Hitam Putih Beasiswa Turki: I called it 'MEDICINE'


"Jadi, Er, dengan segala sisi gelapnya, kamu nyesel nggak kuliah di Turki?"

E N G G A K πŸ˜†πŸ˜ŠπŸ˜‡
. . .


Coba deh beasiswa mana yang nggak ada cerita hitamnya? I bet you'll have to deal with it too, the darkness! Iya kan? Apapun! Coba kamu yang merasa dapat beasiswa paling keren di dunia, berani nggak nulis hitam putih kaya gini? *becanda, wkwkwk.
Pepatah bilang, manisnya madu nggak akan kerasa tanpa pahitnya racun. Tidak akan berguna vaksin tanpa virus. Begitu pun dengan segala perkara hidup kita di dunia ini, termasuk urusan perbeasiswaan. Hitam putih, gelap terang, baik buruk adalah suatu keniscayaan. Pertanyaan intinya adalah, what are the best ways to overcome those problems?

Mungkin ada diantara sebagian penerima beasiswa TB ada yang nyesel setengah mati udah kuliah di sini. Tapi,
as I mentioned before, yang kuliah di Turki itu ratusan! Banyak juga diantara mereka, yang bersyukur telah diberi kesempatan untuk menimba ilmu di negeri dua benua ini. Gratis pula. negara muslim pula. Bebas shalat dan ibadah dengan tenang pula. Nggak perlu bersusah payah nyari makanan halal pula. Dan masih banyak pula-pula yang lain (baca lagi postingan ini) yang sebetulnya kalau kita mau fokus berpikir positif, bertawakal kepada sang Maha Pembuat Rencana, memperbanyak syukur, berusaha sebaik-baiknya (jelas kalau ini), itu hitam-hitam kehidupan belum ada apa-apanya. Huhuhu. Cuma ya itu, kita sering kali banyak lupanya. Karena keburukan setitik rusak kebaikan sebelanga.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah 'ala kulli hal. Dari awal saya tidak pernah bermaksud untuk menjelekkan ataupun mengagungkan beasiswa TB. Hanya coba memberikan gambaran singkat yang mudah-mudahan infonya berimbang dan tidak mengada-ada. Berharap bahwa teman-teman yang akan daftar beasiswa kelak, betul-betul mencari info beasiswa terkait (nggak hanya beasiswa TB loh ya) sebaik-baiknya. Memilih, menimbang dan memutuskan dengan bijak. Jangan sampai setelah diterima malah nyesel berkepanjangan karena nggak siap menerima kenyataan, tidak siap berjuang dengan kesulitan, tidak mau berusaha lebih banyak atau apapun itu. Sekali lagi teman-teman, yang namanya dapat beasiswa itu nggak gampang! Dalam segala prosesnya entah di awal, tengah maupun akhir, pasti butuh perjuangan. Bagaimana pun bentuknya.

Oiya, mungkin banyak juga diantara kita yang bilang "Ah, coba gue dulu ambil kuliah di sana aja, terima beasiswa X aja, pasti sekarang udah lulus. Pasti sekarang udah kerja, pasti udah lanjut S3, pasti bla bla bla.."

Yakin akan begitu :)?

Sombong linci linci.. sombong linci linci..
Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang-orang yang mendahului takdir Allah.

Alhamdulillah, tsumma alhamdulillah 'ala kulli hal. Lulus cepat atau tidak, karya kita dicuri orang atau tidak, cumlaude atau tidak, bukanlah tolak ukur keberkahan ilmu seseorang, IMHO. Satu hal yang saya tahu, Allah itu sangat menyayangi hamba-hambaNya para penuntut ilmu yang mau bersungguh-sungguh.

Senang nggak selalu senang, susah juga nggak melulu susah. Jadi ya, dibawa enjoy aja. Segala sesuatu ada masanya πŸ˜€. Satu doaku untukmu para pejuang ilmu, Allah kolaylΔ±k versin. Daripada lomba siapa-paling-menderita, mending kita saling doain yuk, saling menebar aura positif. Semoga Allah mudahkan, semoga Allah lancarkan, semoga Allah lapangkan segala urusan. Dan kamu yang di situ, iya kamu. Saya doakan semoga cepat lulus juga yah :).

. . .




Terakhir, buat kamu yang sempet nge-down gara-gara postingan HITAM kemarin (hahaha), ini saya kasih obatnya ya. Silakan dibaca secara teratur agar menimbulkan efek positif berkelanjutan.     

πŸ’–TIPS n Trick Beasiswa TBπŸ’–

1. Cari info selengkap-lengkapnya tentang TB sebelum memutuskan untuk daftar dan atau berangkat ke Turki. Catat kelebihan dan kekurangannya (harus berimbang loh inget), sesuaikan dengan target yang ingin kamu capai dari kuliah di negara tersebut. Buat analisis SWOT-nya kalau perlu. Jangan lupa, libatkan Allah dalam setiap keputusan :).

2. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Nggak hanya Turki tapi berlaku juga buat beasiswa negara lain. Biasa aja lah. To be curious and excited, boleh banget, tapi sewajarnya. Biar kalau kecewa juga nggak berlebihan.

3. Perbanyak doa semoga dimudahkan jalan study-nya. Lancar berkah sampai kembali pulang ke Indonesia. Niatkan berangkat untuk belajar dan menuntut ilmu, supaya dikuatkan apapun kesulitan dan tantangan yang akan dihadapi nanti.

4. Sungguh-sungguh belajar bahasa Turki (atau bahasa lain), jangan cuma modal bahasa buat nawar di pasar aja. Hihi.
Catatan paling penting buat orang Indonesia, JANGAN MALU buat belajar ngomong! Tenang, orang Turki considerate kok orangnya, mereka nggak akan menghujat atau ngejekin kita, sebaliknya bakal encourage. Seneng kalau ada orang asing ngobrol pake bahasa Turki, meskipun masih terbata-bata. Udah mau ngomong aja udah luar biasa banget. Sekata demi sekata nanti terbiasa.

5. Jangan minder, kamu malah aneh kalau udah di Turki tapi tetep aja sok-sokan ngomong pake bahasa Inggris. Mau ngobrol sama siapa, Ceu? Kepengen dimaklumi orang lain? Sorry, ini Turki. No English here πŸ˜‚πŸ˜‚. Awal-awal mungkin ngerasa aneh sendiri, roaming olangan. Tapi begitu paham nanti, rasanya.. sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya bahagia lah bisa ngerti bahasa selain Sunda. Hihi.

6. Jurus menghadapi rasa malas: anggap kalau kuliah kita adalah kerja yang dibayar (oleh beasiswa). Gimana sih orang kerja? Suka nggak suka, capek nggak capek, harus tetep masuk, kan? Belajar juga sama. Bedanya, kerja kita menghasilkan ilmu dan inshaAllah membuka jalan menuju syurga πŸ˜€.

7. Ikuti aturan main lembaga pemberi beasiswa. Komunikasi intense dengan mereka. Anggap seperti orangtua, kalau mau pulang ke Indonesia atau melancong ke negara lain misalnya, tulis izin lewat email atau talep di sistem. Pas masuk kembali ke Turki bikin laporan juga udah pulang. Jadi kalau suatu saat ada miskom atau masalah apa-apa, kamu punya hujjah yang kuat, eaa. Intinya ko-mu-ni-ka-si.

8. Buat yang mau kuliah S1, menjelang masa ujian, belajar serius. Jangan sampai tinggal kelas. Orang Indonesia itu (apalagi judulnya dapet beasiswa) punya gen sukses dan pinter kok, rajin-rajin juga kalau dibandingin sama OT. Jadi jangan kuatir. Kita bisa banget bersaing dengan mahasiswa di sini. Oya, hindari SKS ya dear.. biar nggak tinggal kelas kaya OT2. Hehe.

9. Buat mahasiswa master, setelah kuliah reguler selesai, prioritaskan mengerjakan tesis. Usahakan proposal penelian sudah siap sejak dua bulan sebelum tahun pengerjaan tesis dimulai. Fokeus. Jangan kaya saya,  terdistraksi dengan ajakan proyek atau kerjasama dari dosen (kecuali kamu punya goal yang berbeda, hehe). Bukan nggak boleh sih mengembangkan diri, cuma perlu diingat bahwa kita dibatasi durasi oleh lembaga pemberi beasiswa. Jadi mau nggak mau kudu strict dengan jangka yang diberikan atau kalau tidak krekk *adegan potong leher, wkwkwk*. Jangan sungkan juga untuk ngasih pengertian ke dosen pembimbing kalau kita harus lulus tepat waktu. Kalau kepengeeennn banget ikut proyek dosen, sebaiknya dilakukan setelah tesis kita benar-benar rampung, baru deh sah buat ngerjain hal lain. Catatan banget nih terutama buat yang punya labwork kayak saya.

Nanti juga akan ada kesempatan juga buat ikut Erasmus Exchange gitu ke Eropa (karena rata-rata kampus Turki punya kerja sama dengan Eropa). Cuma saran saya, lebih baik kesampingkan dulu godaan ikut Erasmus ini. Terutama kalau kampus tempat kamu kuliah nanti memakai bahasa Turki sebagai pengantar resmi. Kenapa? Karena translate tesis ke dalam bahasa Turki akademik itu juga sesuatu, butuh waktu banget intinya mah. Kalau keukeuh banget pengen Erasmus, mendingan ikut internship musim panas aja. Niscaya lebih pas buat mahasiswa umur-studi-pendek kaya kita-kita. Hehe.

*Betewe, anak master kuliahnya jangan pinter-pinter ya, jangan terlalu aktif ikut proyek, kecuali mau
ditahan sama dosen dan nggak pulang-pulang πŸ˜….*

10. Mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki banyak banget dan kami sangat ramah-ramah loh kepada pelajar baru, apalagi anak PPI Izmir, hehe. KBRI nya juga helpful sangat sangat sangat. Jadi, kalau kamu sekolah di sini dan merasa punya masalah (keuangan, nilai, birokrasi dll), jangan ragu untuk cerita minimal ke teman terdekat. InshaAllah kami siap membantu.

11. 101 likes buat kamu yang berhasil melewati ujian kehidupan di negara asing (terutama non-English-speaker-country). Saya tahu kok menuntut ilmu itu nggak gampang, apalagi di negara berbahasa planet, hihi. Makanya pas dulu denger ada anak S1 Izmir jadi lulusan terbaik di departemen dengan IPK nyaris 4 dalam waktu 3.5 tahun dan kuliahnya dalam bahasa Turki, otak dan hati saya meleleh rasanya. Seriously? Bahasa Turki gitu. Keren aja. Dan fakta ini menegasikan bahwa: Kuliah di sini nggak serem-serem amat ternyata πŸ’†.

Yaa.. semuanya kembali ke pribadi masing-masing sih.

Intinya adalah, kalau udah istikharah, sudah bulat tekad mau kuliah di luar negeri, siap-siap sabar dan berlatih tawakal. Ingat, kuliah di mana pun sama. Harus rela babak belur adug lajer jatuh bangun. Semua ada sisi positif dan negatifnya. Tapi apapun keputusan yang telah kamu ambil dan ikhtiarkan untuk memilihnya, jangan pernah disesali. Ini kalau aliran pemikiran ala saya;

setiap hal yang terjadi di hidup kita, segalanya berada dalam koridor skenario Allah, dan semuanya baik. Pasti. 
.
.
.

Jadi gimana, apakah sudah cukup tercerahkan? :)

* * *

Next Post:
Alasan Kenapa Kamu Perlu Banget Kuliah di Luar Negeri


Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki

Hitam Putih Beasiswa Turki: H.I.T.A.M.