Duka Erdogan, Duka Kami Juga


"Gimana pemilunya? Kamu milih gak?" pertanyaan penuh antusias dari abla yemekhane mengalihkan perhatianku dari nampan.

"Pasti pilih dong..!" jawab gadis Turki di sebelahku, tak kalah antusias. Aku bergeser melewati gadis itu. Melihat-lihat menu makanan yang dipajang di etalase kantin malam ini. Tentu saja, tanpa menurunkan intensitas konsentrasi dari pembicaraan mereka. Hari ini adalah hari pemilihan umum (Turki: Genel Secim) anggota parlemen.

Hampir semua lembaga pendidikan tinggi di Turki diliburkan selama 5 hari menjelang pemilu ini. Lama sekali liburnya? Iya, supaya calon pemilih punya waktu untuk pergi ke kotanya sehingga dapat menyalurkan hak pilih serta dapat kembali lagi ke kampus dalam rentang waktu yang diberikan. Mengingat di Turki ada aturan denda sebesar 50TL (sekitar 250rb rupiah) bagi warga negara yang tidak aktif memilih, maka kebijakan libur yang cukup panjang ini menjadi masuk akal. Terlepas dari protes-protes keberatan karena jadwal ujian akhir yang menjadi tidak karuan.

"Pilih mana tadi? AKP*?" tanya si abla lagi. Piring nasi yang dipegangnya tak kunjung penuh sementara antrian di belakangku mulai mengular.
"Ckck! (ekspresi penolakan khas Turki). Kenapa harus pilih mereka? Enggak lah.. Mereka sembunyi-sembunyi merampok negara. Hiyy!" sahut si gadis. Tergambar jelas ekspresi jijik di wajahnya. Yang entah kenapa membuat jantungku mau lepas saja rasanya. Dari penampilan, gaya bicara dan ekspresinya, sepertinya aku tahu betul partai mana yang dia pilih. Bahkan tanpa perlu mendengar sisa percakapan mereka.

Euforia pemilu nasional ini rupanya tidak hanya ramai di kalangan anak muda. Di meja kasir kudapati abla penjaga sedang asyik dengan tablet putihnya. Kali ini bukan main game ataupun nonton serial dizi (re: sinetron). Apalagi, kalau bukan mantengin perhitungan suara. Betapa pun berusaha keras mendongakkan kepala ke layar tablet dan memasang telinga lebar-lebar tetap saja tidak bisa melihat ataupun mendengar hasil perhitungan yang tidak hanya membuat warga Turki tetapi juga warga asing terutama pelajar seperti kami ini penasaran.

Dari meja makan lajur kiri gedung kuamati gadis-gadis Turki lain tertahan cukup lama di meja kasir. Meski tak sedikit diantara mereka yang melengos tak tertarik. Sepertinya masih diskusi tentang pemilu siang tadi. Satu dua gadis tampak tertawa cekikikan dengan si abla yang sesekali mengacung-acungkan tabletnya. Atau di menit yang lain si abla akan ber-tos high five ria dengan gadis yang lainnya. Seolah saling setuju satu sama lain. Satu frekuensi, kalau kata orang fisika.
**

Aku sedang berbagi kabar dengan Merve yang baru pulang dari freelance-nya saat tiba-tiba suara pekikan panjang peluit memotong obrolan kami.

Priiiiiiiiiiiiiiitttttttt...!

Sontak semua kepala di yemekhane tertuju pada sumber suara. Seorang gadis dengan rambut sebahu sedang meniup peluit tepat di depan meja kasir si abla tablet putih. Ia menerawang sekeliling tepat setelah tiupan peluit pertama usai. Memastikan bahwa semua mata melihat aksinya, memperhatikannya. Yang kemudian disusul dengan tiga kali tiupan peluit pendek, seolah mengisyaratkan suatu pertandingan telah berakhir. Pertandingan apa gerangan?

Priiit...  priiit.. priiiiittt!!

Anak-anak lain mungkin tampak tidak peduli dengan perilaku 'apa sih'-nya si gadis ini. Tapi tidak denganku.

"Apa sih ini gak jelas. Gak ngerti deh!" keluh Merve polos, lalu menegak sodanya.

"Sepertinya ada partai yang menang." jawabku enggan. Tetiba merasa linglung, pasrah. Entah dimana pikiranku malam itu. Entah apa yang membuat hatiku terasa hampa sekali saat itu.  Wajar saja jika partai oposisi menang di Izmir, toh disini memang lumbungnya oposisi. Tapi bukan itu yang aku khawatirkan. Puluhan bayangan rasanya berkelebat cepat silih berganti. Sosok presiden yang diimpikan hampir di semua negara itu. Ingatan tentang pelarangan jilbab yang begitu mengguncang dunia saat itu. Tentang kapal Turki yang menyebrang ke Indonesia demi pengungsi Rohingya itu. Tentang sosok-sosok yang begitu berbesar hati mau menampung pengungsi Suriah itu. Tentang ia yang begitu berani menyatakan sikap pada negara kutub magnet itu. Tentang pemimpin negara yang tidak munafik dan begitu kuat berprinsip membela negara-negara Islam itu. Tentang ia dan jajarannya yang begitu berbesar hati membuka keran beasiswa kepada pelajar asing dari ratusan negara itu. Dan tentu saja, tentang sosok yang begitu gagah memasang badan demi melindungi saudara-saudara muslimnya dari cengkraman zionis itu.

"Erna, di Indonesia apakah kamu punya sosok seperti Erdogan?" tanya Fatumah dengan nada lirih yang sama. Guyuran hujan malam ini rasanya menambah sendu suasana saja. Aku mengulum senyum, melempar pandangan jauh ke luar jendela kamar asrama. 

"Jika kami punya sosok seperti Erdogan, kau pikir kita akan bertemu disini, Fatumah?" 
***
 
         


note:
*AKP (partai pengusung Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki terpilih)








  
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki