Lelaki itu: Cantik, Tolong Turunkan Kakinya


Kulirik jam tangan motif bunga berwarna. Sudah hampir dua puluh menit, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung jua. Hari ini kami akan ke pasar Cankaya, membeli beberapa kebutuhan yang sempat tertunda saking sibuknya mempersiapkan ujian akhir. Hufft, ujian penentu hidup dan mati.  

Diantara kegalauan bingung-mau-nunggu-sambil-ngapain, aku teringat pada si mungil hitam di dalam tas. Untung tadi inget bawa qur'an. Lumayan.. daripada mantengin HP yang hampir sekarat batre nya. Obat mati gaya yang inshaaAllah kaya pahala, hehe.

Di tengah kekhusyu'an ngapal ayat yang terbata-terbata, seorang lelaki paruh baya kerap memperhatikanku. Mungkin aneh melihat perempuan membaca buku sambil komat kamit. Berulang kali memandang langit-langit metro dan buku hitamnya bergantian. Atau sesekali memejamkan matanya, tetap sambil berkomat-kamit. Ini si mba lagi ngapain sih? Baca mantra apa gerangan? Begitu mungkin gelagatnya menunjukkan. Aku mengangguk dengan sebaris senyum tipis, tanda menyapa. Lalu kembali berkomat kamit.
    
Amusa dan Nae masih belum datang. Tapi tak masalah. Dengan si hitam di tangan, mau datang kapan pun aku akan sanggup menunggu sekarang. Eaaa..

Rasa penasaran lelaki tadi belum pudar tampaknya. Setelah bolak balik memperhatikan dan menimbang, akhirnya dia memutuskan untuk menghampiriku di depan muka. Setelah menyunggingkan senyum ramah, dia menunjuk kakiku sambil mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar sepenuhnya karena pekikan metro yang baru saja lewat.   

.. daha iyi olur, akan lebih baik" hanya itu potongan kalimat yang kudengar.

"Efendim? Pardon me?" tanyaku mengulangi.

"Ayaklarini indirsen daha iyi olur gorunursun guzellim, coba turunin kakinya pasti kelihatan jauh lebih baik [anggun-red.], cantik.
Aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang ia ingin katakan sampai ia menunjuk caraku terduduk-- menumpuk kaki kanan di atas kaki kiri.   

Mataku bergerak cepat bergantian memandang kakiku dan sang abi-yang-aku-tidak-tahu-siapa.

"Ah.. oh. Tamam abi. Tesekkur ederim." cicitku, menurunkan kaki seraya tersipu malu.

"Rica ederim." jawabnya, kembali ke tempat semula ia bertugas.

Jauh di seberang tempatku duduk, kudapati beberapa gadis lain juga terduduk dengan menumpangkan satu kakinya di atas yang lain. Duduknya sama kok, kenapa abinya cuma datang kesini?  Kenapa dia hanya menegurku tapi tidak dengan gadis yang lain? Kalau duduk semacam ini terkesan kurang sopan dan (maaf) 'agak seksi', gadis di depanku jauh lebih seksi dengan pakaian ala musim panasnya. Lantas kenapa hanya aku yang diingatkan? 

Kenapa?

Dan rasanya air mata ini akan menetes saja saat semilir angin musim panas meniup pelan jilbabku, membelai lembut tangan dimana si mungil hitam berada. 

Mereka ingin menjagamu, Er. Menjaga izzah (kemuliaan)mu. Hijab dan qur'an :").

Ramadhan breeze
@Ege metro station

 


Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki