Cuma "Bungkus"


Waktu kecil, pernah beli pensil atau bolpen yang ada hiasan di bagian tutupnya? Bentuknya beragam, lucu warna-warni. Sering juga berbentuk mirip tokoh kartun tertentu seperti dragon ball, sakura, sailormoon atau bahkan keropi dan pikachu.

Berebut tutup pulpen dengan teman sampai berantem hebat. Mutung berhari-hari. Setelah dapat yang diinginkan (anggaplah hiasan paling bagus dan diperebutkan) begitu mau dipakai untuk nulis, ternyata bolpennnya macet. Tulisannya keputus-putus kaya cat putih di jalan aspal. Atau lebih ekstrim lagi, tintanya habis. Lagi ujian bahasa Indonesia, waktunya mepet, butuh mengarang dengan pulpen, bolpennya cuma satu dan begitu digores di kertas..

"Ini kenapa si? Kok gak bisa dipake? Aduh..dududuuh..."

Hiasan boleh keren, tapi kalau tintanya habis? Jadi nggak berguna, kan? Bagus, tapi tidak bermanfaat sedikit pun, buat apa??

Itulah. Saking terlalu fokus pada keindahan luar beserta turunannya, sampai lupa meneliti FUNGSI DASAR barang. Kegunaan utama pulpen adalah untuk menulis, maka memastikan bahwa ia bisa bekerja sesuai fungsinya adalah hal utama yang perlu diperhatikan. Kenapa? Karena kita tidak akan bisa menulis dengan kepala bergoyangnya hello kitty ataupun spongebob, kita menulis dengan tinta. Dengan inti utama benda itu--tinta.



http://www.online-instagram.com 


Bolpen hanyalah satu diantara sekian banyak analogi. Dan mengakui atau tidak, kebanyakan dari kita sering terjebak dalam situasi seperti ini. Menilai hakikat luar jauh di atas segalanya. Sementara isi utamanya kita abaikan.
 .
 .

X: "Gila gila gila.. Liat foto si A deh. Ganteng bangetttt !!" (nunjukkin foto di medsos)

Y: "Emhh." (Lihat sekilas lalu kembali ke buku)

X: "Kok bilang 'emh' doang? Ganteng kan??"

Y: "Cuma bungkus.." (Jawab datar, membalik halaman)

X: @#$&^%
.
.

Seumpama pulpen, manusia juga sama. Cantik, tampan, tinggi, putih, tegak, langsing, rambut bagus, mata indah, kaki jenjang, wajah merona, bahu tegap, hidung mancung.. sekedar bungkus ternyata. Orang Turki, Korea, Amerika, Eropa, Mongol, kulit hitam, mata sipit atau belo, bulu mata lentik. Hanya ragam, hiasan dunia. Semuanya bungkus semata.

Yang namanya bungkus, penutup, suatu saat akan dibuang. Tidak peduli bagaimana luarnya, yang terpenting adalah isinya. Begitu juga dengan manusia. Yang terpenting adalah jiwa, karya, kebermanfaatan, amal baiknya. Gak kebayang andai Allah menentukan kategori penghuni surga dan neraka berdasarkan bungkus luar dan tampilan fisik. Apakah kita cukup yakin untuk lolos dari penilaianNya? Gak tahu juga kan standar cantik fisiknya versi Allah bagaimana. Kalau saya sih enggak se-pede itu. Hehe. Ada ribuan bahkan milyaran orang yang jauh lebih cantik dan tampan di luaran sana. Tapi begitu MahaAdil-nya Allah bahwa Ia menilai kita berdasarkan 'inti'nya, bukan bungkusnya. Mau wajahnya bopeng-bopeng penuh jerawat kek, hidungnya pesek, badannya kecil, kulitnya belang-belang tidak masalah bagi Allah. Pahala surga tetap atas mereka selama jiwanya baik.   

Kalau Allah mau, semua yang ada di dunia ini bisa diciptakan secantik setampan Ia mau. Semua diciptakan sama berkulit putih supaya tidak ada yang iri satu sama lain. Semua orang dibuat sama tingginya, rata 180 cm. Persis sama, tidak ada beda. Tapi kemudian apakah kehidupan seperti itu yang kita inginkan?

Alangkah akan membosankannya hidup ini. Allah adalah pencipta kita, Dia tahu betul bagaimana manusia, lebih dari siapapun. Allah tahu kita akan bosan jika seisi bumi ini diciptakan sama, maka dibuatlah beragam. Tapi Allah juga tahu bahwa manusia tidak akan pernah puas dengan dirinya. Maka itulah Ia jamin manusia bukan dengan fisiknya. Bukan bungkus luarnya. Tapi hatinya. Imannya.

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan berbangsa-bangsa,dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal."(QS Al Hujuraat: 13) 

AllahuAkbar. Masih kurang adil apa coba? Di dunia ini tidak ada pemutus perkara ter-adil selain daripada Allah. Iya kan? 

Jadi, teman-teman sholih/ sholihah, yuk nggak usah sibuk membanding-bandingkan bungkus kita dengan orang lain. Karena sejatinya ini adalah tindakan yang sia-sia. Hanya menjauhkan diri dari kesyukuran kepada sang Pencipta.
Seganteng dan secantik apapun kita di dunia, tidak akan dibawa ke akhirat. Semuanya berakhir di tanah. Fisik akan mati dilapuk belatung. Bungkus akan dibuang atau terbuang dengan sendirinya. Menyisakan inti. Menyisakan ruh yang kekal.        

" Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku" (QS Al Fajr: 27-30)

***
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki