Berkurang tapi Bertambah


Di dunia ini ada hal-hal yang hukumnya bersifat paradoks, berkebalikan. Seperti negatif tapi positif. Tampak merugi padahal hakikatnya untung. Seolah berkurang tapi justru ia bertambah bahkan berlebih-lebih. Apa itu? Traveling, Silaturrahim dan Wakaf.

Berkurang itu dalam perspektif duniawi, dari segi materi. Tapi dari segi kebahagiaan, kepuasan hati, banyaknya pengalaman, keterpenuhan batin.. semuanya sungguh sangat tidak tergantikan. Jauh

Nggak percaya? Coba deh yuk simak uraiannya.

1. Traveling


The only thing that spend your money but makes you even richer is traveling..

Pernah nggak liburan ke satu tempat yang menguras habis semua budget kamu kemana-mana. contoh paling kecil, backpacker deh. Uang morat-marit. Tidur semeremnya. Makan seadanya. Nggak mandi menyisakan badan selengket dan sebau-baunya. Istirahat seminimnya. Jalan terus sampe badan lunglai seremuk-remuknya. Tapi kok masih bisa senyum sumringah di foto?

Oke, mungkin kita sempat menyesal saat itu. Keluar banyak uang, lelah, temen perjalanan yang nyebelin,  nyasar pula di tempat antah berantah. Sekarang kalau kita kilas balik cerita perjalanan, lihat kembali foto usang menyedihkan saat berdiri di puncak Bromo atau di titik terujung tembok Cina misalnya, akankah kamu menyesali kisah yang telah berlalu? Meminta Tuhan untuk tidak pernah menyisipkan sepotong episode 'kisah menghebohkan' itu dalam hidup kamu? Saya yakin jawabannya adalah tidak. Kenapa? Kau lebih tahu alasannya. Hehe.

Manusia tidak pernah tahu ke mana takdir Tuhan akan membawanya.. Iya, kan?

2. Silaturrahim


Adakah hal di bumi ini yang jauh lebih menyenangkan daripada memiliki banyak kerabat dan kawan? Bahkan rasul saw pun berwasiat kepada setiap anak adam untuk menjaga silaturrahim dengan famili orangtua kita yang telah meninggal.

Sungguh bersilaturrahim itu memperpanjang rezeki..

Saya ambil contoh terkecil di kalangan penerima beasiswa YTB di Turki. Apa yang kamu lakukan ketika hendak bepergian ke suatu tempat asing yang belum pernah kamu tahu seluk-beluknya? Pasti orangtua akan sibuk mencari 'Siapa kenalan mamah/ papah yang kerja di sana? yang tinggal di sana?' atau 'Eh aku punya teman kuliah dulu di daerah ini atau di negara anu. Kalau kamu perlu bantuan nanti aku hubungi doi barangkali bisa membantu.'

Pernah mengalami hal serupa di atas? Nah kan. Rezeki tidak harus selalu berbentuk uang. Pertolongan, pendampingan, segelas teh/ susu hangat pelepas lelah, traktiran makan, bantuan tempat tinggal barang satu dua hari, sekarung pisang raja dari kampung *modus. Banyak lain lagi. Dan semua itu adalah rezeki. Lalu kita pikir dari mana pintu rezeki itu bermula? Silaturrahim.

Berawal dari bantuan sepele, obrolan kecil dan kunjungan-kunjungan yang mungkin sering kita kutuki dulu. 'Ah ngapain pergi ke tante anu, ngabisin uang aja buat ongkos,' 'Nggak usah lah hadir ke nikahan temen lama toh dia juga nggak akan ingat,' 'Yowes sih ndak perlu sowan segala. Itu kan temen Ibu sama Bapak dulu, bukan temenku.' Nah kalau ternyata suatu saat kita perlu bantuan mantan kerabat orangtua kita, piye? Hehe. Ini pemisalan kasar saja sih. Yang jelas, what goes around also will come around. Yang ingin saya tekankan di sini adalah tidak ada ruginya loh bersilaturrahim. Percaya deh. Ingat bahwa rezeki tidak selalu harus dolar. Who knows calon imam/ makmum kamu ternyata adalah anak tante/ om anu? Eaa.. jadi semangat silaturrahim, kan xP.

3. Sedekah jariyah aka wakaf


Kalau yang satu ini sudah jelas banget jaminannya. Satu diantara amalan yang pahalanya mengalir sepanjang zaman bahkan tak tersekat oleh ajal--wakaf. Dari segi harta, memang berkurang. Tapi, seperti yang saya singgung di awal, dalam hidup ini ada hal yang ketika kita membuatnya (uang) berkurang kita justru memperoleh jauh lebih banyak. Tidak terbayarkan. Dan wakaf-lah salah satunya. InshaAllah.



Kamu, yang selalu merasa kekurangan, mungkin tidak ada salahnya mencoba salah satu diantara trio paradoks di atas: traveling, silaturrahim dan sedekah jariyah ;).

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki