Rasa yang Tak Jauh Beda


Kenapa ramai sekali?

Biru, hijau lumut, hitam, merah. Puluhan kotak kaku dengan gagang besi dan roda kecil berserakan tak karuan di depan gerbang asrama. Beberapa mobil kuning sibuk memuntahkan muatannya dari bagasi. Lelaki dan perempuan paruh baya berkerumun sembarang, saling tertawa sambil sesekali menepuk pundak lawan bicaranya. Asap-asap tebal rokok mengepul ringan di sana-sini sementara anak-anak berlarian di sekitar gerbang, mengejar-ngejar kucing belang kecil.

Di bagian dalam, dua guvenlik perempuan tampak khusyu memeriksa tiga buah koper besar yang telah terbuka. Handuk biru, mesin pengering rambut, tas make-up transparan, sepotong jeans hitam dan short menyembul liar. Pemilik koper berdiri tak sabaran memandang tingkah kedua wanita berseragam abu-abu, kesal.

"Icinde sadece kiyafet var, Abla," (Cuma ada pakaian di dalam, Abla) gerutunya. Tidak terima isi koper diacak-acak. Tentu saja, hanya penghuni lama asrama yang akan paham aturan pengamanan pasca kudeta Turki ini. Penghuni baru? Jangan harap mereka mengerti. Tidak sekarang. 

Di sudut lain seorang ibu berbadan besar tampak melambai-lambaikan tangan sementara tangan lainnya sibuk menyeka air mata. Lelaki sepantaran di sampingnya hanya bergeming. Enggan menatap gadis berkepang yang kini membalik badan, memunggungi mereka menuju gedung asrama.

Pemandangan ini..

Benar juga! Sudah satu tahun berlalu rupanya. Tahun baru, ajaran baru, orang-orang baru.

Suasana serupa, riuh ramai yang sama, rasa yang tak jauh beda. Dan semakin ditatap, ia pun semakin bertanya 'kapan kau pulang?'  


Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki