Innalillahi..


Sumber gambar di sini

"Teteh masih ingat sama Ustadz Didi?" Tanya mamah dari seberang telepon dua hari lalu. Saya terdiam sesaat, berusaha mengingat. Hampir sepuluh tahun tidak tinggal di Bandung (kecuali momen liburan), bukan perkara mudah mengingat satu persatu orang yang tidak pernah ditemui selama itu.

"Itu lho anaknya alm. Abah Endi yang jualan bajigur waktu Teteh kecil. Ingat? Kemarin baru aja wafat, sakit."

"Innalillahi wa inna ilayhi raaji'un.."

Sebenarnya hingga detik terakhir berita itu terdengar, saya belum tahu persis siapa sosok yang diceritakan mamah. Tapi kabar duka semacam ini selalu saja membuat saya tertegun.



Maut--Satu diantara qadar Allah yang semua manusia pasti mengalami. Hanya soal waktu, tempat dan caranya saja yang mungkin berbeda. Tapi semuanya rahasia Ilahi. Kita tidak akan pernah menyangka bahwa orang yang tampak sehat bugar, ceria, masih baik-baik saja dan baru kita ajak ngobrol kemarin sore atau satu jam lalu ternyata telah menghembuskan napas terakhirnya. Bagai rekayasa, seperti cerita bohong atau tak ubahnya mimpi buruk di siang bolong.

Si A meninggal? Masa? Lah wong saya baru telponan tadi barusan. Becanda kamu, Mas.

Begitu mungkin kiranya tanggapan kita. Saya pun demikian. Selalu berharap berita kematian yang datang adalah kabar salah alamat. Bukan dari orang yang kita kenal, sanak saudara ataupun teman dekat. Berat rasanya setiap kali membaca broadcast di grup WA dengan mukaddimah 'innalillahi'. Rabb.. seseorang telah dipanggil kembali oleh Allah. Jatah hidupnya sudah tunai. Rezekinya telah sempurna. Alhamdulillah. Tapi pertanyaannya kemudian, siapa dan bagaimana nasib sanak saudara yang ditinggalkan?

Hari ini, pagi buta waktu Turki, kabar duka itu datang lagi. Sebuah tautan berita dari koran online lokal yang mengabarkan wafatnya sepasang suami istri muda akibat terkena runtuhan pohon di sekitaran kampus UI. Lantas kenapa disebar di grup ini? pikir saya. Belum kering pertanyaan, mata saya tertuju pada tiga huruf kapital yang tercetak diantara deretan alinea; I-P-B.

..korban adalah alumni perguruan tinggi IPB angkatan 2008.. Innalillahi, seangkatan saya?
..pasangan muda ini meninggalkan seorang putri yang baru berusia delapan bulan.. Ya Allah... Menjadi seorang yatim piatu di umur yang bahkan cara berjalan pun kau belum tahu. Andai hari ii saya di Indonesia, dengan segala insting yang ada, ingin rasanya mengunjungi rumah duka. Mengambil alih kepengasuhan si balita yang telah tak ber-ibu dan ber-bapak. Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Dan siapa lah saya ini? Mengurus diri sendiri saja masih jungkir balik, bagaimana mau merawat anak orang?

Yang kuat ya, Nak. Sabar, sholihah. Betapa Allah menyayangimu dengan segala skenario takdir-Nya. Semoga dalam waktu dekat Allah kirimkan orang tua pengganti di dunia, yang menyayangimu sebagiamana rasa sayang kepada anak kandungnya sendiri. Aamiin yra.

Allahummagfirlahum warhamhum wa'afihi wa'fuanhum
Al Fatihah..

***

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki