Lailatul Qadar Penuh Kejutan


"Bu NN, kayanya tadi malam Lailatul Qadar deh."
Serengeh saya sembari membuka pintu balkon dapur. Pukul 11 waktu Turki, kesejukan embun tadi shubuh masih awet terasa.

"Eh iya nih, Na. Barusan banget saya bilang gitu juga ke Bu YJ. Adem ya dari pagi." Tukas bu NN semangat yang kusambut dengan anggukan setuju.

"Matahari bersinar tapi tidak terik," timpal Bu YJ mengamini dari balik pintu.

*

Takdir Allah, selalu saja indah dengan segala skenarioNya.

Ini adalah hari ketiga sejak kedatanganku ke Sakarya untuk program i'tikaf ramadhan 1437H. Jangan tanya, tentu saja di Turki tidak ada budaya i'tikaf untuk perempuan. Tapi dengan berkat kelihaian dan lobi (biidznillah tentunya =P) perkumpulan pelajar Indonesia di kota tetangga Istanbul ini, akses i'tikaf bisa terwujud. Meski memang aksesny masih terbatas bagi kaum hawa. Kami hanya diizinkan berada di mesjid antara rentang waktu bada subuh hingga tarawih usai. Not bad. Segini juga Alhamdulillah :). Selebihnya, i'tikaf kami lanjutkan di rumah a.k.a masak nyiapin makanan sahur dan iftar untuk kelompok putera.

"Bu YJ, boleh nggak kalau pas malam ke-27 kita nggak piket masak sahur? Kita i'tikaf aja di mesjid." Canda DA di sela piket iftar malam 25.

"Wah.. ide bagus tuh. Momennya pas." Tambahku mengiyakan, mengharap sinyal positif dari Bu YJ.

Khusus malam ke-27 ramadhan yang dinisbatkan sebagai Lailatul Qadr, mesjid besar di Turki umumnya membuk akses semalaman untuk ibadah baik laki-laki maupun perempuan. Meminta izin semalam apalagi untuk alasan ibadah harusnya tidak masalah.

Boleh juga ide DA. toh aku pun jauh-jauh ke Sakarya tidak lain adalah demi momen ini. Beribadah dengan khusyu dan nyaman di 10 malam terakhir. Selagi bisa, selagi sempat.

"Wah iya boleh tuh. Momennya pas!" Tambahku menggebu-gebu, mengharap sinyal positif dari Bu YJ selaku kepala tim masak. Tapi apa daya?

"DA i'tikaf saja nggak pa pa, biar saya yang nyiapkan makan. InshaAllah pahalanya juga besar." Tukas Bu YJ, sambil lanjut nguleni adonan bakso.

Jleb!

Tak ada lagi obrolan i'tikaf malam setelah itu.
Jalan jihad kami perempuan, berbeda. Ampuni kami Rabb, terimalah ibadah kami..

*

Malam 27..

(Pukul 19.30 waktu Turki, satu jam menjelang berbuka)

"Eh akhwat.. Kok belum pada mandi? Sebentar lagi kita harus ke mesjid loh nyiapin iftar."

Aku, SH dan DA saling melempar tatapan enggan dari kursi rebah. Tidak biasanya kami semalas ini. Aneh.
Ada apa dengan hari ini?

Menjelang Maghrib kami bergegas menuju mesjid. Setiba di basecamp i'tikaf betapa terkejutnya mendapati papan alas makanan masih kosong. Kiriman nasi dan daging belum datang dari donatur. Hingga adzan isya berkumandang yang ditunggu tidak kunjung tiba. Iftar (makan besar) harus ditunda.
Tumben banget makanan telat.
Ada apa sih dengan hari ini?

Rangkaian demi rangkaian peristiwa yang kualami bersama DA sejak tadi pagi benar-benar diluar jangkauan nalar manusia. Salah satunya balada rezeki berikut ini..
.

Sepulang i'tikaf siang tadi dari mesjid aku dan DA mendadak menjadi pengantar tamu tak dikenal. Seorang ibu usia 50an bersama dua orang anaknya jauh-jauh datang dari Sakarya Merkez demi bertemu Ust Nurhalim, menyampaikan 'amanah' katanya. Amanah rezeki yang membuat setiap orang berdecak kagum bertasbih atas kekuasaan Rabb semesta alam.
Allahu Akbar.

Menjelang pulang, sang ibu tampak keluar lagi dari sedan hitamnya. Terlari-lari dari sebrang jalan dan kembali menghampiri aku dan DA. Menyampaikan terima kasih seraya menyelipkan masing-masing selembar uang biru di tangan kami. "Helal olsun (halal halal)," gumamnya.

Untuk beberapa saat kami saling tatap sebelum akhirnya menerima uang 'sedekah' itu.

Alhamdulillah.. mungkin inilah yang Allah sebutkan sebagai "rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka"; uang kami, 'amanah' Ust Nurhalim. Orang asing yang tak dikenal, jauh-jauh datang dari Merkez, cuma pingin ketemu anak Ustadz yang kuliah di Imam Hatip dan kenalan dengan mereka (dengan ustadz nya juga)  dan begitu saja ngasih 'titipan'. Dan kami? Aku dan DA yang entah bagaimana ingin i'tikaf siang lalu ditakdirkan bertemu sang ibu di pintu mesjid, menunjukkan alamat rumah ustadz dan menjadi penerjemah dadakan lalu berakhir dengan lembaran uang dan sebaris no telepon.

Ada apa dengan hari ini?

.

Tepat jam 00.35 dini hari malam ke-27 ramadhan.

Alhamdulillah.. 23 rakaat tarawih dan empat shalat tasbih baru saja usai. Nikmaaatt sekali rasanya. Untuk pertama kali aku merasakan sensasi Lailatul Qadar yang begitu luar biasa. Chemistry nya dapat sekali! Tiga lantai mesjid banjir dengan jamaah; tua muda bahkan kakek nenek usia 60an pun turut ambil bagian. Allahu Akbar! Lantunan doa, shalawat dan dzikir, isak tangis tak henti-hentinya memenuhi ruangan.

Sungguh malam ini adalah bagiMu, Rabb. Ampuni, berkahi, terimalah ibadah-ibadah kami.

Subhanallah,
walhamdulillah,
wa laa ilaaha illallahu,
allahu akbar.
Wa laa hawla walaa quwwata illa billah.

Allahumma innaka afuwwun tuhibbul afwa fa'fu anna.

.

Selepas shalat, Ustadz memberi isyarat kepada kami untuk menyiapkan iftar yang tertunda. Nasi telah tiba.

Pukul 01.30 dini hari. Disana, di ruangan tempat biasa kursus Qur'an digelar, puluhan nampan telah dihampar. Kami berkumpul diantara waktu iftar dan sahur. Terima kasih untuk fisik yang masih kuat, terima kasih untuk perut yang rela bersabar.

Ya Allah sungguh, jauh jauh kemarin, aku dan DA telah ikhlas 'melepas' Lailatul Qadar di mesjid. Kami ridho dengan piket masak sahur. Tapi rencanaMu memang selalu yang terbaik, Rabb. Tidak ada piket sahur hari ini :").

Salaam.. hiya hattamath la'il fajr (Al Qadr: 5).


Korucuk Cami, Sakarya
27 Ramadhan 1437

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki