Euforia Pilgub DKI: AHY, pahlawan atau penjahat sejarah?


Pilgub 15 Februari kemarin nyoblos, Er? Enggak.
Kamu orang Jakarta? Bukan juga.
Terus?

Cuma pengen nulis. Itu aja.
.
.

Yang merayakan pesta demokrasi terbesar baru-baru ini boleh jadi hanya ibu kota, tapi gaungnya..beuh sampai kemana-mana! Termasuk Turki ini. Meski nggak tahu komplit tentang kondisi riil selama masa pemilu dan pencoblosan, timeline sosmed sudah cukup memberikan gambaran seperti apa euforia pelaksanaan pilgub di Jakarta. Apalagi kalau bukan fitnah, hate speech, tweet jahat, komentar miring, akun-akun siluman, pencitraan, dlsb. Jangan tanya soal debat. Saya yakin teman-teman di Indonesia lebih tahu bagaimana persisnya. Saling serang antar kubu calon adalah hal biasa. Lumrah. Kalau nggak ngotot, nggak rame. Sepi bahan berita, turun rating media.

Btw, hasil perhitungan suara sudah resmi diumumkan belum? Penasaran aja sih walaupun rilis hasil quick count masing-masing pihak sudah berseliweran dimana-mana. Kabarnya calon 2 sama 3 unggul ya? Fix! dua putaran berarti.

Ngomong-ngomong soal calon 2 saya salut deh sama tim pendukungnya ini.
Dengan status calonnya sebagai terdakwa penistaan agama, didemo jutaan umat muslim Indonesia, dikritik para ulama, dengan peringai yang emh.. ajaib luar biasa, pasca pemilu banjir masih meluap dimana-mana, masih aja mendulang banyak suara! Bisa banget ya? Tapi ya sudahlah.

Selain video viral tentang non-pribumi ikut nyoblos, bagi saya, ada hal jauh lebih menarik lain untuk dicermati setelah hasil perhitungan cepat oleh beberapa lembaga survei kemarin. Apa itu? Yap, calon nomor 1 atas nama kangmas Agus alias AHY.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setelah semakin mencuatnya kasus penistaan Qur'an, isu agama menjadi salah satu sebab terkotaknya rakyat Indonesia--muslim dan non-muslim yang mana, suka tidak suka  hal ini berimbas pada kecenderungan memilih pemimpin. Muslim pilih pemimpin muslim dan begitu sebaliknya, non-muslim pilih non-muslim. Dalam aturan Islam, istilah #muslimvotemuslim memang ada dalilnya, maka saya sebagai muslim pun memandang itu sebagai sesuatu hal yang wajar. Tidak masuk kategori SARA apalagi sampai melanggar konstitusi 😛. Nah nggak tahu nih dalam kitab-kitab non-muslim. Apakah memilih pemimpin dengan keyakinan yang sama juga bagian dari ajaran mereka?

Jadi ada apa dengan Agus?


Sumber gambar di sini


Ibarat bandul yang masih mengayun bebas, arah kebijakan AHY dan tim (pasca kekalahan kemarin) tentu sangat dinanti-nanti. Dialah penentu akhir (atas izin Allah tentunya) 'mau dibawa kemana Jakarta ini?'. Mengarahkan loyalis atau partai pengusungnya ke calon 2 atau memobilisasi semuanya ke calon 3?

Agaknya memang tidak mudah menjadi seorang AHY. Setelah ayahnya dibegini-begitukan tak hanya di dunia maya tapi juga dunia nyata, selama masa kampanye dia sendiri diserang habis-habisan pihak lawan, setelah kalah pun nyawanya masih harus 'dipertaruhkan' di gelanggang perpolitikan Indonesia *berat berat. Saya sih nggak mau ikut repot berpikir kira-kira AHY ini akan berpihak kemana. Tapi kalau boleh menilai, posisi AHY ini bak makan buah simalakama. Dimakan nggak dimakan tetap beresiko. Apapun keputusannya nanti, yang jelas (menurut analisis awam-lebay saya), AHY akan dikenang sejarah sebagai pahlawan sekaligus penjahat.
Kok gitu, Er?

:)

Memilih calon 2? Mungkin AHY akan jadi idola kaum non-muslim sih, tapi di sisi lain dia akan dikenal sebagai (mohon maaf) pengkhianat sekaligus 'penjahat' agama bagi kaum muslim Indonesia. Sebelas dua belas dengan kisah peruntuhan dinasti Ustmani oleh Ataturk mungkin, meski (semoga) kadarnya tidak seburuk itu. Hehe. Merapat ke calon 3? Juga sama, hanya subjek dan objeknya saja yang berbeda.

Ingin dicatat sejarah sebagai orang yang bagaimana, pilihan kembali kepada anda, Kapten.
.

Dunia menanti. Kita semua masih menunggu, meskipun beberapa pihak dari simpatisan AHY sudah mulai menunjukkan sikapnya. Sejauh saya amati sih rata-rata mendeklarasikan dukungan ke calon 3 meski ada juga yang --kalau pinjam istilah teman--'main di dua kaki' alias cari aman.

Kita simak dan kawal saja. Pilgub putaran selanjutnya, mari memilih dengan jujur dan damai, stop intimidasi terhadap pemilih dan drama TPS (politik susah sih ya). Aku kamu kita bersaudara dan satu bhineka loh. Siapun yang terpilih nanti, mari saling mendukung dan menghargai (dengan catatan tidak ada lagi penghinaan dalam apapun, tentunya). Yang pasti, sebagai warga non-Jakarta namun sayang Ibu Kota, saya berharap kalimat "Keluar aja lo dari Jakarta kalau nggak suka sama pemimpinnya!" tidak akan pernah terdengar lagi. Satu rumah, satu atap, mari benahi bersama. DKI butuh solusi, bukan caci maki :).     

#PilgubDKI #AHY #demokrasi #Jakarta

**

p.s: Boleh komen, asal santun :).
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki