MashaAllah ala Turki vs Indonesia

Ada satu hal yang membuat saya terheran-heran ketika pertama kali mengobrol dengan orang Turki. Ceritanya udah kursus bahasa nih selama beberapa bulan, jadi lumayan agak casciscus dan bisa ngerti dikit-dikit. Hehe.  

A: Kamu orang mana?
B: Indonesia
A: Cantiknya. Aku suka caramu memakai jilbab.
B: Terima kasih. [senyum]
A: MashaAllah..
B: [mendadak berhenti senyum, melipat kening] Lah, ini orang muji apa bukan sih, kok bilangnya MashaAllah? Emang cantik musibah, ya? Bilang Subhanallah kek gitu. 

Di lain kesempatan..

A: Burada okuyor musun? Sekolah disini (Turki)?
Z: Evet. Iya.
A: Cok guzel, Maşallah. Very good, MashaAllah.   
Z: @.@

OT: Cocuk asiri zekidir, Maşallah. Dia pintar sekali, MashaAllah.
Sy: [masih mikir]

OT: Aih.. ne kadar tatlisin ya. Maşallah. Ya ampun.. lucu banget sih kamu. MashaAllah.  
Sy: [Mulai ngeh]

Oalaaah.. jadi MashaAllah ini dipakai untuk memuji toh. Menyatakan ekspresi kekaguman atas suatu keindahan atau kebaikan. Duh, dudul banget de ah. Pantesan suka agak-agak roaming gimana gitu kalau ada orang ngobrol sambil senyum-senyum tapi diakhiri MashaAllah. Maklum, di Indonesia alam bawah sadarnya tersetel untuk mengucap Subhanallah kalau lihat yang baik. Dan MashaAllah justru untuk yang buruk. Eh ternyata kebalik. Hehe.


Gambar: najahijab.tumblr.com

    
MashaAllah artinya '(sesuatu yang baik) itu terjadi atas kehendak Allah'. Diucapkan saat merasa takjub, kagum, mendengar hal baik atau melihat hal indah.
Sementara kata Subhanallah berarti 'MahaSuci Allah (dari keburukan demikian)'. Dilirihkan ketika mendengar sesuatu yang jelek, kejahatan atau kemaksiatan.

Nah, saking seringnya dengar kata MashaAllah bertabur di setiap obrolan dan kesempatan, alam bawah sadar saya justru ter-setting sebaliknya sekarang. Setelan yang tentunya lebih tepat, inshaAllah. Bahwa kalau melihat apapun yang bagus-bagus, yang baik-baik, maka yang pertama kali ter-tasbih adalah MashaAllah dan bukan Subhanallah. Ini nih yang masih suka kebolak-balik di Indonesia. Ada yang merasa? Hehe.

Aduh ya udah sih cuma salah ucap doang. Rempong banget ngurusin beginian. Yang penting kan kagak dosa!

Betul. (InshaAllah) nggak dosa memang, tapi bakal terdengar aneh nggak sih kalau kita menempatkan kata yang tidak sesuai konteksnya? Misalkan kita cermati contoh dialog singkat dari sebuah film yang saya tonton beberapa hari lalu. 

X: Hasbi kamu kenapa?
Y: Jatuh dari sepeda, Bu.
X: MashaAllah!

A: Aku mau tuntut cerai mas Rifa'i!
B: MashaAllah, kenapa?

K: Mas, Akbar muntah-muntah lagi.
L: Hah, MashaAllah. Dari kapan?

Ini kalau orang Turki atau orang-orang dari negara berbahasa Arab datang ke Indonesia kemudian dengar dialog diatas (dengan asumsi mereka bisa bahasa Indonesia) kira-kira apa tanggapannya ya? Akan sama dengan ekspresi heran saya saat pertama kali mendengar kata MashaAllah di Turki kah? Anak jatuh, tuntut cerai, dan muntah-muntah itu kabar bahagia ya? Kok ngucapin MashaAllah?

Neyse, ternyata ilmu itu memang penting ya. Termasuk ilmu untuk membedakan pengucapan MashaAllah dan Subhanallah. Hehe. Yang masih suka terbolak-balik (seperti saya dulu) yuk mulai kembalikan mereka pada tempatnya. Supaya berkah dan utamanya terhindar dari salah kaprah :).    


Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.
Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.NG81VB2J.dpuf
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.
Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.NG81VB2J.dpuf
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.
Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.NG81VB2J.dpuf
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.
Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.NG81VB2J.dpuf
Ucapkan “Masya Allah” kalau kita merasa kagum. Ucapkan “Subhanallah” jika melihat keburukan.
Selama ini kaum Muslim sering “salah kaprah” dalam mengucapkan Subhanallah (Mahasuci Allah), tertukar dengan ungkapan Masya Allah (Itu terjadi atas kehendak Allah). Kalau kita takjub, kagum, atau mendengar hal baik dan melihat hal indah, biasanya kita mengatakan Subhanallah. Padahal, seharusnya kita mengucapkan Masya Allah yang bermakna “Hal itu terjadi atas kehendak Allah”.
Ungkapan Subhanallah tepatnya digunakan untuk mengungkapkan “ketidaksetujuan atas sesuatu”. Misalnya, begitu mendengar ada keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan, kita katakan Subhanallah (Mahasuci Allah dari keburukan demikian).
- See more at: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/ungkapan-kalimah-thayyibah-subhanallah-sering-tertukar-dengan-ungkapan-masya-allah.html#sthash.NG81VB2J.dpuf
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki