Melukis Ayah #1



Usianya baru saja 5 kala itu. Cerewet. Lincah. Berani. Dan penuh percaya diri. Setidaknya untuk ukuran anak seusianya. Meski begitu, dia tetap saja hanya seorang gadis kecil.

Entah apa yang dipikirkan sang ayah. Menyuruh putrinya berlari di tengah rintik hujan hanya demi sebatang rokok.

Runa mengangguk polos.Tangan mungilnya mendapati uang 250 rupiah. Tanpa banyak bertanya ia segera berlari menuju warung Bah Juhri--Pemilik warung yang sekaligus kakeknya. Langit yang gelap, tetesan hujan, dan cipratan air jalanan di gang tampak sangat tidak bersahabat malam itu. Tapi Runa tidak memiliki alasan untuk mengeluh. Keingintahuannya tentang benda yang bernama 'rokok' itu tampaknya membuat Ia lupa kalau tubuhnya menggigil kedinginan.

Rokok  garfield 1, rokok  garfield 1, rokok  garfield 1..

Runa bergumam pada dirinya sendiri.
Seolah melupakan pesanan sang ayah adalah dosa besar baginya. Runa tahu betul bahwa kesalahan berarti hukuman baginya. Sementara pikirannya yang lain sibuk membayangkan seperti apa rokok. Benda kah? Atau roti selai nanas? Bisa dimakan kah? Kenapa ayah sangat menyukainya? Pasti itu sangat enak.. pikirnya.   

"Bah, rokok garfield (*merek) satu, ini uangnya"

Bah Juhri sedang asyik menumpuk uang koin kuningnya. Beberapa tumpukan koin pecahan 500an tampak sudah rapi di meja. Besok jam 3 di pagi buta Ia akan menukarkan tumpukan logam-logam itu dengan kol, wortel, kue-kue kecil, dan mungkin beberapa pak rokok.   

"Siapa yang menyuruhmu membeli rokok malam-malam begini? Ayahmu? Si Kendang?" Nada yang terlalu tidak sedap untuk didengar. Untunglah Runa masih terlalu kecil untuk menyadari sikap sang kakek yang begitu tidak biasa pada anaknya sendiri. Satu hal yang Runa tahu, Bah Juhri tidak pernah memanggil nama anaknya dengan benar.

Runa mengangguk pelan.
Berselang lima detik Bah Juhri menyerahkan sebatang rokok berwarna putih coklat. Di mata Runa, benda bernama rokok itu tak lebih dari sekedar batang kelingking berbusa dengan bau yang tidak biasa. Runa terus menerka-nerka sambil berlalu.
Apa ini? sedotan busa emang enak ya?
Tidak memperhatikan saat kakeknya berpesan untuk berhati-hati membawa rokok agar tidak kena hujan.

Rasa penasarannya masih terlalu menggebu. Tanpa pikir panjang, Runa menjilat bagian busa berwarna coklat. Dan.. hey! ternyata manis. Pantas saja ayah dan ayah teman-temanku menyukainya. Rasanya memang seperti permen.

*** 

Entah bagaimana ceritanya, rokok itu patah menjadi dua. Runa pun mempercepat langkah kakinya menuju rumah. Tak banyak hal yang ia pikirkan selain bahwa ia harus segera memberikan permen busa itu kepada sang ayah. Kasian ayah kelamaan nunggu. Untung rokoknya masih kering..

Runa segera mengulurkan tangan mungilnya. Ya, telah terbagi dua.  
"Ayah ini ro-- "
Traak!

Belum selesai ia bicara satu sentilan mendarat keras tepat di telinga kirinya. Tubuhnya yang kecil tersentak kaget, mencoba menahan. Mengusap telinganya pelan sementara tangannya yang lain masih memegangi rokok yang patah.

"Jadi anak kok bodoh sih! kalau kepotong dua begini mana bisa dipake rokoknya?!", teriak sang ayah. Melemparkan rokok ke entah kemana.

Runa masih mengusap telinganya. Sekali lagi, ia meringis pelan. Tetapi anehnya, tidak ada teriakan disana. Apalagi isak tangis. Hanya saja Runa, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, sesak. Sangat.
Maaf ayah, aku tidak tahu..



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'