Islamophobia in Turkey?


ADA yang janggal dengan tatapan Esra Hoca siang hari itu.

"Erna, setelah ini, jangan sekali-kali lagi pakai jilbab hitam ya. Hic yakismis degil sana*." Akhirnya beliau buka suara. Saya yang masih terduduk bingung gantian menatap Tugba Hoca yang turut mengamini perkataan Esra Hoca barusan. Tumben sekali duo hoca ini kompak mengomentari gaya berbusana saya, bukan dalam konteks memuji seperti biasa tapi justru sebaliknya.

"Kenapa memangnya, Hocam? Saya kelihatan sekecil itukah dengan jilbab hitam?" Saya ingat teman kamar pernah protes ketika saya mengenakan gamis berwarna hitam karena jadi kelihatan kecil, kaya batang. Bukan batang lagi, lidi mungkin. Udah kurus, kecil pake baju item juga. Tambah nggak keliatan.

Beliau menggeleng. "E-emh. Kamu kelihatan kaya.. orang islam radikal,"


Sumber gambar di sini


.. Wha... What? Say it again? Kepala saya berasa dipukul palu godam seketika. Berharap salah dengar atau bahasa Turki saya lagi eror jadi ngaco ngartiin perkataan hoca barusan.

"Dan karena kami tahu kamu bukan orang islam yang radikal, makanya kami mau kamu nggak pakai jilbab hitam lagi setelah ini, canim."

.......

"... begitukah?" cicit saya pelan; antara sedih dan awkward. Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Terlalu banyak pikiran yang berkelebat dalam kepala. Pasalnya, hampir empat tahun saya tinggal di Izmir, berkeliling Turki dengan jilbab yang bagi sebagian orang mungkin tampak lebar. Tapi tidak pernah ada masalah sedikit pun. Kecuali di awal kedatangan ke Izmir dulu, sempat 'diolok-olok' seorang kakek atheis 'Ngapain kamu pake tutup kepala? Kasian itu kepala nggak dapet vitamin D sinar matahari' which was.. saya anggap itu pertanyaan nyeleneh yang tak perlu didebat. Kisah saya ini masih belum seberapa. Seorang Indonesia, dulu sekali, malah pernah ada yang diteriakin 'ter*ris' di gerbong busway sama salah satu penumpang. Mana beliau bawa anak-anak kecil yang semuanya berjilbab pula, kontan lah menarik perhatian semua orang di gerbong. Sampai-sampai tasnya digeledah petugas saking disangka bawa bahan peledak.

Saya pikir, Izmir sekarang sudah jauh lebih baik dari enam tahun lalu. Tidak meradang meski sekulerisme masih kental terasa dimana-mana. Buktinya, belakangan ini saya melihat satu dua gadis berbusana hitam-hitam (dan bahkan bercadar!) bebas keluar masuk kampus. Di jalan-jalan, alun-alun dan pasar sering juga saya jumpai yang demikian. Tidak ada masalah. Tapi rupanya saya salah duga.  Dan hari itu, lukisan besar Ataturk yang terpampang gagah di belakang punggung Esra Hoca seolah menyadarkan saya akan sesuatu -- saya terlalu polos.

"Kamu nggak pernah pakai jilbab hitam sama sekali kan di sini? Kami tidak pernah melihatnya juga. Makanya kami sedikit kaget begitu melihatmu masuk ruangan tadi. Please, warna apa saja, Erna, asal jangan hitam." sengaja memberi tekanan di intonasi terakhir.

Jiwa saya berontak, tapi logika dan situasi siang itu meminta saya mengangguk pelan. Mereka, hoca-hoca yang telah membimbing saya bertahun-tahun, bersikap baik, mengizinkan (re: nggak protes) saya berjilbab, mengajak berbuka shaum, makan bersama, berteman baik seperti keluarga, sebegitu 'benci' kah dengan jilbab hitam? Memang apa yang salah dengan berjilbab? Memutuskan untuk berhijab tertutup, bercadar, itu kan hak setiap orang. Toh mereka tidak akan serta merta membahayakan kita hanya karena mengubah gaya berpakaiannya.

Tapi di sisi lain, saya juga nggak mau men-judge hoca dengan prasangka sepihak. Ya secara, bagi orang-orang yang hidup di lingkungan sekuler, bekerja dengan orang-orang pengagung sekulerisme, menerima mahasiswa muslim yang taat (aamiin) dan berjilbab kaya saya pastinya bukan sesuatu yang gampang. Bikin gerah kali, panas. Maka, dengan sedikit akal sehat dan bonus hak keadilan yang masih tersisa, saya beranikan untuk bertanya.

"Memangnya kenapa dengan jilbab hitam, Hocam? Kenapa kalian tidak menyukainya?"

"Karena sebelum berjilbab dilarang oleh Ataturk, perempuan yang zaman dulu berbusana hitam dan bercadar," tangannya melayang-layang di udara, memperagakan kain penutup wajah, "adalah orang-orang radikal." Ada aroma kengerian yang saya tangkap dari perkataan barusan. Ngeri dalam konteks ketakutan yang tidak beralasan. Saya tidak tahu bagaimana sejarah asli Turki seratus tahun silam. Bagaimana Ataturk dan pendukungnya mem-frame peradaban Islam di masa Ustmani, saya kurang tahu. Tapi yang pasti, ada satu gap besar yang seolah tidak pernah tersampaikan atau sengaja ditutup-tutupi. Jika pun tidak, bisa jadi ada lubang kebenaran yang sengaja disembunyikan. Atau mungkin, dimanipulasi.

"Lalu kalau saya bersikeras memakai jilbab hitam?"

"Mmh.. Kamu akan jadi pusat perhatian terutama karena kau juga orang asing, disangka radikal, dan mereka tidak akan menyukainya. Tidak akan ada hal aneh terjadi padamu saya rasa, tapi.. gantilah. Tolong ganti."

Ooh.. tak kira bakal dilemparin batu atau tiba-tiba diserang di muka umum. Cuma diliatin toh? Haha. Pantesan waktu terakhir kali main ke mall saya berasa jadi pusat perhatian. Dikira karena terlalu cantik (#oekk!) ternyata karena pake jilbab item!😝. Antara senang dan sedih (#lah). Ya lagian kalaupun saya tetiba diserang karena alasan busana misalnya (naudzubillahi min dzalik) ya tinggal lapor aja sama Om Erdo. Selesai urusan. Tapi nggak akan ada yang berani juga sih kayanya. Kenapa? Karena kebebasan berpakaian di tempat umum dan lembaga formal (mau tertutup atau sexy sekalipun) sudah dijaminkan dalam himbauan PM bertahun-tahun silam (yang berujung pada pencabutan 'hijab banned' di Turki). Nah apalagi ini kalau diskriminasinya pada mahasiswa asing yang datang dengan beasiswa pemerintah, bisa berabe urusan.
Intinya, Er, kamu nggak akan di apa-apain. Asal bisa sabar aja nahan ketidaksukaan dari orang-orang yang sebel sama jilbab hitam. #dan tetiba inget Endah #maaf random #abaikan.

" Lagi pula, musim panas begini kenapa harus pakai jilbab hitam? Nggak panas?" tanya hoca kemudian. Nah, kalau ini masuk akal; panas dan anti hitam. Tapi kalau hijab hitam dengan radikalisme? Maaf, otak saya tidak cukup pintar untuk menghubungkan keduanya. Kecuali jika letak masalahnya berada pada paranoisme tadi.   

Sebenarnya sih, misal nih, katakanlah karena kisah kelam masa lalu, di dunia ini banyak orang yang parno sama muslimah berhijab hitam. Lalu atas dalih demi menjamin rasa keamanan dan tegaknya perdamaian dunia, busana hitam harus dilarang, saya mungkin nggak akan berontak. Alias ya hayu-hayu aja mau berdamai. Gapapa jubah/ khimar diganti dominan abu-abu atau coklat, biru dongker atau ijo army misalnya. Kan seru, hihi. Toh berganti warna baju nggak akan mengurangi militansi kita kok. Siapa tahu gerakan baju coklat atau biru dongker ini nanti malah lebih dahsyat daripada si ninja baju hitam, kan?

Tapi.. pasti deh.. kita ganti busana jadi warna putih sekalipun, orang munafik dan kafir tetep nggak bakal suka kok. Nggak akan bisa diajak damai. Orang yang aslinya memang udah benci dengan nilai-nilai islam mah, berganti jadi apapun kulit kita, mesti tetep parno dan nyari-nyari kesalahan. Bikin segala macam cara agar nilai-nilai islam terjauhkan dari pemeluknya. So, what's the point of following their wishes? Buat apa? Just be you. Be the real muslimah and your job is done :).

Jadi bagaimana dengan ocehan hoca barusan? Sya dengarkan kok, saya turuti dan saya anggap sebagai nasihat ibu dosen yang sayang kepada bimbingannya. Terima kasih karena telah peduli, terima kasih karena tidak langsung mengusir saya keluar ruangan tadi πŸ˜‚πŸ˜‚. Besok-besok saya bimbingannya pake jilbab coklat kopi atau ijo lumut aja ya, Ca.

**

FYI, hari itu saya masih baik pake baju biru loh padahal, haha. Cuma ya emang dasarnya harus belajar satu hal, jadi ngalamin juga dibegitukan di Izmir. Mohon dicatat ya sodara-sodara, Izmir loh, bukan Turki. Di kota-kota lain inshaAllah kamu bisa tetap bertebaran bahkan dengan cadar sesuka hati. Kalau di sini, kalau kamu belum siap dianggap 'beda', saya sarankan jilbab itemnya disimpen dulu aja rapi-rapi ya. Kalau saya pribadi lebih khusus karena menjaga perasaan hoca aja sih, berhubung kenal dan barangkali mereka memang parno beneran. Padahal rencananya pas sidang nanti saya mau pake jilbab hitam, eh ternyata. Untung aja dikasih tahu, kalau enggak.. habis nanti jilbabnya yang disidang πŸ˜‚πŸ˜‚. Ada-ada aja.

Kalau udah berhubungan sama hal-hal kaya gini, saya suka kontan inget prasangka-prasangka zaman kuliah dulu deh. Terutama liat kakak kelas yang beliau kuliah di luar negeri (semacam UK, USA, dll) terus jilbabnya lama-lama makin 'naik'. Padahal pas di kampus baheula mbaknya paling militan, paling lebar jilbabnya. Kok bisa setelah kuliah di luar malah jadi begitu? Salah pergaulan, nggak sholihah lagi, lagi khilaf, lupa sama esensi hijab, adalah salah empat dari sekian prasangka yang muncul saat itu. Heloo.. siapa kamu, Er? Berani men-judge orang yang bahkan kamu nggak kenal kondisi hidupnya? Berasa paling sholihah karena jilbabnya lebar? Sekarang, sedikit banyak saya bisa paham.

Terlepas dari apapun alasan sebenarnya, saya harus tetap berbaik sangka. Di Turki, di negara yang notabene mayoritas muslim aja, diskriminasi masih bisa terjadi. Bagaimana di negara liberal seperti Amerika? Prancis? Bukan sekedar 'rasa' yang dipertaruhkan, tapi bahkan nyawa! Who knows? Mereka yang berjilbab bisa diserang kapan dan dimana aja kan? And who will care? Nobody will. Meski berat, mungkin mengurangi 'ukuran' hijab adalah satu-satunya cara terbaik yang bisa dilakukan agar tidak terlalu menarik perhatian. Agar tidak diserang. Makanya, Er, jangan buruk sangka, karena bisa jadi saat kamu sibuk berprasangka, saudari-saudari kita justru sedang mati-matian melindungi 'nyawa' mereka.. 😭😭 #nts!

O, Allah.. please protect all muslimah wherever they are. Fulfill and strengthen their hearts with iman and love only to You. Indeed, you are the best savior, the best protector.

***              


Disclaimer: hoca saya nggak islamophobia kok, cuma hitamophobia πŸ˜œπŸ˜†


*Turki: sangat tidak cocok buat kamu
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'