Cepet Sembuh, Mr. 'Sok Cool'


Pukul 09.14 waktu Turki. Aku menerawang langit-langit kamar asrama sejenak. Menghitung. Berarti sekitar pukul satu siang di Indonesia. Sepertinya ini masih dalam jam kunjungan rumah sakit Immanuel. Jam 11-14 kalau tidak salah ingat. Baiklah.

Setelah mengetik kode negara, kumasukkan sebelas digit angka lainnya di papan nomor Hp. Sesaat kemudian tertera nama adik perempuanku di layar. Ya, aku lebih suka mengetik antrian nomor panjang itu ketimbang mencari-cari dalam daftar kontak. Bagiku 'mencari' jauh lebih merepotkan. Di samping memang karena aku sangat suka mengingat angka, jika diperlukan. Hava, teman asrama dari Ghana, bahkan sempat terkaget-kaget mendapatiku mengingat no rekening akun bank temannya saat aku membantunya mentransfer uang pada suatu sore. Sesuatu, karena aku hanya baru melihat no rekening itu sekali.

"Assalamu'alaykum..?" sapa suara di seberang sana. Suaranya ringkih, lemah. Ah, tentu saja. Berhari-hari kurang tidur dan makan seadanya, kondisi terbaik seperti apa yang akan kuharapkan?

"Wa'alaykumusalaam, Mah.." kataku setengah berteriak. Memastikan bahwa suaraku terdengar cukup jelas menembus gangguan sinyal puluhan ribu kilometer.

"Mamah sehat?" tanyaku lagi. Meski mungkin tidak sepenuhnya sehat, kuharap pertanyaan ini menjadi doa baginya.

"Mamah sehat, sehat alhamdulillah.." jawabnya. Suaranya sekarang jelas dan kuat, tapi bergetar. Seperti biasanya ibu kebanyakan, berusaha 'sok kuat'. Kurasa ibu-ibu di dunia ini harus mulai belajar menyadari satu hal bahwa: bukan hanya ibu kepada anak, tapi seorang anak juga bisa mengenal ibunya dengan baik.   

"Teteh udah sarapan?"

Aku tersenyum pilu di seberang sini.  
Harusnya teteh yang nanya tadi pagi mamah udah sarapan atau belum, bukan sebaliknya. Bahkan di saat seperti ini ia masih peduli apakah anak gadisnya sudah sarapan atau belum.

 "Opik gimana, Mah? Udah mendingan? Trombositnya naik belum?" tanyaku kemudian. Harap-harap cemas setelah kemarin, menurut keterangan yang mamah dapat dari dokter, Opik butuh tambahan transfusi darah karena Tb yang terus menurun. Innalillah.. Aku sempat dirawat karena DB juga dulu, tapi tidak sampai butuh transfusi darah seperti ini.

"Oh, Opik? Ada. Lagi tidur sekarang. Alhamdulillah trombositnya udah naik walaupun baru sedikit. Mohon doanya aja, Teh. Kalau besok naik lagi dan banyak, mudah-mudahan bisa cepet pulaanghhm..." jelasnya. Rasanya aku bisa mendengar suara mamah yang berusaha menahan kantuk di akhir percakapan. Terang saja, sudah hampir empat hari mamah begadang di RS.  

"Mmh. Syukurlah kalau begitu. InshaaAllah Teteh selalu doakan dari sini, Mah. Semoga di malam munggahan* nanti Opik sudah sehat dan semuanya bisa berkumpul di rumah. Sehat wal afiyat. Bisa shaum ramadhan tanpa halangan. InshaaAllah." kataku. Tak hentinya berdoa dalam hati.

Hening sesaat. Aku membayangkan mamah memandangi anak bungsunya yang terlentang lunglai di kasur. Lengkap dengan selang infus dan trombosit sekaligus di tangan yang sama.

"Teh.." katanya lagi.

"Iya, Mah?"

"Kemarin Opik nanyain Teteh." nada tersenyum terdengar di sebrang telefon.

"Oh ya? Nanyain apa memang?" Selintas gak percaya kalau Opik si Mr. 'Sok Cool', bakal nanya tentang kakaknya ini. Tersanjung juga sih :P.

"Nanya, 'Teteh tau gak Mah kalau Opik masuk RS?'. Mamah bilang aja 'Ya tau atuh. Kan kemarin yang nyuruh Opik supaya cepet dirawat itu Teteh. Pasti tau." Aku menyimak setiap perkataan Opik dari Mamah. Juga membayangkan ekspresi sok gengsinya saat bertanya apa mungkin aku tahu tentang sakitnya atau tidak. Menggemaskan sekali. Ingin rasanya menjewel pipinya kuat-kuat. Andai aku ada disana.

"Terus bilang apa lagi?" tanyaku semakin penasaran. Aku tahu, meski sok dingin sok gak peduli, sebenernya dia sayang. Sangat sayang.

"Dia tanya lagi 'terus si Teteh bilang apa?'.Bilang kalau Opik harus banyak makan. Banyak minum sari kurma. Cepet sehat biar cepet pulang ke rumah. Opik cuma bilang 'mmh..--"

Hihi. Aku hanya tersenyum geli membayangkan ekspresi Opik yang merasa tersipu malu diperhatikan. Gimana sih kalau anak cowok merasa tersanjung tapi kaya pura-pura sok cool. Berusaha menyembunyikan ekspresi senang dan bangga tapi tergurat begitu jelas di muka.

Mamah melanjutkan ceritanya. "Eh, setelah itu dia bilang lagi 'Mmh.. Ya udah kalau gitu. Opik mau banyak makan. Minum sari kurma juga biar cepet pulang ke rumah. Gak betah disini. Gak rame juga.'" Lagi, bayangan ekspresi Opik --Aku mau sembuh emang karena gak betah aja di RS, bukan karena si Teteh yang bilang. Ini gak ada hubungannya sama dia-- seolah bergelantung ria memenuhi langit kamar asrama.

Untunglah. Aku merasa sedikit lebih lega sekarang. Setidaknya, karena ia punya tekad untuk sembuh dari dirinya sendiri. Terlepas dari siapapun dan apapun sumber motivasinya.

Cepet sembuh ya Pik, cepet sehat sayang.. (pasti dia geli banget kalau denger kakaknya ngomong langsung macam begini :P). Segera kembali ceria dan 'sok cool' seperti apa adanya dulu x). Salam kangen gemes dari jauh. Allah emanet ol. 
         
Syafakallah syifaan ajilan, syifaan la yughadiru ba'dahu saqaman..



* Munggahan [Sunda: malam pertama ramadhan]



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki