Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki


E-ehm. Kali-kali nulis dengan judul yang agak kontroversial, gakpapa ya. Sengaja nge-post tentang ini karena ternyata menurut data traffic sources di blog saya, banyak yang mencari tulisan dengan keywords persis seperti judul di atas. Hihiw.. Kalau gak salah nebak, mesti yang nyari tulisan itu adalah cewek alias perempuan. Masih singel atau singel peren. Ada keinginan menikah dengan lelaki Turki karena 'kabarnya' mereka menyukai wanita Indonesia. Tebakannya bener apa betul?

Sebelum bahas lebih lanjut, saya ingatkan Mba Mba untuk berhati-hati membaca tulisan ini. Saya tidak bertanggung jawab dengan perasaan mesem-mesem dalam bentuk apapun. Resiko tanggung sendiri ya ;P. Masih berani lanjut? Ok. 

Jadi, gimana sih perempuan Indonesia di mata lelaki Turki?

Apa iya mereka 'suka' sama kita? Kita; saya, kamu dan perempuan Indonesia pada umumnya?

Secara umum saya bisa katakan YA, mereka suka dengan perempuan Indonesia. Gimana enggak? Dikenal murah senyum, baik hati, cantik-cantik (kalau tentang standar ini kita bahas di lain kesempatan ya), sopan, muslimah yang taat, gak neko-neko. Pokoknya cocok deh jadi target calon istri. Eaaaa.. Tuh kan? Belum apa-apa udah kesengsem kan?  Eh saya ini gak asal bunyi loh ya. Karena saya kenal cukup banyak perempuan Indonesia yang menikah dengan orang Turki (OT). Bahkan, teman dekat saya sewaktu di IPB dulu pun, sekarang bertambat hati dengan OT. Adik kelas di kepengurusan PPI Turki tahun lalu juga baru menikah dengan OT sekitar satu minggu lalu. Aduhai.. 

"Menikah itu ibadah. Menunda-nunda pernikahan hanya akan menjerumuskan pada maksiat dan dosa. Karenanya saya ingin kita segera menikah agar sempurna ibadah kepada Allah." Demikian satu penggalan curhat calon suami sobat dekat saya dulu menjelang pernikahannya. Saya dengar ini dari kawan saya setelah ia menikah tentunya. Aaahh... so sweeet >_<. Gak usah umbar-umbar janji. Langsung aja eksekusi. 

Oya. Sebenarnya sih, gak menutup kemungkinan lelaki Turki menyukai perempuan dari negara lain. Hanya saja, karena mayoritas penduduk kita muslim jadi ikatan 'kesamaan iman' itu yang tampaknya menciptakan chemistry tersendiri #hallah. Lelaki Turki memang tidak semua muslim, tapi kebanyakan mereka adalah muslim. Itu kata hubungnya.

Eh, bentar deh. Kok mereka mau sih nikah sama orang Indo? Padahal perempuan Turki kan jauh lebih cantik? 


Si Mba nih, tahu aja kalau perempuan Turki cantik-cantik. Sering nonton sinetron Elif ya? Apa Cinta di Musim Cherry :P? Betul memang. Dari segi fisik, kategori perempuan Turki itu cuma ada dua. Cantik atau cantik banget. Saya aja yang sama-sama perempuan klepek-klepek kalau lihat mereka. Hehe #ini lebay.

Kembali ke topik. Cantik memang, tapi apakah pernikahan hanya sekedar tentang penampilan fisik? Enggak kan. Atau kalau mau bicara soal fisik, apakah standar cantik di mata setiap lelaki itu sama? Saya rasa tidak juga. Cantik tapi kalau ahlaknya tidak baik? Eh ada loh lelaki Turki yang ditinggal kabur oleh istrinya sebulan setelah pernikahan. Pergi tanpa kabar dengan membawa semua perhiasan. Padahal suaminya sholih. Kalau sudah begini, masih mau menomorsatukan fisik? Nah, lalu kalau muncul pertanyaan kenapa gak nikah sama perempuan dari negara lain selain Indonesia? Saya yakin sudah menuliskan kata hubungnya di atas tadi. Tapi kan Malaysia juga negara muslim?  Et dah. Banyak bener nanyanya. Kenapa lebih banyak gelin* Indonesia yang saya temui dibandingkan Malaysia? Menurut hemat saya (hasil pengamatan dan curhatan), karena kita punya sesuatu yang mungkin tidak dimiliki perempuan lainnya di dunia ini, termasuk di Turki. Apa itu?--Gak neko-neko.


Maksudnya gak neko-neko dalam hal apa?


Dalam hal pernikahan. Prasyarat pernikahan lebih tepatnya. Mba Mba tahu kenapa lelaki di Turki umumnya menikah pada usia yang relatif terlalu matang (minimal 30)? Salah satu faktornya karena persiapan syarat nikah yang terlalu sulit. Dimana letak kesusahannya? Mas kawin dan embel-embelnya. Di Turki, jika seorang pria ingin menikahi seorang wanita, pihak keluarga mempelai wanita biasanya akan menetapkan standar tertentu yang harus dipenuhi calon pria. Apalagi jika pendidikan calon wanitanya tinggi. Selain itu, sebelum pernikahan, tradisi Turki mewajibkan sang calon suami memiliki rumah sendiri. Untuk segala perabotan di dalamnya? Sang calon istri akan memilih sendiri jumlah, jenis dan merk nya sesuai keinginan. Dan itu harus dipenuhi. Uwoww.. Kalau saya yang jadi pria, udah kena stroke duluan kali. Di satu sisi bagus sih. Menyediakan rumah artinya menunjukkan kesungguhan kita akan tanggung jawab terhadap calon keluarga. Jaminan tempat tinggal. Tapi di sisi lain? Kenapa mau ibadah saja sulitnya minta ampun? Bukankah menikah itu syariat agama? Dan bukankah agama itu mudah dan memudahkan? Menunggu punya rumah dulu baru berani melamar, kapan generasinya berkembang? Kapan ibadah versi lengkapnya dimulai? Nah, itulah kenapa lelaki Turki lebih cenderung untuk menikah dengan perempuan yang gak neko-neko. Dan di Indonesia, InshaAllah banyak perempuan sholihah yang masuk dalam kategori ini.

Kalau gitu, perempuan Indonesia murah dong?


Gakpapa murah. Asal jangan murahan ;). Hehe..
Kembali saya tegaskan, sesuai pandangan saya, ini bukan tentang siapa yang lebih murah atau lebih mahal. Pernikahan itu sakral. Ibadah yang paling dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasul saw. Gak tanggung-tanggung, pahalanya pun setengah agama. Pelaksanaannya harus disegerakan (jika calonnya telah ada). Syaratnya dimudahkan, tidak mempersulit. Termasuk dalam urusan mahar (mas kawin). Dan sungguh perempuan yang paling baik adalah yang paling ringan maharnya. Apakah Mba termasuk salah satunya :)?

Ngomongin beginian jadi berasa nakut-nakutin deh ah #peace. Satu hal terakhir yang perlu diketahui. Kalau menikah dengan OT gak perlu khawatir gak punya rumah. Tenang aja. Meski mahar kita ringan, umumnya pasutri di Turki punya rumah mandiri lengkap dengan perabotan standar yang harus dimiliki satuan rumah tangga. Mesin cuci piring, mesin cuci baju, pemanas ruangan, kulkas, kompor gas plus exhaust nya. Rumah presiden, perdana mentri, supir bis, guru, pegawai bank semuanya akan punya standar perabot minimal ini.

Hmm.. apalagi ya yang mau ditulis?
Mungkin ini dulu ya. Kali ini ceritanya yang manis-manis aja. Pahit-pahitnya belakangan. Loh ada cerita pahitnya juga? Jelas. Manis gak pernah bisa berdiri sendirian, kan?

Teruntuk Mba Mba yang pernah punya pertanyaan seputar ini, semoga tulisan saya sedikit menjawab rasa penasarannya ya. Semoga bermanfaat :).
Salam sayang dari saya, pengamat kehidupan.     


@Zubeyde Hanim
09.08.2015

--

*gelin: perempuan yang menikah dengan lelaki Turki
Post a Comment

Popular posts from this blog

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki

Hitam Putih Beasiswa Turki: H.I.T.A.M.