Nike Ardilla, Sosok Maestro 21 Tahun Silam

Ceritanya lagi ngaso bikin proposal tesis. Entah gimana ceritanya, dari facebook tiba-tiba nyasar ke youtube dan nemu lah satu playlist berjudul 'Best Collection of..'

Scroll down..
Dari sederet nama penyanyi papan atas yang mejeng di layar, saya klik lah satu nama yang sepertinya pernah ada di relung memori masa lalu

Dunia ini panggung sandiwara,
ceritanya mudah berubah.
Kisah mahabrata atau tragedi dari Yunani.
Setiap kita dapat satu perangai yang harus kita mainkan.
Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.
Mengapa kita bersandiwara?
Mengapa kita bersandiwara?
  
Dan ingatan itu pun muncul satu persatu.

Mempunyai seorang teman sepertimu,
seumpama duri menikam hati..
'Wiwiii.. leutikan radio teh ni tarik2 teuing!' [Wiwii.. kecilin radionya, kenceng amat!] teriak Wa Enung dari dapur, meski masih kalah kencang dari lengkingan kaset Nike yang diputar gadis bungsunya. Adalah Wiwi, kakak sepupu sekaligus tetangga depan rumah yang nge-fans banget sama Nike Ardilla. Kaset-kasetnya (dulu belum ada CD ya) diborong dari seri A sampai Z. Semua gayanya ditiru pol mulai dari style baju oblong, model rambut dari panjang jadi agak bop, dari warna item sampai agak kecoklatan, pake topi kebalik, pasang aksesoris bandage item tangan, ah macem-macem lah. Saya aja yang dulu masih kecil (usia 4 atau 5) bingung liat tingkah Teh Wiwi, gimana emaknya :P? Belum lagi kalau saban pagi diputerin lagu-lagu Nike, meskipun nggak ngefans, gimana anak seumur saya nggak hapal? Ckck.

Saya kira dulu sindrom Nike Ardilla cuma populer di kota kayak Bandung atau Jakarta aja, ternyata di desa juga! Kaget aja pas liburan ke rumah nenek tiba-tiba ada aroma melodi Nike, dinyanyikan dengan lirik yang tidak akrab di telinga.  

'Pesah! (Pesah..) terserah apa maumu..' raung Lilim seusai ngisi bak air di depan rumah. Saat yang sama saya dan Diwan bakal terpingkal dengan tingkahnya. Eh, maneh nyanyi lagu naon, Lim? Bukan pesah, tapi bosan! Hahaha..

Bosan! (Bosan..) Terserah apa maumu,
Jalanku masih panjang.. 
 *dan kita mendadak koir sambil ngibrit ke rumah. 
  
Bener-bener lagu segala suasana banget nih emang. Memorable pisan. Sekarang begitu dengerin lagi itu rasanya...

Ya Allah.. baru ngeh kalau Indonesia pernah punya seorang legenda macam beliau.

..From 1975 to 19 Maret 1995..

Hah hah? Saya amati sekali lagi angka yang tertera di layar laptop. Eh bentar deh. Teh Nike wafat di usia 20 tahun? Muda banget! Kok baru ngeh, ya? Oh my.. Erna, kamana wae??

Hehe. Harap maklum ya saudara-saudara, sekali lagi, saat itu usia saya masih 5. Belum ngerti kalau momen artis meninggal itu adalah hal menyedihkan. Gak paham juga kalau dulu Teh Wiwi potong rambut lebih pendek (lagi) demi menunjukkan rasa belasungkawa atas kepergian idolanya. Bahkan pun saat mendengar selentingan berita miring meninggalnya NA akibat kecelakaan mobil (karena minuman keras) saya nggak terlalu peduli. Buat saya, yang penting masih dapat uang jajan, cukup.  Dasar budak leutik! -_-

Esok hari adalah tepat meninggalnya Teh Nike 21 tahun lalu. *ini kebetulan atau kebetulan?* Iseng-iseng saya baca beberapa tulisan lama dan lihat beberapa kliping elektronik yang menuliskan beberapa asumsi kecelakaan maut beliau. Nggak ada maksud khusus sih, cuma penasaran dengan kebenaran rumor yang saya dengar dua dekade silam. Kesimpulannya? Gak semua yang loe denger itu bener, Er. Dan hidup tidak pernah berjalan seinosen itu.

Well, terlepas dari banyaknya bumbu yang mengiringi kepergian Teh Nike (kok mendadak ngerasa deket gini sama doi, hehe) dan berbagai kejanggalan kisah kematiannya.. semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Takdir Allah, qadarnya harus begini.

Cuma emang dasar saya aja suka iseng ngebayangin kalau sekarang Teh Nike masih ada, kira-kira bakal gimana ya?
-Akankah tumbuh subur penyanyi-penyanyi lain diantara puncak popularitasnya yang tak terbendung?
-Kalau sekarang punya anak, mungkinkah pinter nyanyi juga seperti dia dulu? Siapa ya suaminya?
-Akankah berhijab seperti Teh Desy Ratnasari? Atau berhijrah seperti Mb Peggy Melati?
 *baper kan jadinya T_T* Pantes aja agama melarang kita berandai-andai, ternyata bikin sedih, hiks.

Meski nggak kenal dan bukan bagian dari Nike Ardilla Fans Club (NAFC), tapi kamu pernah menjadi bagian dari masa kecilku, Teh Nike. Untuk sehari kemarin, selamat karena duniamu telah mengalihkan dunia tesisku, Teh xD.


Sumber gambar: myspace.com


Walaupun nggak sempet tahu banyak, tapi saya percaya kalau Teh Nike itu orang baik, auranya baik dan berpotensi menjadi sosok yang lebih baik. Orang Sunda gitu *rasis detected.

Apa saja bisa kau raih
Karena mimpi-mimpi membuka mata
Biarkan khayalanmu melayang-layang
Disana...

Bahagia tak ada batasan pasti
Karena itu dia milik semua orang
Jangan kau iri hati,
Hanya karena orang lain lebih tinggi

Bila hari ini kau gagal
Jadikan esok hari kemenanganmu
Biarlah kemana mimpi-mimpi pergi
Disana, karya besar kan menanti
Menanti...

Hidup adalah belajar. Dan belajar bisa dari apapun, dari siapapun. Dari kisah hidup Teh Nike saya belajar bahwa masa muda adalah masa yang paling berharga dalam siklus hidup manusia. Berkarya sebaik-baiknya selagi muda, selagi sempat, selagi bisa karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan menjemput kita.
Semoga Allah limpahkan ampunan dan rahmat bagimu, Rd. Rara Nike Ratnadilla.

Betewe, @NAFC, boleh saya gabung jadi fans barunya Teh Nike?
*Udah malem.. bubar er, bubar!*

Thes-is Nesis
Bornova, 2016
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki