AADA (Ada Apa Dengan bahasa Arab?)


Hanya jika ingatanku masih bagus, hari itu adalah Jumat, minggu terakhir bulan Oktober.

Usaha menghidupi batre HP pun gagal total. 21 persen tersisa dan stuck!  Meski berat kulangkahkan kaki kembali menuju Saat Kulesi* saat seorang penjaga mesjid menghalau anak-anak peminta-minta yang bersiap menengadahkan tangan ke arah jemaah shalat Jumat yang akan hadir.
Ah tentu saja! Kenapa aku bisa lupa kalau hari ini Jumat?! 
 Beberapa menit lalu hampir saja sisi diriku yang lain memaksaku menerobos masuk ke dalam mesjid lantai atas. Numpang cas HP  di 15 menit yang tersisa menuju shalat Jumat. Bilang aja darurat gitu Er..

Kuhubungi Dewi 2 atau 3 kali, memastikan bahwa ia akan bisa datang sebelum HP ini mati total. Dan ternyata usahaku malah mempercepat habisnya batre -_-. Haah.. kuharap posisiku cukup mudah ditemukan Dewi nanti.

Aku menunggu di bangku kayu di sekitar Saat Kulesi. Bangku di blok pohon kedua. Kapan ya terakhir kali aku main ke  Konak? Rasanya cukup banyak yang berubah disini-- setidaknya dengan kehadiran bangku-bangku panjang yang mengitari pohon-pohon utama di sekitar menara jam ini.

Adzan pertama tanda akan dimulainya khutbah Jumat tengah berkumandang. Tapi entah kenapa mesjid mungil di seberang menara itu masih saja sepi dari jemaah, sementara ratusan orang berlalu lalang di sekitar menara dan tentu saja puluhan diantaranya adalah lelaki.
   
Ya, mungkin orang-orang ini hanya ingin berteduh saja disini. Atau sekedar melihat puncak menara jam di bawah terik matahari siang bolong. Hanya ingin berfoto dengan latar Saat Kulesi atau sekedar mengajak anak-anaknya bermain menerbangkan merpati yang tengah asik mematuk biji-bijian. Atau mungkin mereka hanya ingin beristirahat sejenak seraya mencuri dengar beberapa kalimat khutbah seperti yang dilakukan si nenek berumur kepala 6 di sampingku ini.

'Aku belajar bahasa Arab', katanya dalam percakapan singkat kami waktu itu. Aku terhenyak. Entahlah. Rasanya seperti ada sensasi aneh mengusik hatiku saat mendengar perkataan si nenek.
"Saya baca kitab sirah nabi, buku-buku tafsir Qur'an tapi cuma tahu beberapa kata bahasa Arab. Sudah tua, banyak lupanya." tambahnya lagi.
Demi apa?! Di usia se-senja ini belajar bahasa arab? Di usia yang justru saatnya orangtua menjadi pikun si nenek ini malah belajar bahasa arab? Di usia yang bahkan jalan pun sudah tertatih-tatih dan mesti dibopong sana sini si nenek ini malah menumbuhkan semangat untuk MULAI belajar bahasa arab? Di usia yang jangankan untuk tilawah, melihat wajah anak dan cucu saja sudah rabun, si nenek ini malah membaca sirah dan kitab-kitab tafsir demi satu dua butir  bahasa arab? Allah Rabb..
Dan diantara semangat si nenek ini, kamu ada dimana, Er?

***

Bahasa Arab itu bahasa orang surga bukan?

Entah kalau dihitung, mungkin sudah berpuluh atau beratus kali kita khatam membaca Qur'an. Tapi apakah kita mengerti dengan apa yang kita baca? Ya, benar bahwa Allah menjanjikan pahala bagi siapapun yang membaca kalamNya, meski ia tak mengerti arti kandungannya. Tapi tak inginkah kita  paham dan tahu betul dengan apa yang kita baca di sela-sela kesibukan kita? Tak inginkah kita mengerti dengan firman yang Allah sampaikan melalui al qur'an. Bagaimana kita bisa merasakan bahwa Allah berbicara pada hambaNya saat kita membaca Alquran sementara kita tidak faham dengan apa yang kita baca? Akankah rasa 'hati bergetar' saat mendengar dan menyebut kalam Allah itu terasa di kala kita tidak mengerti. Bagaimana kita faham kalau kita tidak merasakan 'feel' dari bahasa arab itu sendiri? Bukankah hakikat berkomunikasi itu terletak pada kesalingmengertian antara dua belah pihak?

Haah.. Er, selalu saja merasa bahwa bahasa Inggris atau bahasa asing lain lebih keren, lebih 'wow' dari bahasa Arab. Ini cuma saya yang merasa atau orang lain juga ya?
Teman-teman pernah lihat plang iklan pengumuman kursus bahasa? Diantara semua program les bahasa yang ditawarkan rasanya bahasa Arab tidak pernah ditempatkan di urutan no. 1, iya gak sih? Artinya apa? Artinya ini bukan hanya perasaan saya semata tetapi kebanyakan dari kita memang belum menempatkan bahasa pengantar surga ini di skala prioritas utama.  Atau mungkin boleh saya katakan, bahasa Arab belum memiliki tempat utama di hati kita.

***

"Masallah kizim.. ne guzelsiniz. Nerelisiniz?"
Tangan keriput itu meraba pipi kami perlahan. Tangannya merangkul kami satu persatu, lembut tapi kuat. 

"Endonezyaliyiz." jawab kami singkat, diiringi senyum terkembang.

"Namaz kiliyor musunuz? Allah kabul etsin. Bu genc yaslarda namaz kiliyorsunuz. Ne guzel, ne guzel." (Kalian shalat? Semoga Allah mengabulkan. Di usia semuda ini sudah shalat. Bagus, bagus)  katanya tulus, penuh kesyukuran.

"Ben 62 yasindayim simdi. Arapca ogreniyorum. Yavas-yavas ogrenirim." (Saya 62 tahun sekarang. Sedang belajar bahasa Arab. Pelan-pelan belajar) tambahnya lagi sambil menunjukkan buku tipis yang selintas tampak berisi beberapa kalimat dalam bahasa Arab. 

"Haydi kizim, ben bir yere gitmem lazim. Allah kabul etsin. Allah emanet ol!" (Mari Nak, saya harus pergi. Semoga Allah mengabulkan doa kalian.)

"Tesekkur ederiz Teyze, kendine iyi bakin." (Terima kasih bibi, hati-hati di jalan)

Sejenak aku tertegun. Sedih, sedih sekali rasanya. Malu..
Ya Allah, pertemuanku dengan dua nenek hari ini, apakah ini kebetulan? Atau ini sebuah teguran?
  
***



*aka Izmir Clock Tower (Menara Jam Izmir), terletak di daerah Konak-- pusat aktivitas terpadat kota Izmir. Menara ini juga dijadikan simbol kota Izmir. No Saat Kulesi, no Izmir! (re: wajib foto disini kalau ke Izmir :P)

  



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki