Gem-Belgia


Sudah terlalu sering jadi gembel, sudah biasa. Indonesia, Turki, dan sekarang Belgia. Jadi apa bedanya? Menggembel saja and keep calm B-).
--

Why life is so complicated??

Iste bu hayat! [ya inilah hidup!]. Sepertinya saya mulai paham atau paham sekali dengan perasaan orang-orang yang menulis status 'complicated' di FB-nya, walaupun konteksnya sedikit berbeda. Hehe..

Kalau kata nasihat klasik, tidak ada yang mudah dan instan dalam hidup ini. Semuanya butuh perjuangan. Apapun. Ya, termasuk perjuangan saya untuk meng-gembel ilmu di Belgia. Hiks.

Kabar baik penerimaan thesis-exchange itu masih belum menguap. Tentu saja. Semua orang mendukung kepergianku ke Belgia. Kesempatan yang sangat baik, katanya. Apalagi bagi beberapa orang yang sangat mengharapkan oleh-oleh coklat Belgia di kemudian hari :P. Tenang, kalian juga bagian dari sumber motivasi ;P.

Hari ini aku kembali menghadap dosen pembimbing di kampus sekaligus bermaksud menyerahkan beberapa dokumen kepada koordinator Erasmus departemen. Setelah hampir bertempur sengit (ini agak lebay) dengan kepala koordinator sekolah bahasa demi memperjuangkan CEF level (sejenis penilaian TOEFL/ IELTS tingkat universitas untuk standar EU) dua jam lalu, kini aku harus mendengar kabar lain yang kembali menciutkan nyali untuk pergi ke Belgia. Ya Allah.. Apa lagi ini?

'Erna, Erasmus+ hanya akan membiayai kepergianmu selama lima bulan. Jadi kalau kamu mau tesis untuk sepuluh bulan maka lima bulan berikutnya sepenuhnya tanggung jawabmu. Bagaimana, tetap mau berangkat?'

Deg! Pandangan tetiba kabur rasanya.

Ayolah, aku tidak akan mungkin meminta Prof. DF untuk mempersingkat waktu penelitian lebih cepat dari rencana awal. I want to do it PROPERLY. Memang segampang itu meminta mikroba  cepet tumbuh dan mati demi waktu penelitian yang lebih singkat? Hidup ini tidak seperti rumus fisika yang semuanya bisa diandai-andai untuk dipercepat atau diperlambat. Semua ada waktunya.   

Lebih tidak mungkin lagi jika aku membatalkan keberangkatan kesana setelah perjuangan panjang mencari pembimbing beserta remeh temehnya. Setelah email-trauma-syndrome yang kualami beberapa minggu terakhir. Setelah komunikasi yang terjalin begitu intens dengan Prof. DF dan tim nya. Setelah kebaikan mereka yang begitu besar mengabulkan permintaanku ini dan itu. Aku ingin berangkat. Oh bukan ingin, tapi HARUS berangkat. Setidaknya inilah bentuk terima kasihku kepada mereka yang telah begitu baik merespon makhluk tak dikenal dari sebrang dunia bernama Erna. Bentuk kesyukuran kepada Allah karena memberiku kesempatan baik yang mungkin tidak semua orang peroleh. Aku ingin membalasnya dengan melakukan tesis sebaik-baiknya. Bekerja sama sebaik-baiknya. Menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Doing my best, to the fullest.

'Saya berangkat Hocam.' Entah sisi hati sebelah mana yang memprovokasiku mengatakan hal itu.

'Biaya hidup di Belgia sangat mahal lho, kamu punya tabungan?'

'Punya' jawabku singkat. Meskipun cuma 1500 tl :P. Lagi, entah sisi hati sebelah mana yang berbisik.

**

Mungkin kita memiliki semangat yang begitu besar tetapi kita juga harus berpikir realistis. Katakan saja kondisi sebenarnya kepada mereka Erna. Kau tahu, Tuhan menciptakan dunia ini dengan perkataan saja. 'Jadilah' maka terbentuklah dunia dari tiada menjadi ada. Komunikasikan. Perkataan yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Jadi sampaikan saja, aku yakin mereka akan membantu.    
Ko-mu-ni-ka-si. Memang ya, tidak ada yang namanya kebetulan. Adalah takdir Allah aku bertemu Kristofer setelah sekian lama hanya untuk mendengar nasihat ini.

Sesampainya di asrama kuputuskan untuk menulis email kepada Dr. M*k*. Sampaikan sejujurnya. Aku telah siap dengan jawaban apapun yang akan ia berikan. Tapi meski apapun jawabannya, aku yakin egoku akan menyuruh untuk tetap berangkat. Emang dasar keras kepala :P.

Antara ego dan gembel, realita dan keyakinan, kira-kira siapa yang menang?



Duhai Rabbi; Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku; sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan.”*_ 


With hope,
Bornova
 

 

* Al Qashash [28:24] Disadur dari buku Lapis-lapis Keberkahan (Salim A. Fillah)

 
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'