Voice of Indonesia Awards: Sekilas Tentang Kompetisi Cerpen Bilik Sastra


Sampurasun sadayana.. Apa kabar OOL'ers? Sehat bugar semua ya, inshaAllah :).


Minggu-minggu ini saya lagi senang bin bahagiaaa banget. Kenapa? Karena beberapa waktu lalu telah berkesempatan terbang ke Indonesia! ๐Ÿ˜† Yeayy~ Akhirnya pulang juga setelah dua tahun bercokol di Turki. Batal deh jadi kembaran Bang Toyib, hehe.

Adalah Voice of Indonesia (VOI) di bawah komando siaran luar negeri Radio Republik Indonesia (RRI) yang berjasa memberikan tiket pesawat PP gratis ini. Kok bisa? Bisa dong.. Lah wong saya ikut lomba dan menang, apa mau dikata? ๐Ÿ˜‚.

Pembacaan cerpen, live streaming via RRI Radio (06/11)

Setiap tahun sejak 2011, VOI melalui rubrik Bilik Sastra menyelenggarakan sayembara cerpen bagi seluruh masyarakat Indonesia yang bermukim di luar negeri--ini syarat utama, tidak bisa diganggu gugat. Yang unik dari kompetisi ini, pesertanya berasal dari kalangan beragam dari berbagai negara! Ada IRT dari Amerika misalnya, entrepreneur, mahasiswa dan yang paling masif buruh migran Indonesia (a.k.a. TKI). Adapun untuk periode penjurian terhitung sejak Juli hingga Juni tahun berikutnya. Saya sendiri ikut mengirimkan karya sekitar bulan Agustus 2015 lalu. Sebenarnya, juara lomba diambil hanya dua orang saja. Tapi.. Khusus mulai tahun ini, kuota pemenang ditambah menjadi tiga. Dan biidznillah, saya lah orang ketiga yang beruntung itu ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜„. Alhamdulillah ala kulli hal (Profil pemenang bisa dilihat di sini ).   

To be honest, awalnya saya tidak tahu-menahu bahwa cerpen yang iseng dikirim ke email voirri@gmail.com ini diikutsertakan dalam ajang lomba--yang saya sadari kemudian ternyata event-nya amat sangat bergengsi (*lebay). Dan lebih epik lagi, usut punya usut semua karya yang masuk ke Bilik Sastra dijuri-i langsung oleh orang-orang hebat dunia kepenulisan seperti Pipiet Senja (penulis), Irwan Kelana (redaktur senior Republika) dan Dadang Sunendar (Direktur Pengembangan Bahasa). Waaa... ingin garuk tembok tetangga rasanya kalau ingat tulisan pendek yang saya kirim begitu semrawut tak karuan. Coba ngeh dari awal, mungkin akan saya tulis lebih baik lagi. Hikss.


Beserta dewan juri dan undangan
(Kiri ke kanan: Pak Asep, Pak Kabul dan Bu Kabul, Mb Nouva, Juara 1, Pak Edi, Pak Dadang, Pipiet Senja, Ahmad Fuadi, Irwan Kelana, Juara 3, Juara 2, Bu Rita) 

Memang apa sih yang begitu istimewa dari kompetisi ini, Er?

Kalau jawaban pribadi saya, yang paling spesial ya.. hadiahnya. Tiket pulang gitu loh! Secara Turki-Indo jaraknya di peta aja jauhan! xD. Apalah kado terbaik bagi mahasiswa kantong tipis yang susah-pulang-meski-nabung-lama selain tiket? ๐Ÿ˜‚.
Yang pelajar aja segini senangnya, gimana yang berstatus buruh migran? Selain excuse dari majikan (karena invitation letter dari VOI) juga bisa bertemu dengan keluarga ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜๐Ÿ˜Œ. What a blessed!   

Omong-omong tentang hadiah, tentu saja tidak hanya terbatas pada tiket pesawat. Setiba di Jakarta, pemenang akan mengikuti acara puncak atau penganugerahan untuk menerima langsung penghargaan berupa plakat, medali, piagam serta bingkisan menarik khas RRI dan tim sponsornya. Selain penginapan gratis (kemarin ini kami ditempatkan di Hotel Santika), akomodasi selama empat hari dan uang saku, peserta juga dibawa tur keliling Jakarta. Tidak semua tempat dikunjungi memang, tapi sangat berkesan. Apalagi ditemani oleh tim panitia Siaran Luar Negeri (SLN) yang oke punya, makin deh betah lama-lama. Hihi.


Congrats, Erna!
Pendamping kece kita (biru: Mb Unun, pink: Bu Rita, merah: Mb Wati)
@Santika Hotel
Selain semua yang tersebut di atas, satu yang paling penting dan jauh lebih berharga bagi saya adalah 'kesempatan belajar'nya. Bagaimana tidak? Di TKP kami dipertemukan dengan orang-orang hebat yang--kalau saya boleh lebay (lagi)--mungkin hanya bisa dilihat di TV, dipampang di koran dan majalah atau ditemui pada acara khusus. Sebut saja "Sang Legenda" RRI Jakarta, Bapak Kabul Budiono, yang suara khasnya dikenal baik oleh seantero Nusantara. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Pak Dadang Sunendar, yang menurut cerita panitia, menghadirkan beliau ini harus melewati ratusan lapis birokrasi ala kementerian. Ahmad Fuadi, penulis muda berjargon Man Jadda wa Jada yang belakangan jadwalnya sibuk luar biasa. Pak Irwan Kelana, yang namanya senantiasa menghiasi aneka kolom di harian Republika. Jangan tanya soal Pipiet Senja yang telah membuahkan ratusan buku bergenre sastra. Duduk bersama dalam satu forum, satu meja, berdiskusi, bertukar cerita, berbagi ilmu dan pengalaman. Berasa mimpi lah sebelahan sama orang-orang keren ini. Hehe.

Pindah ke termin selanjutnya--ini bagian favorit saya--kami diajak berkeliling kantor Republika ! Aaaaa.. Senangnya bukan kepalang >_< !




Bersama Pimred Republika, Pak Irfan (tengah)

Padahal dulu, jangankan masuk ke gedung, lewat depan jalan kantornya aja udah merinding. Bukan karena makhluk lelembutan, tapi karena jiper ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Jangankan ngisi rubrik, ngirim cerpen pun selalu batal. Sieun, takut ditolak. Huhu. Thanks God, sekarang ini menjadi cerita lama. Kalau pulang nanti dan kebetulan main ke Republika, setidaknya saya tahu siapa orang yang bisa dihubungi (re: silaturrahim). Mau kirim karya? Udah tahu juga harus email siapa. Seru lah. Makin semangat nulis deh yak ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ƒ.


Overall.. I'm happy~  





Terima kasih banyak, Allah razi olsun, VOI. You are cool and I love you full ๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ˜



# # #



Berminat dapat tiket pesawat lewat cerpen seperti saya?

Kalau kamu orang Indonesia yang sedang berdomisili di luar negeri, punya cerita menarik inspiratif untuk dibagi, yuk langsung saja kirim ke alamat email Bilik Sastra! Siapa tahu kamulah yang beruntung tahun depan ๐Ÿ˜‰.

Syarat cerpennya apa, Kakak?

Tidak ada format khusus, yang jelas cerita harus original, belum pernah dipublikasikan di media manapun, serta mengandung nilai moral. Panjang cerita sekitar maksimal lima halaman (pada font 12) ya, Kak.
Sebagai tambahan informasi, setiap cerpen yang masuk Bilik Sastra akan diulas (dibacakan, dibedah, dikritisi) secara langsung melalui siaran radio luar negeri RRI. Seru kan? So, tunggu apalagi? Mari menulis ^^9! 

  
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'