Ini Hijab Pertamaku, Kamu? (4): Kerudung Monyet


Sepagian hujan deras mengguyur kampus kami. Menyisakan genangan air lebar-lebar sepanjang jalan yang tidak terasapal rata. Ya, butiran air langit ini bukan hal baru memang. Toh karena kondisi inilah Bogor mendapat julukan kota hujan. Gelar yang tidak hanya isapan jempol belaka.

Kurang dari dua puluh menit kelas kuliah pertama siang ini akan dimulai. Sepertinya kami akan terlambat. Tapi apa boleh buat? Membuka payung di tengah terpaan hujan yang disertai angin kencang sama artinya dengan bunuh diri. Payung terbang, sampai kelas belum tentu, basah kuyup iya. Aku dan Ata mempercepat langkah menerobos jalan pintas melewati Fakultas Kehutanan. Entah apa pasal, bagiku gedung-gedung di sekitar sini selalu saja menyeramkan. Terlebih dalam suasana gelap langit yang mendung. Aku bergidik pelan. Menutupkan tudung jaket berwarna hijau. Tetesan bulir air dari ujung daun-daun bambu rupanya telah membasahi rambutku.

Perkiraan kami benar. Kelas besar yang disusun bak ruang sidang dengan kursi berundak ini telah penuh sesak. Kelas sudah dimulai sekitar sepuluh menit yang lalu. Seorang dosen yang wajahnya belum familiar terduduk takzim di meja depan. Belakangan kami ketahui bahwa ia adalah dosen pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI) dari kelas reguler grup A. Pak Ayat namanya. Kali ini beliau mengisi selaku dosen pengganti di kelas kami-- kelas reguler B-07.

Ata mengajakku menuju dua kursi kosong yang tersisa di barisan kedua terakhir dari belakang. Pas sekali.

Kukeluarkan buku catatan bersampul coklat dalam balutan plastik mika. Tulisan PAI terpampang besar-besar. Deu, rapi sekali yang baru keluar dari SMA. Kuturunkan kapucon dari kepala lalu menarik lengan jaket hingga siku. Sementara Ata masih sibuk melipat-lipat payung biru langitnya.

"Ehemm..!"

Suara dehem dosen PAI mengagetkan aku dan Ata. Ternyata hanya batuk biasa. Kukira beliau memperhatikan gerak gerik kami yang sibuk sendiri. Duh, jadi mahasiswa baru ternyata gak enak. Banyakan merasa takut ini takut itunya. Bawaannya kuatir melulu.

"Di dalam Islam, bagi perempuan, memakai jilbab itu wajib hukumnya." Itulah kalimat pertama yang kudengar dari ceramah keagamaan siang ini. Ya, bagiku sama saja. Apapun nama bingkainya, kalau udah berhubungan sama agama, ceramah jatuhnya. Dan kenapa pula dimana-mana yang dibahas itu harus selalu jilbab, jilbab dan jilbab. Kaya gak ada topik lain yang bisa dibahas aja. Lagipula, perasaan di Al Qur'an gak ada tuh tertulis kalau perempuan wajib berjilbab.

"Dalam Al Qur'an tidak secara gamblang tertulis wajib memang. Namun berdasarkan hasil kesepakatan dari seluruh ulama di dunia, maka jilbab hukumnya wajib." Alamak, seolah bisa membaca pikiranku saja bapak ini. Jangan-jangan mitos bahwa orang baik/ sholih bisa membaca suara hati orang itu beneran lagi. Nampaknya aku harus lebih berhati-hati dalam berkomentar.

Setelah memandang kami beberapa detik, Pak Ayat melanjutkan ceramahnya.            
"Nah.. kan kalau sudah berjilbab semua seperti yang di depan ini kelihatannya jadi bagus, ya? Cantik-cantik insyaAllah. Sholihah." Pak Ayat menunjuk beberapa mahasiswi yang kebetulan duduk di deretan paling depan. Mereka yang dimaksud menunduk tersipu malu. Sementara aku memutar bola mata. Apa deh.

"Yang ikhwan kenapa senyum-senyum? Mau pakai jilbab juga?" Ruangan yang sedari tadi sunyi senyap sekarang riuh dengan tawa seisi kelas. Ada-ada saja.

Pak Ayat lalu mengeluarkan boardmarker dari saku bajunya. Berjalan santai menuju whiteboard besar di belakangnya. Memindahkan mic ke tangan kiri sementara tangan yang lain mulai menggambar sesuatu di papan. Kami mendongakkan kepala penasaran. Berusaha menerka-nerka. Dua bulatan kecil yang tampak seperti mata kemudian dilengkapi dengan bibir dan sebuah hidung lebar seperti jambu mete.

"Ada yang tahu kira-kira gambar apa ini?"
Meski tidak terlalu yakin, serempak kami berteriak "Monyeeett.." yang dibalas dengan anggukan ringan dari Pak Ayat.

"Kalau ini?" Sebuah lingkaran lonjong lebih besar digambar di area luar kepala monyet. Pak dosen menatap kami, menunggu jawaban. Teman-teman kelas hanya menggeleng. Tak ada ide.

Pak dosen menggeser badan sedikit ke kiri. "Ini monyet pakai jilbab." katanya sambil menyeringai pelan.   

"Kalau jilbab tidak dipakai oleh perempuan muslimah, lantas siapa yang akan memakainya? Kasih saja untuk monyet. Iya? Lebih bagus kan kelihatannya. Lebih cantik." tambahnya lagi. Menggerakkan ujung marker hitam mengitari jilbab monyet. Demi melihat gambar di whiteboard, kuturunkan lengan jaket dan memasang kembali tudung kepala. Mengunci resleting jaket hingga ke dagu. Merapikan anak rambut yang masih tersembul. Sungguh berharap Pak Ayat tidak memperhatikan kalau ada dua diantara mahasiswinya yang belum berjilbab, aku dan seorang gadis berkacamata tebal di depanku. Tapi sepertinya usahaku terlambat. Pak dosen sudah terlanjur tahu.

"Nah, tapi kemudian pertanyaannya, apakah akhwat-akhwat disini mau dikalahkan sama monyet?" Tidak ada seringai dalam pertanyaan Pak Ayat sekarang. Aku tahu, beliau berkata serius kali ini. Atau mungkin sejak tadi. Lagi-lagi kami, aku, hanya menggeleng. 

"Jadi, kalau gak mau kalah sama monyet, mari mulai belajar berjilbab ya, akhwat? Setidaknya dimulai dari mata kuliah ini. Bapak berharap kuliah minggu depan semua mahasiswa putri hadir dengan memakai jilbab, bisa?" Kurasakan pandangan pak dosen menyapu tempat dudukku dan gadis berkacamata. Tapi kemudian tersenyum ramah. Duh.. malunya.

Dan setelah bermenit-menit di kelas ini, aku baru menyadari satu hal. Selama perkuliahan PAI semua mahasiswa putri diwajibkan memakai jilbab. Itu aturan mainnya.  Pantas saja aku tidak melihat jepit keropi hijau di kepala Trisya atau rambut ikal untainya Nia hari ini. Ata, yang kutanya tentang busana kuliah malah bertanya balik.

"Loh, kamu memang gak tau ya Mir kalau di matkul PAI perempuannya harus pake jilbab? Aku kira kamu tahu, tapi gak mau pake aja. Hehe.."

Isshh..!

Aku mendengus sebal. Urung menjitak pemilik kepala yang telah berhambur keluar kelas.

***    
  

     
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'