Teteh Gak Suka Teh


Sepertinya saya gak cocok tinggal di Turki. Indikatornya?

Dari tiga hari terakhir simposium yang saya ikuti, saya belum pernah minum teh (Turki: cay) sama sekali sekali. Setiap jam sarapan (welcome tea), coffee break termasuk makan siang. Lah? penting banget ya? Kadang saya suka bertanya sendiri, segitu gak sukanya kah saya dengan teh?

Saat peserta lain di sekeliling saya sibuk hilir mudik dengan cangkir teh atau kopinya, saya hanya melenggang santai dengan air mineral. Diantara deretan kudapan dan aneka minuman yang berjejer di meja panjang itu, mata saya hanya akan tertuju pada satu sisi di sudut. Mencari sesuatu dengan kemasan berwarna biru muda, air mineral.  

"Erna, kok aku belum pernah liat kamu minum teh ya?" Mmmh.. Perbandingan Fatuma sih, maniak semua jenis minuman termasuk cay. Tiada pagi tanpa teh, tiada malam tanpa minuman Uganda-nya.

"Cay icmiyor musun Erna? Niye??" [Kamu gak minum teh Erna? Kenapa??]. Pertanyaan Hoca yang satu ini selalu kujawab dengan gelengan kepala plus seringai ringan. Hidup di negara yang mayoritas penduduknya bisa minum 9-10 gelas teh per hari, perilaku 'tidak/ jarang minum teh' seolah terlihat seperti dosa besar memang. Tidak biasa. Karena kamu beda sendiri. Sama halnya ketika kamu bilang 'tidak suka durian' saat sebagian besar orang menyukainya.

"Ne iciyorsun Erna? Kahve yapayim mi sana?" [Mau minum apa Erna? Mau dibuatin kopi gak?] Emh. Pertanyaan Tolga Hoca lebih super lagi. Teh aja gak suka, apalagi kopi. Saya masih ingat betul saat pertama kali berkunjung ke ruangannya dulu, tepat satu minggu sebelum kelas perkuliahan reguler dimulai. Atas nama sopan santun saya putuskan untuk menerima tawaran cappucino latte atau nescafe (lupa) ala Tolga Hoca--berhubung tawaran 'Turk kahvesi' nya saya tolak mentah-mentah. Dan tiga hari setelah itu perut ini rasanya mual tak karuan siang malam. Duh tobat Gusti.. Gak lagi-lagi deh mau minum kopi mopi. Bi kere yeter artik!

"Erna sadece tek su iciyor. Vallah cok ajayip bir kiz." [Erna tuh cuma minum air doang. Ajaib banget memang]. Alhasil itulah komentar terakhir dari dosen-dosen di fakultas perikanan Ege. Saya cuma nyengir aja kalau denger Hoca bilang begitu. Ya daripada mual mules tiga hari tiga malem? Mending jujur aja bilang gak suka. Hikmah baiknya? Setiap perkuliahan atau bimbingan, Hoca udah tau apa minuman apa yang harus mereka pesan untuk mahasiswanya yang ajaib ini :D.   

Anyway, kalau ada yang tanya kenapa saya justru gak suka teh sejak di Turki? Jawabnya sederhana. Karena teh disini terlalu. Terlalu panas, dan terlalu pahit. Dan, mungkin memang dasarnya saya gak begitu suka teh. Hehe. 
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki