkan!” ulahku terbahak.
Mendekati Konak, Shafya mengajak kami menuju sebuah toko eşarp1 yang cukup bergengsi. Agak heran mendapati seorang Shafya, si gadis hemat, berani masuk ke tempat seperti ini. Diantara sekian toko yang berderet disana, setidaknya gerai itulah yang memiliki display fesyen paling wah. Tokonya saja sudah terlihat begitu mahal, bagaimana barang di dalamnya?
Dan benar saja. Eşarp yang kubeli seharga masing-masing 10TL2 dengan kualitas yang sama misalnya, disini dijual seharga 15 sampai 20TL! Padahal sudah termasuk diskon. Beruntung aku membelinya di toko pertama tadi.
Sementara Shafya bernegosiasi, kuamati sekeliling. Toko standar mahal memang beda. Disini aneka eşarp tertata lebih rapi dengan bandrol harga di setiap sudutnya. Kasir serta pramuniaga berseragam khusus bernada biru atau emas. Dan MashaAllah, semuanya berjilbab! Pemandangan yang begitu jarang ditemukan di ruang publik kota Izmir.
 Hey Fira, look at the ads!” Alona menunjuk papan putih lowongan kerja di etalase depan.
Bizimle calismak istermisiniz?
Ingin bekerja bersama kami?
Yeah, I saw it. Wanna give a try? I’ll ask them for you?
No, no, no. What do you think of me? I am not in a need.” Sergahnya salah tingkah sementara aku terpingkal geli.
Buradan cikalim mi, Fira? Keluar dari sini yuk, Fira?” tanyanya kemudian.
Bak, hepsi pahali burada. Ayni kalite ama cok pahali. Lihatlah, semuanya mahal disini. Kualitas sama tapi mahal sekali.” Tambahnya lagi. Meletakkan sembarang eşarp yang tadi disentuh. Aku mengangkat bahu, menunjuk arah Shafya dengan isyarat mata.
Berselang detik, kudapati Alona menarik-narik tangan Shafya memaksa keluar toko. “Terlalu mahal!” katanya. Beberapa penjaga perempuan tampak memerhatikan kelakuan kedua sahabat itu, membuatku ikut merasa tidak nyaman. Mereka bahkan sempat beradu mulut untuk beberapa saat. Alona dengan emosi yang meledak-ledak dan Shafya si perfeksionis yang begitu perasa. Berhitung dengan situasi, aku memilih diam. Toh mereka memang selalu begitu. Tapi harus kuakui bahwa kelakuan Alona kali ini sedikit keterlaluan.
Kunjungan Shafya ke toko itu berakhir dengan enam buah bros kecil berbentuk hati seharga 15TL. Terlalu mahal memang untuk ukuran bros yang begitu sederhana.
“Alona, aku tidak suka dengan sikapmu di toko barusan. Aku tahu betul barang-barang disana memang mahal. Tapi kau tidak seharusnya bersikap seperti itu.” sembur Shafya sesaat setelah kami menjauh dari toko.
Alona yang merasa telah berjasa menyelamatkan Shafya dari tempat mahal, tersinggung dan tidak terima diperlakukan demikian.  
Ben ne yaptim? Apa yang kulakukan? I just want to say that with the same quality you can buy cheaper things like Fira did in there. That’s it.
I know. But your body language, nada suara Shafya bergetar menahan amarah,
I really didn’t like it. People can see. And that was totally IMPOLITE. Shafya menekankan kalimat terakhirnya sebelum melanjutkan, 
Everyone has their own needs, Alona. And you, you don’t have any right to interrupt my needs! 
Whatever!” Alona menepiskan tangan ke udara. Berlalu tak peduli meninggalkan kami menuju Konak.
**
Malam harinya selepas isya.
Aku duduk menyandar ke dinding mushala asrama, meregangkan kaki dan dan punggung yang terasa lunglai. Shafya juga melakukan hal yang tak jauh beda, kecuali tentang menyandarkan punggung. Berjalan seharian di pasar telah menguras banyak tenaga. Kubuka mushaf berjilid merah jambu di pangkuan. Bersiap membacanya sebelum Shafya menyela.
Fira, can I ask you a favor? Pertanyaan yang tak segera kujawab.
“I need your suggestion. Ah! I don’t know what to do. I’m..“ wajahnya tampak sedih dan bingung. Seolah baru saja kalah dalam peperangan. Mungkinkah ada hubungannya dengan Alona? Mengingat semenjak insiden tadi siang Shafya tampak risau. Kututup kembali al qur’an. Mengangguk mengiyakan.
“Fira, kau tahu kalau aku bekerja pada seseorang di kawasan industri, kan?’ tanyanya meneliti. Oh, ternyata bukan tentang Alona.
Lagi, aku mengangguk pelan. Sejauh kuingat, memang sejak dua bulan lalu ia bekerja sebagai akuntan di kawasan industri. Keputusan nekat Shafya yang hingga kini masih menyisakan banyak tanya bagiku. Bagaimana tidak? Namanya kawasan industri, tentu saja akan lebih banyak pria yang bergelut disana. Bahkan seharusnya perempuan dilarang masuk, apalagi bekerja. Lingkungan ini tidak akan baik untuk kaum hawa. Terlebih disini Izmir, kota yang suka tidak suka, sekularitas masih melekat kental dimana-mana. Suasana yang sangat tidak mudah untuk dihadapi oleh muslim seperti kami. Kondisi yang memaksa Anna melepas jilbabnya secara penuh pada suatu hari.
“Sudah hampir dua minggu aku tidak masuk kerja lagi.” lanjutnya kemudian.
“Kenapa? Mereka memecatmu karena kau berjilbab?’ tanyaku penasaran. Bahkan Shafya rela membuka ‘sedikit’ hijabnya untuk bisa mengirim tambahan uang untuk keluarganya. Kenapa sekarang tiba-tiba berhenti bekerja?
Wajah itu semakin muram. 
“Bukan. Ini keputusanku. Aku yang memilih untuk berhenti bekerja dari sana.”
“Eh? Bukankah kau sedang perlu uang? Apa masalahnya? Tidak cocok dengan atasan?”
Shafya takjub, mungkin tebakanku benar. “Itulah kenapa aku ingin meminta pendapatmu.”
“Sebenarnya, bosku adalah orang yang baik, Fira. Sangat baik malah. Tapi, entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini dia bersikap aneh. Sering menggoda dengan cara terselubung. SMS, telepon, ini lah itu lah. Seperti terkesan ingin menjalin hubungan denganku. Aku tidak suka. Rasanya sangat tidak nyaman.”
“Dan.. hal yang paling membuatku lebih tidak nyaman adalah, dia lelaki yang sudah berkeluarga.”
Kutatap Shafya tak percaya. Bagaimana bisa?
Ya, mungkin dia melihatku sebagai perempuan muslim yang taat dan dia menyukainya. Mungkin ia suka dengan cara kerjaku yang cekatan dan rapi. Atau mungkin karena.. Ah, entahlah Fira. Aku tidak tahu pasti mengapa dia tertarik padaku.” tuturnya frustasi.
“Kau bilang kalau sudah bertunangan?” betapa aku berharap bahwa pertanyaan ini adalah solusi yang sempat terlupakan olehnya.  
Shafya mengangguk. “Dan kau tahu apa yang dia katakan? Uhh! Aku jijik sekali mengatakannya.” Aku melipat dahi, menunggu.
“Dia bilang, tidak masalah walaupun aku telah bertunangan. Kami tetap bisa melakukan hal lain yang.. Ah sudahlah, Fira!”
“Hal lain yang..?” desakku, masih memandang Shafya dengan ekspresi yang sama.
“Hal lain seperti.. ci..” menghela napas, tidak yakin apakah harus menyebutkan kata terakhir atau tidak.
“Ciuman.
Astagfirullahaladzim! lirihku spontan, menutup kedua telapak ke wajah, saking malunya. Ya Allah.. tubuhku seperti disambar petir rasanya. Jiwaku meringis mendengar kata terakhir yang dituturkan Shafya.
Ini Izmir, aku tahu betul, bagaimana gaya ‘bercinta’ mereka yang begitu tidak tahu adab. Di bis umum, subway, kereta, vapur3 bahkan jalanan umum dan depan gerbang asrama sekalipun, mereka tidak enggan untuk bermesra ria. Miris sekali menyaksikan bagaimana gadis-gadis itu bersedia dibegini-begitukan sedemikian rupa oleh lelaki yang mungkin baru dikenalnya kemarin sore. Sudi berkali-kali mematut kemeja dan rambut yang kusut kacau tak karuan. Turun dari kendaraan dan berpisah dengan pujaan hati butanya seolah tak ada hal aneh terjadi. Tidak peduli dengan nyinyir keberatan orang sekitar.
Kuturunkan tangan perlahan. Dari sudut mata kuamati air muka Shafya yang begitu terpukul. Tertunduk sedih penuh sesal, seolah ia adalah perempuan paling bodoh di dunia ini. Pemandangan yang sangat menyebalkan.
“Laki-laki gila!” semburku murka. Tangan yang tadi lemas tak berdaya kini terkepal keras luar biasa.
Kau mau mendengar saranku, Shafya? Berhenti sekarang juga. Dan jangan kembali lagi kesana. Jangan pernah!”
Sunggingan senyum tipis terukir di mulutnya, sinis. “Itu juga yang dikatakan Ali Amca4. Kau tahu, dia adalah orang yang paling dihormati di kawasan industri. Dia yang sangat baik mengundangku untuk makan bersama keluarganya dan memberiku begitu banyak buah-buahan. Ingat?”
Aku tidak pernah bertemu langsung dengan Ali Amca ini. Tapi mungkin aku mengenalnya dari ingatan akan sekantong besar buah aprikot dan apel yang dibawa Shafya tempo hari.
“Dia berbeda dengan bosku, Fira. Ali Amca adalah orang yang sangat baik. Menunjukkanku letak masjid untuk shalat, tempat wudhu khusus wanita, mengingatkan untuk tidak pulang terlalu malam dan sebagainya. Ia menganggapku seperti anaknya sendiri. Dan karena beliau memiliki dua orang anak perempuan, maka dia pun marah saat kuceritakan hal ini kepadanya.”
“Dia bilang, jangankan kehilangan anak perempuan, tidak pulang sehari saja, rasanya sakit luar biasa. Aku seperti menemukan sosok almarhum ayah dalam dirinya. Jika ada lelaki di dunia ini yang tidak ingin hal buruk terjadi padaku, kurasa dialahlah orangnya.”
Kuukir senyum simpul. “Aku pun tidak ingin ada sesuatu hal buruk terjadi padamu, Shafya.’
Ia kembali melanjutkan. “Saat kusampaikan bahwa satu-satunya alasan tetap bekerja disana adalah uang, Ali Amca memberiku 500TL dengan syarat aku berjanji tidak akan bekerja disana lagi.”
 “Ia juga bilang akan membantu mencarikan pekerjaan. Tapi sampai saat ini tidak ada kabar yang datang, Fir. Sementara bos terus menelpon dan mengirim pesan memintaku kembali bekerja. Aku butuh uang Fira, tapi aku telah berjanji pada Ali Amca untuk tidak kembali kesana.” Raung Shafya kemudian. Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Untuk beberapa saat yang tak terhitung, kami hanya terduduk dalam hening. Desau angin malam sibuk berhilir mudik diluar jendela mushala. Ditingkahi satu dua lolongan anjing penjaga asrama.   
Hmm.. mungkin kau bisa mencoba mencari pekerjaan lain, Shafya?” tanyaku hati-hati. Tak ingin terdengar sok menasihati ataupun terkesan menyepelekan masalahnya. Gadis dalam balutan kerudung biru itu menghela napas panjang.
“Fira, kau tahu mencari pekerjaan disini sangat tidak gampang, bukan? Terlebih bagi kita yang berjilbab. Industri ini adalah termasuk yang paling baik karena masih mengizinkanku memakai jilbab meski harus membuka bagian leher. Itulah kenapa aku dilema. Sungguh, aku tidak ingin kembali kesana, Fir. Tapi.. aku butuh uang.”
Hening lagi. Hanya helaan napas kami yang terdengar silih berganti. Beberapa pikiran ringan berkelebat dalam kepala. Kuputar rekaman ingatan tentang kesempatan kerja di Izmir. Melamar jadi pengajar les, jilbab taruhannya. Bekerja di kawasan industri diantara para lelaki, jauh lebih buruk lagi resikonya. Jadi loper koran, ini bukan Jerman yang mengizinkan semua orang bisa bekerja part time. Shafya butuh bekerja di tempat yang ramah, tanpa perlu membuka jilbab. Tapi kerja apa, dimana?
“Hey, Shafya!” Pekikku tiba-tiba. Menyadarkan ia dari lamunan kelamnya.
“Kau ingat toko pashmina yang kita masuki di pasar tadi, kan? Yang menurut Alona sangat mahal sekali itu?” Shafya mengangguk mantap.
“Di depan etalase tertulis iklanbizimle calismak istermisiniz?; Mau bekerja dengan kami?’ lihat tidak? Bagaimana kalau kau coba melamar kesana?” tanyaku antusias, tetiba bersemangat. Tapi rupanya tanggapan Shafya diluar ekspektasiku.
“Ya, aku melihatnya. Itulah kenapa aku tetap masuk ke toko meski tahu barang disana sangat mahal.”
Apa??
Heh! Bahkan kusempatkan membeli bros murahan dari mereka.” Shafya tersenyum getir.
 Sayangnya, mereka tidak menerima orang asing sebagai pekerja, Fira. Dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana..”
Jadi bros itu..?
Punggungku terlunglai lemas sekarang. Disana, malam itu, ada rasa dingin aneh menyergap tubuhku. Bersamaan dengan rasa sakit menyayat-nyayat yang begitu luar biasa di dada. 

Ilustrasi cerpen 'Seiris Prasangka'
(koran Republika Minggu 18 Desember 2016)

“Everyone has their own needs, Alona. And you, you don’t have any right to interrupt my needs! 
Apakah kau tau tentang ini, Alona?

***

1 Turki: pashmina
2 Turkish Lira, satuan mata uang Turki (1TL ± Rp 4.200,- realtime currency)
3 Turki: feri berukuran sedang untuk transportasi laut jarak dekat
4 Turki: amca (paman)

---

Disklaimer: Cerpen dinominasikan sebagai juara 3 kompetisi cerpen Bilik Sastra Luar Negeri dari VOI RRI 2016. Naskah aslinya hanya empat (4) halaman. Khusus untuk blog, sengaja saya buat versi panjangnya supaya lebih menggambarkan latar suasana cerita.

Kira-kira kalau saya buat lebih extend lagi dalam versi novel, pada berminat baca nggak yaa? *krik

Anyway, happy re-reading 😉😍


@Tornzzzz.. nih, hadiah sidangnya 😆.
Sekali lagi, barakallahu fii ilmy yaa. Welcome to the real jungle 😂😂! *Beresin SKL dulu jan lupa

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Wanita Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'