Anne Anne Anne


"Anne..," (Ibu) 
suara teriakan diantara kerumunan lalu lalang pasar itu menarik perhatian saya. Jelas, tegas, kencang sendiri, meski di tengah hiruk pikuk orang ramai berjual beli. 

"..gel suraya." (ayo kesini)
mata saya tergerak untuk menelisik sosok bersanggul yang dipanggil anne itu. Perempuan dengan setelan kaos dan celana jeans longgar terus menggeloyor sembari menggendong batita di lengan kiri. Entah pura-pura tidak mendengar atau sengaja tidak menggubris panggilan ibu muda di belakangnya. 

"Anne! Gelir misin?" (Ibu! Kesini nggak?) Nada kesal kini terdengar dari suaranya. 

Tak ada pilihan. Sang ibu berjalan patuh mendekati anaknya yang sedari tadi bergeming bak patung di depan trolley bayi.      
"Karar ver!" (putuskan [mau kemana]) ancamnya galak. Kacamata hitam bertengger di kepala, kedua lengan terlipat di dada, mata merona menyala. Sesaat, pemandangan itu tampak seperti seorang ibu memarahi anaknya yang rewel di pasar. Padahal kenyataanya justru berkebalikan. 

Ia mengehela napas pelan. "O tarafa gidelim." (Kita kesana aja) Jawab si ibu akhirnya. Tidak ingin memperpanjang urusan. Meski tak tampak raut mukanya, tapi ada nada kesedihan mendalam di sana. 

"Emin misin?" (Yakin?) tanya si anak lagi, masih dengan nada mengancam. 

Sang ibu pun hanya mengangguk lemah. "Evet." (Iya) 
Sementara punggung keduanya munjauh, batin saya merintih perih. Mengutuk diri atas bebalnya sikap hati. Atas waktu yang tak pernah bisa kembali. 

Kapan terakhir kali kamu berteriak kasar kepada ibu, Er?  

SD?

SMP?

SMA?

Sarjana?

Astagfirullahaladzim.. Astagfirullahaladzim.. Astagfirullahaladzim..


Beni affet, Anne.
Maafkan Teteh, Mah. 
Maafkan putrimu ini, Ibu.. Ibu.. Ibu..


        
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki