Menulis, Sarana Terapi Hati


Ada yang lagi kesal, seperti saya malam ini?
Atau sakit hati, kaya saya tiga hari lalu?
Atau justru sedang berbunga-bunga? Semoga saja opsi terakhir ini yang sedang kalian alami, ya. Hehe..

Cukup saya aja yang sebel u.u
Kesal sama diri sendiri.
Untung masih punya lapak pribadi ini. Lumayan buat nampung orat-oret hati daripada berceceran sembarangan. Tul nggak?

Ya, beginilah cara efektif menangani 'urusan perasaan'. Bagi saya, menulis adalah sarana terapi hati. Kenapa? Karena dengan kebiasaan yang satu ini, saya cenderung lebih banyak merenung. Eits, bukan stres loh ya. Tapi merenung dalam arti menata kembali posisi hati, pikiran dan tentu saja emosi.  

Dulu, dulu sekali, setiap kali kesal atau marah sama seseorang, saya bakal cerita panjang lebar ke ibu. Aku kesal sama si X, dia nyebelin, sikapnya gak bisa diterima, pokoknya dia yang salah, blablabla lalala dan nanana. Atau pas lagi sedih misalnya, teman-teman dekat sudah otomatis akan jadi korban aneka keluhan saya. Merongrongi mereka dari pagi sampai malem sekedar untuk melepas makhluk bernama kesedihan dan kegalauan. Curhat lah kalau istilah gaul mah. Hasilnya? Beban hati berkurang sih, lebih plong rasa-rasanya. Tapi setelah itu? Tidak ada perubahan signifikan yang dialami. Bibit kekesalan masih ada, rasa benci gak pergi juga. Selain 'rasa puas karena telah bercerita', tidak ada renungan lebih lanjut yang saya lakukan untuk kemudian diambil hikmahnya. Belajar enggak, mulut ember iya. Salah-salah malah berpotensi ghibah atau fitnah lagi! Ay.. serem ah.


Sadar bahwa

curhat (via manusia) ternyata tidak cukup untuk membuat lebih bijak dan dewasa menyikapi masalah, 


akhirnya saya putuskan untuk menulis saja. Menumpahkan segala luapan emosi positif negatif dalam goresan tinta. Dan hasilnya ternyata luar biasa. Ampuh. Dengan menulis, kondisi psikis justru lebih terkendali dibandingkan ketika curhat dengan teman dekat. Bagaimana tidak? Sekali nulis, sepuluh kali merenung dan berpikir.
"Eh tadi bener gak ya bersikap kaya gitu sama si Y?"
"Mungkin bukan maksud dia ngomong seperti itu, Er. Maklumi aja. Siapa tahu dia lagi capek atau lagi ada masalah."
"Sabar Er, sabar. Jangan sedih. Gak usah kuatir. InshaAllah ada hikmah dari setiap kejadian." atau
"Jangan menyesali masa lalu, semuanya berada dalam takdir Allah. Semua akan baik-baik saja." 
"Iya sih. Mungkin si A cuma becanda. Kamu aja yang nanggepin terlalu lebay, dan seterusnya.

Cerita selesai. Kesal hilang. Hati lapang. Pelajarannya juga dapat. Dan yang paling penting, gak ada pihak ketiga yang akan berpotensi terbawa ghibah apalagi fitnah. Karena di saat yang sama, kita-lah yang menjadi objek sekaligus subjek utama tulisan.

Masih belum percaya kalau NULIS bisa men-terapi hati? Buktiin sendiri ya xD!
Selamat mencoba ~ 


Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'