Hitam Putih Beasiswa Turki: PUTIH


Halo, pejuang beasiswa!

Menyambung postingan sebelumnya, kali ini saya akan membagikan sedikit (banyak sih, wkwk) kisah putih, keunggulan, kabar baik (apapun lah istilahnya) seputar Beasiswa YTB. Yeayy..! Jadi, ada beberapa alasan kenapa YTB Scholarship/ Türkiye Bursları (selanjutnya disingkat TB) ini bisa dan wajib banget masuk ke dalam daftar negara tujuan beasiswa kamu. Here we go!

1. TB adalah satu-satunya beasiswa lintas negara yang semua urusan perbeasiswaannya diambil alih langsung oleh lembaga. Mulai tiket berangkat dari tanah air, pendaftaran ke universitas tujuan, pembayaran SPP, pendaftaran kelas pengantar bahasa, penyediaan tempat tinggal berupa asrama (dengan jatah dua kali makan gratis per hari), asuransi kesehatan sampai tiket kembali pulang ke Indonesia! Semuanya. Uang jajan bulanan? Pasti dapat dong. Pokoknya semua beres. Kita tinggal duduk manis dan belajar dengan benar.



2. Daftar TB nggak pake ribet. Pasalnya kita hanya akan melalui dua tahap seleksi: seleksi berkas secara online dan wawancara. Hampir mirip LPDP-LN sih. Yang membuat berbeda, TB tidak terlalu menekankan skor TOEFL maupun band IELTS sekian sekian seperti beasiswa lain pada umumnya. So, siapa pun bisa daftar. Kalau terlanjur punya skor TOEFL? Boleh kok dilampirkan saat pendaftaran, siapa tahu menambah poin penilaian 😉.

3. Ketika lolos seleksi berkas, kamu berkesempatan ketemu langsung sama orang Turki! *penting banget, Er*. Ya daripada jauh-jauh harus ke Turki, kan?
Setiap tahun, TB akan mengirimkan tim pewawancara langsung dari Turki ke negara-negara mitra. Satu tim umumnya terdiri atas 3-5 orang. Untuk Indonesia sendiri, interview dilaksanakan di tiga titik utama yaitu Kedubes Turki di Jakarta, Aceh dan Semarang. Jadi kalau nanti lolos ke tingkat wawancara, kamu bisa pilih salah satu dari tiga tempat yang saya sebutkan di atas.

4. Bisa memilih mode bahasa saat wawancara. Kalau kamu nggak pede atau merasa nggak terlalu jago bahasa Inggris, boleh kok minta diwawancarai dalam bahasa Turki (lah!). Serius. Tapi kalau itu juga masih susah, biasanya ada diantara tim yang sedikit banyak juga paham bahasa Indonesia. Cuma kalau boleh saya sarankan ya, yarim yarim lah. Setengah Bahasa Inggris, setengah Bahasa Indonesia. Kasian OT-nya keriting nanti denger kita ngoceh. Hehe.

5. Proses wawancara nggak hampir nggak pernah lebih dari setengah jam. Rata-rata sekitar 10-20 menit saja. Itu pun seputar pertanyaan yang telah kita isi di form online. Ajaib sih memang. Sampai sekarang saya juga kurang paham bagaimana mereka bisa menilai seseorang hanya dalam waktu sesingkat itu. Dari gestur tubuh saat wawancara? Tatapan mata? Suara? Atau cuma ingin memastikan bahwa pelamar beasiswa ini bentuknya nyata? Entahlah.



Sumber gambar di sini

_bagian yang ini pasca kedatangan di Turki_

6. Begitu mendarat di bandara Ataturk atau bandara domestik, kamu akan disambut oleh tim TB di welcoming desk-nya. Dikasih minum (seadanya), tas YTB berisi notebook, pin, dll. Yang mana setelah itu, kita akan diantar menuju asrama tempat tinggal nantinya. TB juga biasanya bekerja sama dengan mahasiswa Indonesia untuk penyambutan ini. Lumayan buat bantu-bantu terjemah saat berkomunikasi dengan anak baru. Harap dicatat baik-baik, di Turki, jangankan bahasa Inggris, bahasa tubuh pun tidak selalu bisa dimengerti. Kok gitu? İşte burası Türkiye! (Kamu akan paham arti mendalam kalimat ini setelah berada di Turki 😀).

7. Sistem transportasinya oke dan terintegrasi. Mau jalan-jalan keliling Turki? Bisa banget! Gampang? Mudah banget. Moda transportasinya? Kece banget. Iya semuanya juga butuh uang, tapi maksud saya, dari segi akses dan kemudahan transportasi Turki nggak kalah keren dari Eropa sana. Subway, tramway, tren, bus antarkota, vapur (feri kecil) semuanya bisa dimanfaatkan. Oya.. untuk transportasi lokal, di kota tertentu seperti Konya, pemerintah setempat bahkan memberikan kartu GRATIS tis tis bagi mahasiswa asing yang berkuliah di sana. Enaknya.. Rezeki anak sholih/ah Konya nih 😀.

8. Nggak perlu khawatir soal makanan. InshaAllah, halal. Secara negara muslim. FYI, aneka bentuk babi, olahan babi dan segala hal tentang perbabian (kecuali boneka) dilarang diperjualbelikan di sini. Bahkan untuk keperluan penelitian (co: gelatin babi) pun pengurusan izinnya tidak mudah. Pernah dengar sih kabarnya ada yang ternak babi di salah satu kota bagian Turki, untuk dijual ke Cina atau mana gitu, saya kurang begitu paham. Yang jelas distribusi dalam negeri di-la-rang.

Omong-omong soal makanan, hampir semua kampus negeri di Turki menyediakan subsidi makan berat bagi mahasiswa. Kebijakannya beragam memang, mulai dari yang pakai sistem diskon setengah harga hingga gratis tanpa dipungut biaya apapun. Mahasiswa hanya perlu mendaftar melalui koordinator tertentu atau bisa juga simply dengan menunjukkan student ID. Soal menu? Tenang, inshaAllah halal, thayyib dan masih memenuhi syarat 4 sehat, meski tidak sempurna. Hihi. 

9. Orang Turki umumnya menyukai orang-orang Indonesia, apalagi pelajarnya. Saking seringnya OT bertemu orang Indonesia saat haji atau umrah, sesering itu pula mereka berinteraksi satu sama lain. Orang Indo dikenal baik-baik, ramah-ramah dan sopan-sopan. Begitulah. Makanya tidak heran kala saya dan teman-teman di sini sering jadi 'korban' asal cium sama ibu atau nenek-nenek asing. Hihi. Padahal mah kenal juga enggak. Untung perempuan ya, kalau laki-laki..

10. Turki, pilihan tepat untuk mahasiswi. Ibu bapak yang punya anak perempuan, kira-kira lebih khawatir putrinya kuliah di Turki atau Amerika :)? Ini soal preferensi orangtua dan anak ybs sih. Cuma kebayang aja nyamannya kalau kuliah di lingkungan yang manusianya aman, betul? Nggak perlu khawatir jadi korban rasis misalnya. Nggak usah sembunyi-sembunyi kalau mau shalat. Boleh kuliah pake jilbab dan cadar kalau berkenan. Dan yang paling penting, laki-lakinya tergolong sangat sangat menghargai perempuan, selama kita bisa jaga diri dan nggak berbuat aneh-aneh yang kelewatan *mikir, apa maksudnya ini.



Foto tempo doeloe, welcoming desk YTB


11. Buat kamu yang hobi jalan-jalan, Turki menawarkan 1001 keindahan alam dan budaya. Jangan salah, selain menjadi pusat perpaduan kultur Asia dan Eropa, saksi sejarah kehidupan tiga masa, Turki juga menjadi rujukan studi para arkeolog dunia loh. Surganya para peneliti batu! Dan pengamat peradaban. Selama apapun kalian tinggal di sini, Turki tak akan pernah habis dijelajahi. Pernah lihat foto-foto objek wisata Turki dari internet, kan? Percaya deh, itu belum seberapa 😂.

12.  Any plan for Europe trip? Minat ikut konferensi di negara-negara Eropa? Mau berangkat umroh/ haji dari Turki? Bisa banget, beib. Bisa. Asal bersedia nabung aja, nyisihin uang jajan bulanan 😊.
Ya kali dapet calon suami dan imam sholih nanti 😆😂😇. *bonus plus plus

13. Dosen-dosen di Turki umumnya lebih welcome dan care sama anak didik, apalagi mahasiswa asing. Kalau di Indo bimbingan itu sambil tegang-tegang, di sini santai kaya di pantai, sambil nge-cay. Hihi. Mereka nggak akan biarin bimbingannya nunggu seharian tanpa kejelasan. Kalau bisa ketemu ya bisa, ditepati, kalau enggak ya enggak. Di sini feel free aja gitu untuk SMS/ WA/ telepon dosen saat memang ada keperluan. Makanya saya suka aneh kalau ada dosen yang, punten, sok sibuk suliiiit banget ditemui saking jadwalnya padet. Giliran bimbingannya SMS tanya dimana eh malah dibilang nggak sopan. Apalagi ditelepon? OMG, what a world are we living in! Kalau kirim pesan ke beliau aja nggak boleh, terus eyke harus SMS siapa? 😭

14. Cuma di sini lab serasa milik sendiri! Untuk anak sains yang notabene punya tuntutan lab-work seperti saya, adakah kado terindah selain kebebasan bereksperimen di lab tanpa dipungut bayaran 😂😂? Tanpa diteror sanksi ganti alat kalau rusak atau pecah?
Pernah ketika awal-awal prelab, saya bikin larutan sodium sampai tiga kali ulangan, ngabisin sekitar sekilo (sekilo!) pelet NaOH karena salah terus (ini karena grogi atau saya emang dodol ya, wkwkw), nggak ditagih balik tuh. Juga nggak ada sanksi kalau mecahin erlenmeyer dll. Ketika saya lapor, pertanyaan mereka cuma satu: sana birsey oldu mu? (kamu nggak kenapa-kenapa, kan?) dan saat saya menggeleng mereka bilang: o zaman sorun yok (kalau gitu nggak ada masalah). Huaaa.. *mleber, lumer, nangis baper*

Tapi ya kalau alat mahal yang rusak sih mungkin bermasalah tapi sepertinya nggak akan sampai minta ganti rugi ke mahasiswa yang apa-atuh-sekolah-aja-masih-pake-beasiswa. Paling banter mereka bakal bilang yapacak birsey yok (nothing to do) terus ngajuin laporan kerusakan alat ke kampus dan minta jasa servis.
Saya nggak tahu persis kalau soal ini karena belum pernah dan jangan sampai ngalamin deh. hehe. Satu-satunya kekurangan yang bagi saya justru kelebihan adalah: you do all analysis by yourself! Every single work. Poin plusnya? saya lebih bisa menyiapkan semuanya sendiri, dari A sampai Z.
Dulu, awal masuk kampus ditanya dospem: "Erna kamu bisa analisis apa aja?" saya cuma diam, mingkem. Nggak bisa jawab karena memang nggak pernah benar-benar melakukan semuanya SENDIRI. Kenapa?

Karena di balik kesuksesan skripsi, selalu ada tangan teknisian di belakangnya 😂😂😅

Nah di sini, bisa nggak bisa, mau nggak mau, suka tidak suka, semuanya harus dikerjain sendiri. Kudu banget ngerti prosesnya dari awal sampai akhir. Jadi nanti, kalau pulang dari Turki dan seseorang bertanya: "Bisa analisis apa aja, Er?" saya sudah punya jawabannya. Ahaaa gaya!.

**


Kamu, kamu, kamu, berminat merasakan langsung sensasi putih beasiswa Turki? Lulus dulu wawancaranya ya! Kita tunggu di sini. Görüşürüz~ 👋👋😄
.
.
Next Post
Hitam Putih Beasiswa Turki: HITAM.

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'