Thank You but I Am Rich


Siang itu saya dan seorang teman Filipina sepakat untuk membeli beberapa kebutuhan di pasar Sabtu, Bolge. Tapi tersebab perut keroncongan yang tidak tertahankan, karena sedari pagi hanya diganjal sepotong pogaca, kami putuskan mampir dahulu ke kedai gozleme*. Sebenarnya NH bilang tidak terlalu lapar, tapi karena saya tidak suka makan sendirian maka dengan sedikit bumbu promosi akhirnya ia pasrah juga.

Ini adalah kedai gozleme favorit saya. Selain karena jenis isian yang lebih beragam dari dua kedai lain, tempat ini juga menawarkan bonus berupa taburan cabe pedas. Satu dari sekian alasan yang sulit ditolak lidah Asia. Letaknya pun tidak terlalu jauh, hanya sekitar 200 meter dari gerbang utama dan lima puluh meter dari pusat pasar, sangat strategis. Disana hanya ada tiga meja kotak mungil dengan masing-masing dua kursi kayu berhadapan. Dua payung besar belang bermerk eskrim lokal, dipasang untuk menaungi dari sengat matahari.
Penjualnya seorang nenek berbadan besar berkacamata. Baik sekali. Saya senang dengan cara ia menyambut dan memperlakukan pelanggan, wajah yang lembut dan murah senyum, caranya mematok harga yang sama meski dengan isian beragam, termasuk menawarkan lebih banyak bubuk cabe. Seringkali saya terhanyut dalam obrolan kecil saat melihatnya merentangkan kulit lumpia dari adonan. Merentangkannya di atas ketel cembung super besar dan menuangkan bergenggam isian sesukanya.

"Segini cukup? Atau mau tambah lagi?" tanyanya, masih memegangi botol cabe bubuk kering.      

Saya memesan gozleme isi jamur-mozarella-bayam sementara NH memilih kombinasi bayam-peynir**. Setelah memastikan pesanan ditaburi cukup cabe, kami menuju meja tepat di samping dua orang bibi yang menikmati hidangan mereka sambil mengobrol santai. Dan untuk beberapa menit pertama saya bisa merasakan aroma penasaran mereka atas kehadiran yabanci di kedai ini.

Sepertinya ajakan dan promosi saya tidak sia-sia. NH khusyu sekali dengan gozleme bayamnya. Sibuk beralih antara mengunyah dan minum. Saya sampai bingung sebenarnya siapa tadi yang mengaku tidak terlalu lapar.
 
"Sst.. Kamu liat itu, Day***?" saya berbisik sambil menunjuk dengan isyarat mata ke kanan.

Seorang lelaki tua berbadan besar mengenakan sehelai rompi orange menyala yang tampak usang, dengan noda hitam di beberapa bagian. Celana kain berwarna antara hijau dan abu-abu, kontras dengan topi putih lusuh yang dikenakannya. Menyaksikan ia menyeret sebuah karung besar sambil tertatih-tatih cukup membuat saya kehilangan selera makan saat itu. Rasa perih perut yang belum terisi makanan dari pagi, hilang seketika saat melihatnya mengaduk-aduk sampah daun kulit jagung.

Apa mungkin dia nyari bonggol jagung yang terbuang? 

"Kasihan sekali," gumam NH lirih. Menurunkan genggaman gozleme ke meja. Saya mengangguk lemah tanpa mengalihkan pandangan dari si kakek.

Berselang beberapa menit ia berjalan menuju deretan penjual buah-buahan tak jauh dari tempat kami makan. Tampak menengok sesaat dan mungkin mencoba untuk mengobrol dengan penjual. Tidak ada yang menanggapi. Sebaliknya, orang-orang di sekitarnya hanya melirik enggan seolah ia objek yang tak tampak. Pemandangan serupa yang mengingatkan saya kepada seorang perempuan Suriah peminta satu dua buah atau seikat sayur dari para penjual.
Bedanya, jika orang Suriah itu berhasil mendapatkan simpati dari penjual dengan sebongkah kentang atau sebuah tomat merah, kakek ini tidak. Alih-alih memberinya sesuatu, mereka mengabaikannya.

Apa dia butuh sesuatu untuk keluarganya?

Ketika saya sibuk dengan pikiran sendiri, sosok itu telah menghilang ditelan keramaian.

"Day, udah beres makannya?" Tanya saya dengan nada terburu-buru, meski tahu betul gozleme di tangannya masih setengah porsi. Untunglah NH cukup toleran. Dengan sigap membungkus kembali makanan dan menyelipkannya di bagian belakang tas saat melihat saya berusaha menjejalkan potongan terakhir lumpia ke mulut.

Setelah menyerahkan beberapa koin logam, saya menarik paksa NH berjalan menyusuri koridor pasar yang telah penuh sesak.

"Kita mau kemana?"
"Cari orang."
"Siapa?"
"Kakek pembawa karung."
"Terus kalau ketemu mau apa?" Langkah saya terhenti, melepaskan pegangan dari lengan NH. Benar juga. Saya tidak berpikir sejauh itu tadi. Kalau sudah ketemu lalu mau apa?

Mata saya bergerak liar menerawang seisi barang jualan di pasar. Kentang, tomat, bawang bombay, kacang-kacangan, pisang... nah itu dia!

"Kita kasih dia buah," jawab saya kemudian, kembali menarik lengan NH menerobos keramaian.

Setelah menyerahkan logam tujuh setengah tele, kami bergegas kembali menyusuri pasar arah sebalikan. Memasang mata baik-baik mencari sosok berompi orange. Dilihat dari kecepatan berjalan, seharusnya ia belum pergi jauh. Tapi dimana?

"There!" Pekik NH, menunjuk seseorang berbadan besar yang tampak kelelahan di bawah pohon ceri kecil. Tepat di belakang lapak penjual jagung yang sedang mengupas kulit-kulitnya. Dengan telaten ia masukkan helai demi helai kulit lonjong berwarna hijau itu.

Tiga menit, lima menit, tujuh menit..

Sepuluh menit berlalu tapi pekerjaannya seperti tak kunjung usai. Kalau boleh mengabaikan norma sopan santun dan menjaga perasaan, rasanya ingin sekali saya berlari kesana. Membantu memenuhi karung dengan segenap tenaga, secepat mungkin. Kemudian menyerahkan pisang ini dan melanjutkan rencana belanja. Tapi saya sadar itu tidak mungkin. Apalagi dengan status sebagai yabanci, tindak-tanduk kami pasti akan mengundang banyak perhatian. Dan lagipula saya tidak ingin memberi dengan melukai perasaan si kakek karena rasa malu dan sebagainya. Tidak ada pilihan lain, kami harus menunggu.

Sudah tiga kali balikan saya dan NH menyusuri jalanan ramai itu. Tapi pria berkarung masih saja berkutat dengan pekerjaannya. Pria jangkung kurus penjual semangka memperhatikan kami tidak wajar, heran. Saya sempat berpikir untuk menunggu saja di lantai beton belakang truk semangka sampai keadaan memungkinkan tapi niat itupun akhirnya dibatalkan. Akan bahaya kalau kami kehilangan si kakek. Padahal sudah kami selingi dengan belanja barang kebutuhan dapur supaya tidak bosan menunggu. Apa boleh buat?

Untunglah selang beberapa menit kemudian karungnya tampak penuh. Ia menyadarkan badan di pagar beton rendah dekat pohon seraya mengusap peluh. Kebetulan sekali kondisi pun sedikit lengang. Saya dan NH memutuskan untuk berpura-pura rehat di depan apartemen kosong di dekat si kakek.

Setelah memastikan semuanya aman, saya memberanikan diri menyapa.

"Kolay gelsin, Amca," mata ela itu menatap saya dalam. Rambut ubannya, keriputnya, tetesan peluhnya, wajah lelahnya.. ya Allah.. iba saya dibuatnya.

"..bolehkah saya memberi anda sesuatu?" Redaksi serupa yang sering digunakan orang Turki ketika menawarkan bantuan. Karena hari telah menjelang sore, saya merasa tidak cukup banyak waktu saat itu. Maka mengatakan langsung maksud sebenarnya adalah pilihan terbaik yang saya punya.

"Efendim?" Tanyanya. Entahlah apakah dia tidak mengerti maksud saya atau suara saya yang tidak terlalu jelas.

"Bolehkah saya memberi anda sesuatu?" Ulang saya lagi, kali ini lebih keras. Mengantisipasi kalau-kalau beliau sudah kurang dengar.
 
Saya menunjuk kantong plastik berisi pisang di belakang, tepat di samping NH yang berdiri mengamati percakapan kami. "Kebetulan saya membeli buah tadi, kalau boleh saya ingin membaginya dengan anda."

Demi Tuhan, saya tidak mengharap apapun dari si kakek. Beliau menerima tawaran saya saja, saya akan sangat senang sekali. Tidak banyak memang. Bukan barang mahal pula. Tapi semoga yang sedikit ini bisa menjadi perantara rezeki untuknya.

"Tesekkur ederim," sambutnya mengawali. Meletakkan telapak kanan di dada pertanda terima kasih.  Sesaat menghembuskan angin segar akan harapan saya saat itu sebelum kemudian dia berkata,

"ben cok zenginim." (I am a very rich man).

Harapan tinggal harapan. Siapa yang menduga jika transaksi siang itu akan berakhir dengan jawaban yang tidak pernah saya sangka.

Terima kasih, tapi saya orang kaya.

Sekaget mendengar halilintar di langit Izmir tadi malam, saya mematung kaku atas jawaban si kakek. Diakuinya puluhan hektar kebun jeruk dan ladang buah-buahan. Puluhan ternak besar dan kecil yang harus diberi makan dengan pakan kulit jagung. Dia yang seorang pensiunan namun suka bercocok tanam ketimbang berdiam diri di rumah. Keempat anak lelakinya yang telah besar dan sukses. Ditambah sedikit celoteh tentang traktor pengangkut ransum yang sedikit bermasalah di bagian rodanya.

Terima kasih, tapi saya orang kaya.

Itukah sebabnya dia tidak menerima buah dari penjual saat mengobrol di lapak mereka? Karena memang ia tak meminta? Inikah alasan dia tidak malu mengais-ngais sampah jagung di pasar? Demi ternak? Lalu bagaimana dengan pakainnya? Rompi polisi lusuh itu pertanda apa? Sebab bekerja di kebun dan ladang?

"Kamu orang Somalia?" tanyanya polos. Pertanyaan janggal serupa yang entah bagaimana tidak sanggup saya debat kala itu. Pikiran saya terlalu sibuk dengan prasangka dangkal tak berdasar--seorang kakek tanpa anak yang sedang kekurangan dan dia butuh dibantu.

# #

"Kayanya kakek tadi bohong deh, Na." saya memiringkan kepala ke arah NH.

"Tentang bahwa dia orang kaya." Kali ini saya mengernyitkan alis, menunggu penjelasan.
"Soalnya tadi aku yakin betul liat dia ngambil sesuatu dari karung kotor itu terus dimakan. Pas istirahat tadi, sebelum kita nyapa dia."

Sekali lagi, saya menatap sekilas sosok tua yang tampak semakin jauh dari balik bahu.

Terima kasih, tapi saya orang kaya.

Perkataan NH mungkin ada benarnya. Di Turki banyak orang yang berpura-pura kaya. Tapi saya tidak ingin terjatuh di lubang yang sama, menyangka hal yang tidak-tidak. Andai pun pada kenyataannya dia seorang papa, paling tidak kedudukannya tetap terhormat di mata manusia. Karena ia telah menjaga dirinya dari meminta-minta.

Tidak apa, mungkin pisang ini memang rezekinya Erna dan NH :).

# # #


*Sejenis lumpia kering
**keju putih
***Tagalog: Neng, panggilan untuk seorang gadis




Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'