Am I Japanese?


"Off.. bunu calismiyor ya, Hocam!" (aduh ini gak bisa, Pak!). Kugeser si tikus hitam itu beberapa kali tapi kursor tetap saja tak bergeming. Ia meletakkan cangkir kopinya, bergegas keluar.

"Ondan goremedim." (gak kelihatan dari situ) sambarku cepat saat guvenlik* itu menunjuk layar komputer sebelah kiri. Sengaja ia menelungkupkan tangan kiri ke bagian layar, menghindari silau matahari. Ah, tentu saja ia bisa melakukannya dengan mudah. 180-an senti mungkin tinggi badannya.  Terang saja aku tak bisa melakukan hal serupa.

"Ismin neydi?" (siapa namamu?) tanyanya sambil men-scroll daftar nama yang terpampang di layar.

"Erna."

"Ernawaki Ernawaki" tambahku lagi. Dengan satu klik dan ya, aku berhasil melewati gerbang utama asrama. 

Sepanjang perjalanan menuju blok aku hanya berpikir kenapa kali ini aku mengakui namaku sebagai Ernawaki. Sementara dulu bersitegang dengan manajer asrama demi nama 'Ernawati'. Bahkan di yemekhane** pun aku merap melafalkan nama 'ErnawaTi ErnawaTi' meski di layar jelas-jelas tertulis 'ErnawaKi ErnawaKi'.

Bay de wey, nama 'ErnawaKi' itu memang kedengeran kaya nama Jepang banget ya? 
Jadi teringat kejadian beberapa bulan lalu saat perjalanan ke Konya. Kondektur di bis kerap menyebutku orang Jepang.
"Japonya arkadas, Japonya arkadas.." (Teman Jepang, teman Jepang..) katanya berulang kali saat mencoba membangunkanku (yang-sebenarnya-tidak-tidur) untuk menawarkan jajanan. What? Teman Jepang? Setelah Cina dan Korea, sekarang Jepang?
Ah, biarlah. Aku hanya terlalu malas untuk bangun dan menanggapi panggilannya waktu itu. Oia, di Turki, kalau kita melakukan perjalanan jarak jauh dengan bis memang biasanya dilengkapi dengan servis  makanan kecil dan atau minuman, wifi gratis, fasilitas charge hp dan monitor mini untuk main games atau sejenisnya. Persis seperti di pesawat gitu, hanya dalam versi yang lebih sederhana.

Kembali ke topik Jepang, kejadian serupa juga pernah aku alami di Ankara (ibu kota Turki). Seorang lelaki paruh baya (atau mungkin bapak muda lebih tepatnya) di metro tiba-tiba bertanya apakah aku dari Jepang atau bukan. Yang ini lebih epik lagi karena sampai hampir minta foto segala *towew! Dia bilang kalau anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun nge-fans berat sama Doraemon dan senang sama orang Jepang. Laah @.@

Ini orang-orang Turki sepertinya perlu berkunjung ke bagian Asia Timur dan Tenggara deh ya. Supaya bisa membedakan seperti apa wajah-wajah imut orang disana :P.  

***
Cuma mau bilang, bahwa nama 'ErnawaKi' ini sebenarnya adalah nama hasil kesalahan registrasi asrama satu tahun yang lalu. Terang saja manajer blok tak pernah menemukan namaku. Beratus kalipun dicari gak akan pernah keluar, karena di sistem tertulis sebagai 'ErnawaKi' bukan 'ErnawaTi'.
Dan jika kalian bertanya kenapa aku tidak mengubah namaku ke bagian administrasi? Jawabannya adalah.. Diubah gak diubah, bagi mereka sama saja: aku orang Jepang. Yaah.. selama nama paspor dan akte gak berubah.
   
So, dear readers.. jangan terkecoh ya.. nama asli saya adalah 'ErnawaTi' bukan 'ErnawaKi' apalagi 'Erna Eruna'. Ini hanya nama pena. Dan, readers yang faham bahasa Jepang pasti tahu kenapa nama pena saya Erna Eruna :P.

Aaah... nama.. nama..

# Mendadak 'sindrom ingin ke Jepang' kambuh lagi

Bornova,  24/10/14
After school


*, **: istilah pernah ditulis di postingan blog sebelumnya



Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki