I Love You


Ich liebe dich.
Je t'aime.
Aishiteru.
Saranghaeyo.
Seni seviyorum.


Aku mencintaimu. Iya, kamu :)!
Sungguh, aku cinta karena Allah..
--

Pernah gak sih,

ngalamin satu titik dimana kamu pengeeeennnn banget jadi seperti seseorang? Persis tepat sama seperti dia. Rambutnya, wajah, gigi, postur tubuh, tinggi badan, rumah, motor, harta, cara jalan, gaya bicara, pembawaan, semua deh!

Dan, saat perasaan 'ingin seperti doi' itu muncul, kamu lantas merasa bahwa 'gue gak ada apa-apanya :( ' alias serba gak cukup.

Kayanya kurang mancung hidungnya,
Alisnya ketebelan nih,
Yah aku kurang tinggi..,
Rambutku kok gak sebagus punya dia ya?
Gaya ngomong gue kenapa aneh begini ya?
Kok kurang sih? Kenapa ya?  

Ujung-ujungnya,
kamu akan mulai minder dan merasa gak PeDe, gak bisa berbuat apa-apa, tidak layak dan pantas untuk berkarya, lemah dan tidak berdaya, merasa gak akan ada orang yang suka apalagi jatuh cinta, merasa bahwa hidup ini gak adil buat kamu!!. Gak cukup sampai situ, terus kamu salahin de tuh takdirnya Tuhan.

'Tuhan..  kenapa Engkau ciptakan aku begini sementara dia begitu?? Kenapa??? Kau sungguh tidak adil Tuhan..! ' 

 Hiiy.. naudzubillah, ngeri ya.


atau

Pernah gak,

punya temen atau ketemu orang baru yang super duper nyebelin? Sok ganteng atau cantik misalnya. Sok paling pinter, paling tinggi, paling langsing, paling kaya, paling bisa, paling keren, paling.. errrgggh banget pokoknya.
Terus setelah liat kelakuan doi, kamu ngedumel,

Alaaah.. baru bawa motor bebek doang gayanya udah selangit! Paling motor kreditan!,
Langsing boleh.. alis bu, kayak ulet bulu!
Ah elu, pendek aja belagu!
Dst.

Boleh jadi kamu gak kenal dan mungkin ketemu pun baru sekali, tapi... karena sebegitu menyebalkannya perilaku dia maka bisa jadi loe akan tiba-tiba meledak-ledak ngadepin si doi. Minimal, ikut nyari apa kekurangannya, saat itu juga. Entah itu fisiknya? Hartanya? Perilakunya? Apapun. Seperti monolog yang saya tulis di atas itu tuh. Hehe..


Terus.. Pernah Gak, 

punya temen atau kenalan yang malah baiiiiikkk banget? Sholih/ah, penolong, sangat penyayang, tenang, pinter tapi hambel, kaya tapi gak sombong, sopan, hormat sama orang tua, menghargai perempuan (kalau dia laki-laki), sangat pandai menjaga harga diri (bila perempuan). Akhlaknya masyaAllah lah. Bikin kita betah deket-deket sama doi.

Nah.. diantara sosok-sosok dengan ciri tersebut di atas, pernah gak, kamu sengaja nyari-nyari kekurangannya dia? Dari segi fisik dan materi mungkin?
Saya yakin jawabannya adalah tidak :).

Yuk, coba bayangin orang-orang yang masuk kategori 'baik' menurut kita. Ibu, ayah, kakak, adik, sohib, temen curhat, kakak pembimbing, si fulan yang ngasih kita makanan saat lapar, hamba Allah yang memberi tumpangan mobil untuk mengantar ibu ke rumah sakit, relawan yang membagi-bagikan ta'jil di jalan, orang yang menasihati kita dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, guru-guru yang mengajar dengan penuh kesabaran.. Pernah sengaja ngorek-ngorek keburukannya?
Saya yakin jawabannya juga 'tidak'.

Jika pun suatu waktu kamu (secara tidak sengaja) menemukan kekurangan seperti,

Eh kalo diamati, idung papa pesek ya,
Oh.. ternyata jari mba itu gak lengkap,
Baru ngeh kalo suami gue item,
Dsb.


nyatanya, kondisi semacam ini tetap tidak mengurangi kadar kecintaan kamu kepada mereka bukan? Bahkan, sebisa mungkin kamu akan berusaha menutupi ketidaksempurnaan itu.

Bagi kita, ayah tetap yang paling gagah dan tampan. Bagaimana pun fisik aslinya.
Ibu, tetaplah wanita tercantik di dunia. Seberapa pun banyak keriputnya.
Begitu juga istri bagi suami.
Guru bagi murid-murid.
Penolong untuk sang tertolong, dan seterusnya.

Posisi mereka di hati kita, selalu saja istimewa.

Lalu, pernahkah bertanya, kenapa diantara begitu banyak kekurangan (hidung yang jelas-jelas pesek, fisik yang tidak ideal, harta yang terbatas) kita justru masih bisa tetap mencintai mereka? Lebih dari apa pun, lebih dari siapa pun?

Ya, karena mereka punya sesuatu yang disebut 'baik'. Tersebab akhlak. Karena kemuliaan hatinya. Beda sekali dengan si sok cantik dan si sok keren tadi. Ketika aura kebaikan yang dipancarkan seseorang telah sebegitu besar, akankah kita masih mempermasalahkan fisiknya? Wajah kotaknya? Motor bututnya?

Kaya atau miskin. Pintar atau bodoh. Cantik atau tampan. Yang terpenting itu adalah hati ternyata. Qalb.

Maka, yakinilah bahwa setiap hati, akan dicintai oleh hati.

 

Siapapun dan seperti apapun kamu, kau akan dicintai--selama engkau 'baik' :).  Jadi.. buat kamu yang disitu.. iya kamu, jangan minder lagi ya. *Tidak perlu fisik yang sempurna untuk cinta yang sempurna, kok #eh. Yuk, perbanyak syukur dan terus tingkatkan kualitas hati! Thus, don't ever worry because..

You will be loved !
Uhibbukum fillah.
;)



*sepotong dialog dalam Assalamu'alaikum Beijing karya Asma Nadia  



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'