Salju Pertama



Hari itu memasuki bulan kedua musim dingin di Izmir. Tak seperti kota lain yang kerap diguyur salju dalam dua minggu bahkan sebulan terakhir, Izmir diliputi angin dingin. Jika kau buka jendela kamar asrama di pagi hari, hanya gemuruh angin yang akan terdengar. Sesaat, suara ini tak ubahnya bising lalu lalang mobil di jalan tol. Aku serius. 

Tepat pukul delapan. Aku dan Mesye memutuskan untuk mengambil sarapan lebih awal. Hulya masih tertidur lelap di kamar. Sementara Nera sudah berangkat TOMER1 sejak pagi buta. Aku beruntung karena kelas TOMER di Ege dimulai pukul sepuluh setiap harinya, hanya perlu dua puluh menit jalan kaki atau lima menit dengan bus servis kampus. Berbeda dengan Nera yang harus selalu berangkat lebih pagi bahkan di tengah hawa dingin mencekam seperti beberapa hari terakhir. 

Kantin asrama kami tidak besar, tapi juga tidak terlampau kecil. Setidaknya cukup untuk menampung tiga puluhan orang, kurasa. Setelah mengambil dua buah poğaca2, selai cokelat dan teh panas, aku menuju meja di samping jendela yang telah dipilih Mesye. Kugeser kursi di sebalikan arah gadis berambut pirang itu, berhati-hati meletakkan gelas teh di meja. Dengan sigap ia membantuku menurunkan  pogaca dari tangan lainnya. 

“Yine, hep poğaca çikolata poğaca çikolata. Öyle yemeklerden hiç bıkmadın mı, Erna? Selalu saja, poğaca cokelat poğaca cokelat. Tidak bosan dengan makanan begitu, Erna?” sergah Mesye yang kemudian asyik menguliti tomat merah dengan pisau plastik.  

Kuperhatikan piring gabus putih di hadapannya. “Ya sen? Lah kamu?” kataku santai, sementara isyarat mata tertuju pada menu sarapan Mesye. Sepotong tomat segar, mentimun, enam buah zaitun hitam, keju putih dan tentu saja seonggok ekmek3. Ia mengangkat sebelah alis lalu terbahak menandakan perasaan yang sama denganku—kami bosan dengan makanan asrama.

**

Deru angin diluar jendela semakin bertalu-talu tak karuan. Membuat kening Mesye mengeryit pelan.
“Aiiih.. yemin ederim okula gitmek istemiyorum ya. Soğuktan nefret ediyorum! Aiih.. sumpah ya, malas sekali pergi ke kampus. Aku benci udara dingin. ” gerutunya. Kembali mengahangatkan tangan dengan gelas teh. Ocehan serupa yang selalu dikeluhkan padaku dan Nera.

“Tapi sayangnya kau tetap harus pergi.” kataku, setengah terkekeh. 

Sarapan kali itu terbilang sepi. Kulihat hanya satu dua gadis Turki yang duduk meja barisan depan dekat TV. Sesekali satu diantaranya sibuk memindah-mindahkan saluran yang entah mencari acara apa sementara gadis di sampingnya tampak asyik menyeruput kopi panas yang ia pesan beberapa detik lalu. Entahlah apakah kami yang terlalu awal datang ke kantin atau justru paling telat. Tetapi mengingat siklus tidur orang Turki yang tidak biasa, menurut standarku tentu saja, sepertinya opsi pertama lah yang paling benar. 

‘Jangan ambil sarapan jam 11 ke atas, Er, bakal puadeet minta ampun di kantin!’

Tiba-tiba perkataan itu terngiang-ngiang di telinga. Ya wajar saja. Di asrama, Hulya dan Mesye akan menyapaku atau Nera dengan ‘Gunaydin’4 pukul berapa pun mereka bangun, meski jam di layar ponsel jelas-jelas menunjukkan jam satu siang. Sempat suatu kali aku sampai harus mengecek jam di tangan sebelum menjawab sapaan gunaydin dari Hulya. Dan saat itu jam tiga sore. Jangan tanya mereka tidur dari jam berapa. Yang jelas jauh sebelum adzan subuh berkumandang aku bisa pastikan duo Turki ini sudah terlelap. Tidur selama itu kuharap tidak ada sesuatu yang akan terjadi dengan sistem kerja otaknya.    

Semilir udara dingin masuk melalui jendela yang sedikit terbuka, menyadarkanku dari lamunan. Aku sedikit meringis, merapatkan jaket hijau yang sebenarnya sudah membungkus rapat tubuh. Kuaduk sekali lagi teh yang sudah hampir dingin sebelum meminumnya habis. Mesye melakukan hal serupa, kecuali tentang melepas-pandangan dari jendela. Tampaknya kami sama-sama asyik dengan pikiran masing-masing tadi. 

“Aaa! Erna!!!” pekiknya tiba-tiba. 
Aku mendongak pada Mesye, cepat memperhatikan tangannya takut-takut tersiram teh panas atau tergores pisau. 

“Ne oldu? Ada apa?” tanyaku penasaran setelah mengamati tangan yang ternyata baik-baik saja. Alih-alih menjawab, ia malah tersenyum tanpa menolehku sesenti pun. 

“Bak sana pencereye, kar yağiyooorr! Lihat ke jendela, kar turuuuunnn!” teriaknya, sengaja meninggikan suara di akhir kalimat. 

Aku tergagap mendengar jeritan Mesye. “Heh? Kar ne de-..? Heh? Apa artinya k-?  belum berhasil menemukan arti kata ‘kar’ dalam kamus otak, gadis itu mendongakkan kepalaku ke jendela.
“-mek?-kar?

Partikel itu putih, bersih, bulat atau mungkin tak beraturan, melayang-layang ringan, seperti anai-anai. Seketika mata ini tersihir dibuatnya. Kuangkat kepala ke arah langit. Satu.. dua.. tiga.. mereka turun beramai-ramai di balik jendela. Tanpa sadar aku bangkit dari kursi. Mengizinkan tangan kanan membuka jendela, mengabaikan udara dingin yang menusuk tulang. Kuulur tangan lainnya jauh, jauh keluar. Sebutir putih mengenai telapak tangan. Seperti kristal, segi enam, persis sekali dengan gambar di buku karya seorang Jepang The Secret of Water. Kali berikutnya, butiran kedua dan ketiga pun seolah tak mau kalah untuk singgah di jemari. Dingin, lalu meleleh. Kuulangi sekali lagi, tetap dingin. 

Tidak salah lagi.. butiran ini..

“Saljuuuuu…!” teriakku bahagia dalam Bahasa Indonesia. Mesye yang sempat bingung juga ikut tertawa. 

“Evet, Sajuuu! Iya, sajuuu!” katanya berusaha meniru ucapanku. 

Benar sekali. Selalu saja ada kesan istimewa untuk segala hal yang pertama. Sekolah hari pertama, kelahiran pertama, tumbuh gigi pertama, hari masuk kerja pertama, kuliah pertama, gaji pertama, pandangan pertama, cinta pertama, termasuk salju pertama. Jangankan bagi makhluk tropis sepertiku yang memang tidak pernah melihat seperti apa bentuk salju dalam versi asli, bagi orang yang notabene tinggal di negara dengan empat musim pun, jatuhnya butiran salju pertama barang tentu memberi kesan tersendiri. 

Çok romantik değil mi Erna.. Romantis sekali kan, Erna..” ucap Mesye lirih, bergumam lebih pada dirinya sendiri. Meski tidak terlalu paham, aku mengangguk mengiyakan.

Jadi serupa inikah perasaan romantis saat turun salju?

Kau yang dinanti sekian lama, akhirnya turun juga.

***

1 Türkçe Ögretim Merkezi, pusat pelatihan Bahasa Turki
2 Sejenis roti berbentuk seperti sendok besar
3 Roti
4 Selamat pagi
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'