Ini Hijab Pertamaku, Kamu? (5): Jubah Malu


Entah ide siapa. Kegiatan pemantapan materi UN tiba-tiba diselingi khutbah tengah hari. Sedikit sharing motivasi belajar dari kakak-kakak kalian di ITB, ujar kepala sekolah dalam apel tadi pagi. Aku melipat dahi. Ismina tersenyum kembang. Bangga mendengar nama almamater impiannya, impianku juga, disebut-sebut. Pengen banget deh dapat mentoring dari alumni yang masuk ITB, ceracaunya asal saat jam istirahat kemarin siang. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Hadiah besar untuk anak rohis yang satu ini.

Aku yakin, ocehannya kemarin bukan tanpa sengaja. Tapi lebih kepada promosi awalan untukku. Petinggi rohis macam Ismi, sangat mustahil tidak tahu tentang rencana pihak sekolah mendatangkan orang-orang jenius dari Salman ITB. Pasti dia termasuk salah satu panitianya juga. Tapi tak apalah. Berpura-pura polos terkadang ada baiknya. Sebagai bentuk terima kasih atas kesabarannnya mengingatkanku dari jalan menyimpang lika-liku kehidupan SMA, kalau tidak boleh dibilang jahil. Lagipula, rasanya hanya gadis kurus berkacamata ini yang paling peduli mengajakku bergabung dalam ekskul rohis sekolah, meski tak bersambut.

"Kenapa sih Na kamu gak mau gabung sama rohis?" tanya Ismi di pelataran mesjid sekolah selepas dhuha. Sejenak aku terhenyak. Terhenti dari kekhusyuan menguncir rambut.

"Masa gak pake jilbab gini ikut rohis? Gak ah. Malu." jawabku sekenanya.

"Ih gapapa kali Na, santai aja. Kan namanya juga belajar. Kamu tahu Mira anak IPA 2 kan? Dia juga aktif di rohis loh. Padahal belum berjilbab juga kaya kamu."

Otakku mengorek-orek memori gadis putih berparas ayu dengan lesung di pipi kiri. Beberapa kali memang aku sempat memergokinya tergabung dalam lingkaran kecil di mesjid sekolah. Atau dalam even kepanitiaan yang dimotori oleh DKM sendiri. Tentu saja dalam kondisi menutup aurat. Kecuali untuk keperluan rohis, dia akan tampil terbuka seperti biasa. Di kelas, tempat fotokopi, lapangan upacara, kantin dan perpustakaan. Tapi belakangan kudengar Mira telah berjilbab sepenuhnya alias permanen, gak dibuka-buka lagi. Ya, gadis itu memang layak menjadi anggota rohis. Berbeda denganku. Apanya yang sama? Selain kenangan dengan si merah putih enam tahun lalu, aku tak pernah sekalipun membayangkan untuk menutup kepala selamanya seperti Mira. Tidak sekarang, entah kapan.  

"Hehe. Enggak deh Mi. Makasih." jawabku lugas. Mengabaikan perasaan tidak enak. 

"Mmh.. ya udah kalau kamu belum mau." tukas Ismina pasrah.

Dan ajakannya tak pernah berhasil hingga detik kelulusan SMA diumumkan.   

*

Kalau Ismi udah senyam-senyum model begini, firasatku tidak akan salah. Mesti isi sharing siang ini gak akan jauh-jauh dari tema ceramah agama juga. Aneh saja, hampir setiap minggu ada kegiatan rohis, saban pagi tilawah qur'an dan baca asmaul husna di kelas, tausiyah keliling, wejangan dari ketua kelas yang notabene ketua rohis sekolah masih aja berharap-harap cemas dengan mentoring dari mahasiswa Salman sana. Ilmu apa sih yang mau dicari? bener-bener gak habis pikir.

"Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.."

"Apa kabar teman-teman semua?" seorang lelaki umur 20-an berdiri mantap di depan kelas. Kulitnya putih dan bermata sipit seperti ras keturunan.  Rambut hitam klimisnya jatuh sempurna meski tanpa minyak. Terbagi dua di bagian tengah. Kumis dan janggut tipis tanggung tampak dibiarkan tumbuh di dagunya yang agak lonjong. Ia memakai baju koko motif sederhana berwarna biru langit. Dipadu padan dengan celana bahan hitam yang menurutku tampak kependekan dan kurang bahan. Sementara Ismi terangguk takjub di bangku depan, aku dan Prita saling pandang. Heran.

Ini yang akan ngisi sharing?
 
Di sudut lain, di meja guru, seorang lagi terduduk takzim di depan layar laptop. Sibuk meng-klak klik sana sini. Sesekali menoleh ke papan tulis yang dijadikan layar dadakan. Gambar gajah duduk menari-nari samar.

"... adalah hamba Allah yang sangat pemalu." begitu sepotong kalimat yang kudengar. Karena terlalu asik melamun aku baru sadar topik pembicaraan telah jauh di depan. Tak jelas dari mana bermula dan awalnya membahas apa. Aku kembali merajut konsentrasi. Mendekapkan tangan di atas meja. Duduk tegak. Berusaha menyimak cerita.

"Teman-teman tahu? Meski laki-laki, rasa malu beliau jauh lebih besar daripada anak perempuan yang dipingit." Aku mengangkat alis tak percaya.
Ah, mana ada orang yang lebih malu daripada gadis pingitan? Laki-laki pula! Apa yang mau dimalu-in?

Sebaliknya, lain dengan tanggapanku, hampir seisi kelas justru termangut-mangut setuju. Seolah pernah mendengar atau membaca kisah 'malu' ini sebelumnya. Sesaat aku curiga kalau di kelas acak terlalu banyak anak rohis. Tapi ternyata tidak juga. Buktinya, Prita--teman sebangku dadakanku--terlihat biasa saja. Mita dan Ina, waswas wiswis tak karuan di belakang. Entah mendiskusikan apa. Di arah jam 9, si kembar Kaka Kiki malah tampak sibuk dengan pena masing-masing. Paling gak jauh-jauh dari sketsa manga. Ngomong-ngomong tentang mereka, kenapa di kelas acak pemantapan si pinang belah dua ini masih bisa sekelas ya? Duduk sebangku pula.  

"Diceritakan dalam sebuah riwayat, pernah suatu kali beliau bersafar ke suatu tempat melewati padang pasir. Di tengah perjalanan, tiba-tiba angin bertiup kencang hingga tersingkaplah jubah beliau dan betisnya terlihat."
Imajiku bermain membayangkan setiap detail kata yang diucapkan. Memvisualisasikannya dalam monitor hologram tak tampak. Seorang lelaki bersorban putih dalam balutan kain serba panjang, mengendarai unta sendirian di tengah gurun pasir gersang. Lalu angin nakal datang menyibak-nyibak jubahnya.

"Teman-teman tahu apa yang terjadi setelah itu?" tanya si kakak memancing. Atau mungkin mengetes. Sebagian besar dari kami menggeleng, bukti lain bahwa tidak semua anak kelas adalah orang rohis. Beberapa mengulum senyum. Aku diam menunggu jawaban.

"Ketika ia menyadari betisnya terbuka," nada suaranya meninggi,

"...saking malunya, seketika beliau pingsan hingga terjatuh dari unta! Padahal disana tidak ada seorang pun, kawan-kawan. Hanya ia dan untanya. Tapi karena begitu malunya kepada Allah, sampai pingsan! Subhanallah.. Bagaimana dengan kita?" 

Hologram itu menayangkan adegan berikutnya. Jubah terbuka sedikit. Sang lelaki melihat betisnya, kemudian pingsan. Aku terkekeh. Laki-laki lihat betisnya sendiri, pingsan?

Membayangkan tayangan 'aneh' itu tawaku meledak seketika. Terpingkal sejadi-jadinya sambil memukul-mukul meja. Kupegangi perut yang sakit tapi tak berhasil. Dari sudut mata yang berembun terlihat sosok Prita memelototiku. Mulutnya komat-kamit tak jelas. Menyuruh diam.

Sadar tak ada orang lain yang tertawa atas kisah tadi, seketika mulutku bungkam. Wajahku memerah bak kepiting rebus. Semua mata berebut menghakimi sekarang. Sementara sang kakak menggeleng pasrah, mengelus dada. Aku tertunduk malu. Malu sekali. Terlebih karena rasa bersalah. Meski terdengar konyol, tidak sepantasnya aku bersikap begitu. Nyatanya, tingkahku barusan jauh lebih konyol daripada kisah yang kuanggap konyol.     

Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki