Balkon Gadis Nakal


Jika harus ada satu bagian dari asrama  yang paling tidak kusuka di sini, maka jawabannya adalah balkon.

Dengan jiwa yang kuyakini memang introvert, aku selalu memilih untuk diam dan memendam perasaan. Meski harus menderita sendiri pada akhirnya. Seringkali aku lebih banyak berlindung di balik punggung Kenia--sesama yabancı satu lantai asrama--saat merasa keberatan akan sesuatu. Keberatan dengan toilet rusak, air panas yang mendadak berhenti, protes tentang jemuran kering siapa yang ada di gantungan di luar kamar, mengeluh tentang baju basah yang diangkat dan ditumpuk gadis turki seenaknya, apapun. Dan seperti yang bisa kalian tebak, Kenia selalu jadi orang pertama yang berdiri untukku. Hingga di suatu pagi buta, gumpalan asap memenuhi seisi koridor asrama.

Seorang gadis berambut pirang keriting yang tidak kukenal sedang asik-asiknya menghisap rokok. Berkreasi dengan kepulan putih di udara.

'Salak!'(1) Umpatku pelan. Sesekali terbatuk-batuk sendiri tak karuan. Gadis bodoh mana yang sudah merokok sepagi ini? Merbiarkan pintu balkon terbuka pula? Salah besar jika dia mengira tak ada seorang pun yang akan terbangun pada jam begini dan memergoki perilakunya.

Baju yang kusetrika tak kunjung rapi. Kesal, aku berdehem sekali lagi. Kali ini lebih keras. Sengaja, berharap perempuan di mulut pintu sedikit peka dengan sinyal keberatan yang kulayangkan. Tapi sepertinya sia-sia saja. Jangankan beranjak untuk menutup pintu, menoleh pun tidak.

Ayo ingetin aja, Ta. Nggak papa, ini kan hak kamu. Dia yang salah kok. Batinku merayu. Kulayangkan pandangan ke arah pintu sesaat tapi kemudian menunduk lemas, menghela napas pelan.
Aku tidak cukup berani.

Andai Kenia ada di sini sekarang, mungkin dia akan memarahiku karena memilih terbatuk-batuk sendiri daripada menegur gadis nakal itu. 'Gadis nakal', gelar yang kami sematkan pada perempuan-perempuan perokok penghuni balkon asrama. Heh.. Lucu juga kalau mengingat bahwa ternyata Kenia dan aku memiliki kesamaan presepsi tentang ini. Terserah orang mau bilang kami kuno atau apa, yang jelas bagiku dan mungkin juga bagi Kenia, imej perempuan perokok adalah sama di manapun; nakal. Tidak peduli apa latar belakang sejarahnya atau faktor yang mempengaruhinya. Setidaknya itulah patokan nilai yang ibu-ibu kami ajarkan di rumah.

"Kenapa perempuan di sini banyak yang merokok?" Tanyaku pada Varol suatu hari. Demi apapun, rasa penasaran ini benar-benar bisa membunuhku.

"Why? Kamu nggak suka dengan perempuan perokok ya?"

"Eh? Soal itu.. Emh.." Gelagapku salah tingkah. Tidak menyangka ia bisa menerka arah pikiranku.

"Stres. Mungkin karena stres.." Jawabnya ringan. Memainkan batang gabus kecil diantara jemari, menghisapnya sesekali.

"Karena rokok bisa memberikan sensasi tenang. Jaminan perasaan bahwa kamu tidak perlu khawatir tentang apapun.."

Stres? Khawatir?

Kutatap pintu balkon sekali lagi. Gadis itu masih tak bergeming dengan rokok diantara jemari lentiknya. Kasihan sekali sepagi ini sudah stres, batinku.

Tidak, tidak! Ini bukan waktu yang tepat untuk berempati. Aku tidak ingin  pulang dari Turki dengan riwayat kelainan paru-paru akut karena menjadi perokok pasif.

"Ehem.. Pa.. Pa.. Pardon?"(2) sebuah suara meluncur dari mulutku. Cukup jelas. Takut-takut, kuintip reaksi si gadis dari ujung mata. Berharap sesuatu terjadi.
Nihil.
Apa suaraku kurang keras ya?

"Emh.. Pardon?" Asap rokok tetap mengepul.
Kuletakkan gagang setrika. Mencoba berkonsentrasi lagi memanggilnya.

"Affedersiniz.. ?"(3) Sama saja.
Atau bahasa Turkiku kurang jelas?

"Bakar mısınız.. ?"(4)
Kali ini dia bergerak! Tapi hanya menunduk, menguburkan kepala diantara kedua lututnya.

Eerrrgghh..

Ya Tuhan, kenapa sulit sekali?
Dalam bilangan detik aku benar-benar membenci diriku. Separah inikah menjadi seorang introvert? Sakit kamu, Ta!
Sakit!

Uhukk.. Uhuk.. Huk..

God, how I wish Kenya were here with me. 

What should I do, Kenia? 
How can I..?

Kamu bisa, Ata! Separuh hatiku berbisik. Ingat pesan Kenya. Di Turki, kalau kamu merasa nggak enak sama orang lain, kamu yang bakal nggak enak.
It's ok, Ata. You can do it!

Ya, aku bisa Kenia. Aku bisa.
Kupejamkan mata, menggenggam gagang setrika erat.

"BAKAR MISINIIIZ..?!"(5) Suara napas terengah berburu dengan gemuruh angin pagi di luar.

I did it Kenia. I did it. 

Kubuka kelopak mata perlahan. Sebuah kepala telah menoleh. Gadis itu menatap tepat ke arahku! Ke sumber suara yang memanggilnya setengah gila.

"Lütfen, kapıyı kapatabilir misiniz?" Gadis itu mengangguk patuh. Aroma heran bercampur sedikit ketakutan menguar dari wajahnya. Tapi aku sudah tak peduli. Kucabut kabel setrika paksa. Menyambar baju sedapatnya.

"Teşekkürler." Gumamku sambil berlalu. Melayangkan pandangan terakhir yang aku sendiri tak tahu artinya. Mungkin emosi tak tertahan atau kelegaan yang tak terdefinisikan.

I did it, Kenia. I did it. 

***

(1) stupid
(2) pardon, sorry there
(3) (4) excuse me
(5) would you please close the door?

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki