Ini Hijab Pertamaku, Kamu? (2): Jilbab Ronaldo


Hampir pukul 11 siang. Masih ada waktu dua jam sebelum pelajaran pertama dimulai. Hari ini aku berjanji untuk mengerjakan PR PPKn bersama di rumah Ica. Setelah berpisah dengan Diwan di pintu gerbang, aku bergegas menyusuri jalan kecil yang menghubungkan sekolah dengan rumah sahabat baruku.

Meski letaknya tidak jauh, tapi terlalu banyak gang berkelok disini. Sialnya lagi, aku adalah makhluk yang tidak pandai mengingat jalan. Kusahakan untuk berkonsentrasi penuh menentukan belokan mana yang harus dilalui pertama dan kemudian. Meski sesekali harus rela membagi konsentrasi hanya untuk mengucapkan 'punten' kepada warga sekitar. Lagi, beberapa ibu yang berkumpul ria tampak lebih antusias meneliti seragam pendek si pelempar salam ketimbang menjawabnya. Tapi aku tidak peduli. Atau mencoba untuk tidak peduli lebih tepatnya. Udah biasa, udah kebal.

Hanya berselang tujuh menit, rumah sederhana bercat hijau itu kutemukan. Teras berlantaikan keramik merah marun yang tertimpa cahaya matahari tampak menyilaukan di beberapa bagian. Tiga tangkai bunga mawar muda setengah mekar, menambah manis halaman mungil ini. Di sudut lain, beberapa pasang sandal berukuran besar bertengger rapi disamping sepatu putih seukuran kakiku.  

Tok tok tok!

"Assalamu'alaykuuum.. Icaaaa aaa aaa.." Panggilan yang lebih terdengar seperti mengajak bermain daripada bertamu.

"Icaaa.. aa.." seruku lagi sambil sesekali membenarkan posisi jilbab yang terasa mencong tak karuan. Kutarik-tarik rok kebawah berharap bisa tiba-tiba memanjang. Begitu juga dengan lengan baju seragam yang sayangnya tetap menggantung nakal di atas siku walau ditarik berkali-kali.

Klek !

Suara pintu terbuka mengalihkan kesibukanku dari seragam. Seorang lelaki paruh baya berkulit agak gelap tampak berdiri di mulut pintu. Perawakannya tinggi kecil tapi tampak kuat. Wajahnya ditumbuhi kumis dan jenggot disana-sini.

"Eh, ini teh temennya Ica tea ya?" Sambutnya antusias seolah-olah aku adalah teman pertama yang berkunjung ke rumahnya.   
Aku terperangah. Tahu darimana?  Bisa saja kan aku temannya Resta, adiknya Ica.

"Iya, Pak." anggukku ringan, menyeringai.

"Ayo masuk, yuk ! Ica ada di dalam." Tambahnya lagi sembari bergeser dari pintu, memberi jalan. Secepat mungkin kubuka sepatu bertali yang rupanya terpasang cukup kencang, sehingga menahanku beberapa saat di teras.

"Neng, ngomong-ngomong itu kenapa kaos kakinya panjang bener ya?" tanyanya tiba-tiba.  Aku mendongak. Mencoba mencerna pertanyaan barusan. Memang kenapa dengan kaos kaki panjang?

"Oh.. ini.. anu.." gelagapku bingung.  Masih memegangi tali sepatu.

"Warnanya item lagi. Mau jadi pemaen bola ya? Kayak Ronaldo?" ceriwisnya lagi. Hanya hitungan milidetik gelegar tawa pecah di udara. Terpingkal dengan lelucon yang dibuatnya sendiri. Aku bengong.  Tidak tahu harus berkata apa. Hanya mematung kaku diantara teras dan daun pintu menyaksikan lelaki yang semakin terbahak di hadapanku. 

***

   
Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Pernikahan ala Turki

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'