[Post-Watching Reaction] Film 3: Alif, Lam, Mim

Judul film: Tiga-Alif, Lam, Mim
Genre: Drama, action
Sutradara: Anggy Umbara
Produksi: Ram Punjabi
Casts: Cornelio Sunny (Alif) , Agus Kuncoro (Mimbo), Abimana Aryastya (Herlam), Prisia Nasution (Laras/ Nayla), Tika Bravani (Gendhis)



Alif Lam Mim


Ada yang udah nonton film 3?

Kata seorang bijak, suatu karya dikatakan berhasil manakala karya tersebut mampu menimbulkan efek terhadap penikmatnya. Efeknya tentu bisa macam-macam; mempengaruhi emosi, mengubah cara pandang dan pemikiran terhadap sesuatu, mengubah cara bersikap ke dalam maupun keluar diri, dll. 

Nah, kalau pakai patokan kesuksesan di atas, bagi saya pribadi film TIGA tergolong karya yang berhasil itu. Kenapa? Karena setidaknya menyebabkan beberapa hal berikut pada diri saya selaku penikmat filmnya *hallah

1. Setelah menonton film ini saya bisa 'paham' kenapa TIGA harus ditarik dari peredaran.    
Pertama kalinya dalam sejarah perfilman Indonesia, ada cerita yang berani mengangkat isu sensitif, jika saya boleh bilang demikian. Secara yang dibawa dalam skenario adalah para petinggi negara! Kalau di drama Korea atau film action barat, film yang mengusung tema pemerintahan, politik dan bahkan melibatkan pihak kepresidenan udah banyak banget. Tidak ada larangan dan semuanya sangat diapreasiasi oleh semua kalangan, karena toh ini memang seni. Mereka bermain dalam koridor fiksi yang menurut saya sah-sah saja. 
Di awal kemunculannya, saya sempat bertanya-tanya kira-kira film ini akan dianggap mengancam 'kepentingan orang besar' di atas sana nggak ya? Eh ternyata, beneran ditarik dari peredaran. Kenapa bos? Feel a bit insecure about this film? Atau pesan yang disampaikan TIGA memang benar adanya

2. Sikap saya jadi sedikit banyak berubah dalam 'memandang' Indonesia. Ketika peristiwa bom Sarinah terjadi misalnya, mungkin saya termasuk salah satu orang yang sejak awal tidak tertarik untuk menggunakan hashtag2an bahkan sebelum beredar broadcast whatsapp tentang himbauan penghindaran hashtag ini. Dan dengan skeptis-nya saya akan bilang 'Mari kita lihat apa yang mereka inginkan? Seberapa jauh yang sanggup mereka lakukan pada negeri pesakitan ini?'

3. Jadi konspirasinyanya mau mulai dimunculkan lagi nih? 

4. Film sejenis TIGA tidak akan pernah punya tempat di Indonesia hingga masyarakat kita 'bangun' dari buaian mimpi panjangnya, hingga para nasionalis kembali sadar akan arti ke-nasionalisme-annya, sampai penduduk kita cerdas atau setidaknya mau dicerdaskan, sampai kita berhenti bermain stupid monkey game terhadap realitas negeri yang ada. Kapan itu terjadi? Saya yakin setiap kita punya jawabannya; it depends on us. On us.  

5. Dan gara-gara nonton TIGA, why am I getting so serious? Naega kapchagi wae? *indikasi butuh ski ke Bursa nih.
  
Kamu yang belum sempat nonton, ayo ditonton sekarang filmnya. Sebelum ditarik dari peredaran. Hihi. Ups, udah ditarik ya?

   
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki