Pak Ali


Satu, dua, tiga, empat, lima..

"Jadi, apa nama rantainya, Mel?" Gelegar suara Pak Ali memecah keheningan kelas. Meski dalam banyak kesempatan ia dikenal sebagai sosok yang humoris, tetap saja mengerikan saat berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya, kimia. Tak ada seorang pun yang berani menatap ke depan kelas. Semua siswa berpura-pura sibuk dengan catatan masing-masing.

"Yang nunduk saya tunjuk." tingkahnya lagi. Demi perkataan yang terdengar bagai ancaman bagi mereka, murid kelas 7B sontak mengangkat kepala dari meja.

"Aaah Bapaaaaakkk...!"

Lelaki bertubuh tinggi besar itu terkekeh. Memperbaiki posisi kacamata di hidung bengkoknya. Sementara peci hitam dibiarkan terpasang miring. Hari ini bukan Jum'at, tapi topi itu menempel awet hampir setiap hari disana. Pak Ali dan peci hitam bak siam tak terpisahkan.

Dari Imel, kini sudut matanya beralih kepada Galih. Membuat yang ditatap bergidik aneh.
"Apa ini namanya, Galih?" Imel terduduk lega. Ibay, teman sebangku Galih, berkomat-kamit tak jelas seraya menunjuk-nunjuk sesuatu di buku dengan pensil.

"Emmh.. Dua.. tiga.. lima.." eja Galih. Berulang kali menatap Pak Ali, ragu. 
"Trimetil.. oktana, Pak?"

Alih-alih mengiyakan jawaban siswa bertubuh bulat itu, beliau kembali terkekeh.
"Kenapa takut-takut begitu, Lih? Coba jawab yang yakin sekali lagi."

Ia menimang, sejurus kemudian mengangguk pelan. "Dua.. tiga, lima, trimetil oktana, Pak."

Seulas senyum tersulam di bawah kumis hitam yang tertata rapi. "Nah, itu bisa." puji Pak Ali. Membuat si perut tambun salah tingkah.

"Kalian bisa sebenarnya, kalau mau."  Ia letakkan spidol tiga warna di meja. Menatap lekat-lekat murid yang terkenal berotak tumpul di kalangan guru-guru itu. Tapi tidak demikian di mata Pak Ali.  

"Nak, Bapak tidak pernah bilang bahwa selama belajar kalian harus selalu benar. Tidak sama sekali. Mengapa?"
  
"Karena di dalam hidup ini, tak ada hal yang sepenuhnya benar ataupun salah. Jika pun ada, maka hakikat paling benar dari belajar adalah 'belajar' itu sendiri. Selama kalian belajar, kalian benar."

"Maka teruslah belajar, hingga kelak tak akan ada seorang pun yang berkesempatan untuk menyalahkan kalian."

"Selama kalian mau belajar, maka kalian benar."

**


Öğretmenler günü kutlu olsun
Untukmu pelita bangsa,
Guru.

 
    
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'