Tahun Baru di Turki: Momen Berbagi Hadiah


Merhabalar~

31.12.2016 hitungan kalender, pukul 22.14 waktu Turki. Di Indonesia jam berapa berarti ya sekarang? Sudah selesai bakar petasan dan tiup terompetnya? Apa? Ada yang masih heng ot di luar? Jam segini? Anak gadis pula? Diizinin emak bapaknya? Duh duh duh.. Pusing pala abang, dek..

Emang harus banget ya ngerayain tahun baru?

Baiklah, kita turunkan kadar pertanyaannya kalau begitu. Mesti banget ya berbahagia dengan nyalain petasan super gede dan bunyiin terompet berbarengan? Filosofinya apa coba?
Ya itu kan yang niup terompet anak kecil kali, Er. Nggak tahu apa-apa, maklumin aja lah. Dimaklumi sebagai anak yang salah asuhan maksudnya? *ngajak ribut ๐Ÿ˜‚ 

Serius. Satu dari sekian kebiasaan 'perayaan' tahun baru di Indonesia yang bikin saya gagal paham adalah meniup terompet. Preet.. preet.. preetttt.........................
Dan bayi tetangga pun bangun tengah malam. Padahal lagi demam. Terus ibunya bingung pontang-panting. Mending kalau cuma sakit demam. Lah kalau ada tetangganya yang jantungan? Plis atuh lah. Kudu banget bunyiin terompet berjamaah?

Di Turki sini saya nggak pernah loh dengar bunyi terompet. Sama sekali. Di malam pergantian tahun baru tepatnya. Entah karena mereka tahu bahwa aktivitas itu akan mengusik ketenangan orang lain atau karena nggak mau buang-buang uang atau memang nggak salah asuhan *eh. Yang jelas malam ini saya menulis blog dengan damai dan tentram. Hehe. Adem banget rasanya.

Yang merayakan tahun baru sih juga ada. Cuma nggak seheboh di Indonesia. Bentuk formal paling standarnya ya, pertunjukan kembang api di pusat kota. Sisanya, normal. Rata-rata orang Turki (tidak semua) akan merayakan momen pergantian tahun dengan cara berkumpul bersama keluarga. Saling mengundang makan atau berlibur ke suatu tempat. Seperti dosen pembimbing saya misalnya, yang memilih liburan ke Kusadasi di tengah udara sedingin ini ๐Ÿ˜ท. Tapi ya, itu pilihan. Yang jelas, saya sangat mengapresiasi prinsip hidup 'tidak mengganggu orang lain demi kesenangan pribadi' mereka. Termasuk dalam urusan pertahunbaruan ini.

Satu diantara tradisi lain perayaan tahun baru di Turki, yang baru saya sadari kemarin sore, adalah saling memberi hadiah. Nah loh. Kalau di zaman Romawi umat kristiani saling berbagi dahan suci sebagai simbol pergantian tahun, umat (Turki) zaman sekarang ternyata bagi-bagi barang alias hadiah.

"Erna, nanti setelah selesai nge-lab, temui saya di ruangan ya. Jangan sampai lupa." Pesan hoca sebelum meninggalkan saya yang masih berkutat dengan kit texture analyzer.

Dikira mau ada apa. Nanyain data tesis misalnya. Eh ternyata..

"Sana ufuk bir seylerden aldim!" (Saya belikan hadiah kecil buat kamu).*Aih, so sweet banget nggak sih* Hoca menyerahkan bungkusan biru berhias pita merah. Nggak sampai di situ, dua hoca lain yang saya kenal baik (dan kebetulan ada di dalam ruangan) juga memberi bingkisan serupa. Waduh, perasaan bukan hari ulang tahun. Kenapa nerima banyak hadiah gini ๐Ÿ˜?





Ini coklat.
Berhubung nggak tega makannya, berakhirlah ia jadi pajangan meja ๐Ÿ™ˆ


"Apa rencanamu untuk malam tahun baru, Erna?"
"Nggak ada Hocam, saya di rumah aja."
"Kalian nggak ngerayain tahun baru di Indonesia?" Tanyanya dengan nada syok, nggak percaya.
"Emh.. saya enggak. Anak-anak muda mungkin iya."
"Yaslisin artik, Erna ๐Ÿ˜‚!" (Tua kamu ya, Erna ๐Ÿ˜‚)

Sebodo ah. Yang penting saya nggak ganggu orang lain. Nggak bakar-bakar uang sia-sia. Nggak ganggu bayi tetangga. Dan yang paling penting mah nggak melanggar syariat agama ๐Ÿ˜›.



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'