Ramadhan di Turki (2): Tarawih



Kurasa ini adalah satu-satunya mesjid terbesar di daerah Bornova. Yang lokasinya paling dekat dengan rumah Mas Agus dan tentu saja dekat juga dengan asrama kami. Mesjid berlantai tiga dengan cat dominan biru ini dibangun dengan gaya Selcuk; atap mesjid berbentuk kotak dengan sedikit atau tanpa kubah.

Demi merasakan sensasi tarawih di Turki, aku dan si kembar-ketemu-besar (Nae-Hida) memutuskan untuk menginap di rumah keluarga Mas Agus. Lebih aman kalau-kalau pulang tarawih terlalu malam. Lumayan, bisa sekaligus ikut sahur gratis ala Indonesia juga, hihi.  

Kumandang adzan Isya sudah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu. Sementara Iffah, putri sulung Mas Agus, masih berkutat dengan sandalnya. Bingung memilih antara sandal warna putih atau coklat yang sama-sama tampak kekecilan di kakinya. Hida menunggu di bagian bawah tangga sementara aku terpingkal geli berusaha menenangkan Mba Silvi yang mengomeli Iffah dengan sandalnya.
Untunglah pilihan segera jatuh pada sandal coklat milik Fatih. Kami tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama memilih sandal.

"Da, coba tolong lihat Uygar masih buka gak?" tanyaku begitu kami sampai di gerbang belakang masjid. Biasanya toko Uygar tutup jam sepuluh malam. Tapi berhubung kami sangat perlu beli sikat gigi, aku sungguh berharap Uygar akan tutup lebih akhir di bulan ramadhan.

"Eh, masih buka tuh, Teh. Mau ke Uygar dulu bentar?" Jarak toko dan mesjid sangat dekat memang, hanya terpisah jalan kecil. Tidak sulit bagi Hida untuk memastikan pintu toko masih terbuka atau tidak.

"Oh ya? Nanti aja kalau gitu. Kita shalat tarawih dulu. Takut ketinggalan." Iffah sudah berlari jauh ke halaman utama mesjid sementara kami bergegas menyusulnya. Dari jendela luar aku bisa memastikan lantai dua penuh dengan jamaah laki-laki, penuh hingga barisan belakang. Lantai bawah tempat jamaah perempuan seharusnya berada juga tampak sama padatnya mengingat cukup banyak anak-anak perempuan berhamburan keluar masuk mesjid. Pemandangan yang membuat semangat tiba-tiba menyeruak bagi siapapun yang melihatnya.  

Eits, tapi tunggu!

Kami baru saja akan memasuki mesjid saat suara bacaan imam menggelegar hingga keluar. Aku dan Hida termenung sejenak. Memperhatikan. Aduhai.. cepat sekali!

"Da, Da.. ini shalat Isya apa tarawih ya Da?" tanyaku tak percaya. Kembali mendengarkan dengan seksama.

Hida memandang ke arahku sambil tersenyum ragu, tidak ada ide.

"Eemh.. kayanya.. tarawih ya Teh?" tanyanya tak yakin.

"Shalat fardu bacaannya gak akan secepet ini sih Da."

Lagi-lagi Hida hanya tersenyum bingung memandangi ekspresi ketidakpercayaanku.

"Yah.. Da. Teteh tiba-tiba hilang semangat ni, Da." Kataku pasrah. Bahu-bahu yang beberapa saat lalu tegak terasa melunglai turun sekarang.

Kalau tadi hanya tersenyum, sekarang Hida malah balik tertawa geli. "Kalau bacaannya model begini mah gak beda jauh sama mesjid samping kos-an aku dulu waktu di Jawa, Teh. Dari bismillah sampe amin gak ada jaraknya, hahaha.."

Haaa.. iya. Ekpektasiku terlalu tinggi. Sepintas lalu aku membayangkan suasana tarawih disini akan seperti di mesjid Al Hurriyyah IPB. Atau seperti mesjid di sekitar rumahku di Bandung, setidaknya. Tidak apa. Tidak harus seperti di Salman ITB, Biofarmaka ataupun Daarut Tauhid. Tidak harus. Tidak apa. Tapi tolong, tidak secepat ini :( ..
 *

Empat hari sudah puasa di Turki, sepertinya aku semakin meyakini satu hal bahwa Ramadhan di Indonesia (masih) belum ada duanya. Tidak ada duanya.

***

#Sekilas Tarawih Turki


Umumnya, mesjid-mesjid di Turki akan lebih ramai saat bulan ramadhan dibandingkan bulan-bulan biasanya. Ramai baik oleh jemaat perempuan dan apalagi laki-laki. Padahal tarawihnya rata-rata 23 rakaat lho.. :P. Tapi ya itu, sangat 'kilat' bacaannya. Entah kalau di mesjid super besar seperti Blue Mosque, karena saya juga belum pernah tarawih disana.

Khusus untuk perempuan, sebagai pengetahuan saja, mereka sebenarnya sangat jarang shalat di mesjid (kecuali saat bepergian ke pasar misalnya). Mereka (laki-laki dan perempuannya) disini sangat menjaga anjuran 'perempuan jauh lebih baik shalat di rumah'. Bahkan saat hari raya Idul Fitri/ Adha akan sangat jarang perempuan Turki yang ditemukan di mesjid.

Tetapi khusus untuk bulan ramadhan, sebisa mungkin, semuanya ke mesjid.
Yang tidak pernah shaum mendadak shaum.
Yang tidak pernah shalat mendadak shalat, plus shaum lagi.

MashaaAllah... Luar biasa ya efek bulan Ramadhan.
Rasanya ingin terus ramadhan saja kalau begini.
Ramadhan mubarak, Ramadhan kareem. 



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'