Abi !!



Oke, waktu istirahat telat lima menit. Artinya harus setengah berlari menuju gedung sebelah untuk shalat Dzuhur.
"Erna, i'll not come with you. I'll pray in the dorm later coz i feel dizzy now." Aku hanya mengangguk pelan tanda setuju pada Mazuin. Ya, waktu shalat Dzuhur memang masih panjang. Sebenarnya bisa saja aku shalat di asrama juga seperti Maz. Tapi mengingat ada pelajaran tambahan yang harus aku dan beberapa teman ambil selepas TOMER, ku putuskan untuk segera shalat saat itu.

Entah kenapa alih-alih bergegas menuju gedung sebelah, kakiku malah berjalan ke lantai bawah. Ke tempat biasa kami shalat dulu, ruang petugas kebersihan. Bagian otakku yang lain sadar betul bahwa gedung sebelah baru saja usai dipakai seminar panel beberapa profesor dari fakultas seni. Artinya kemgungkinan besar tikar alas shalat di gedung sana sudah di-'aman'kan.

Eh, ruangannya buka ternyata! Diantara lubang pegangan di turunan tangga aku bisa melihat dua dari tiga abi (panggilan umum untuk kakak laki-laki/ paman) yang biasa berjaga di ruangan itu. Entah karena terlalu senang atau karena terlalu malas untuk mengetuk pintu yang sudah terbuka, aku bertanya setengah teriak dari balik lubang tangga.
"Abii, ben orada namaz kilabilir miyim?" (Abi, saya boleh shalat disitu gak?)
Sesaat sebelum mereka memanggilku untuk dua detik aku yakin betul telah melihat ekspresi bingung sang abi mencari sumber suaraku.

Ruangan ini tidak berubah ternyata. Kloset baru masih terbungkus plastik berbaris rapi di depan pintu lemari besi. Beberapa CPU Komputer rusak masih tergeletak payah di bagian meja sebelah kiri. Buku-buku baru yang mulai terlihat usang karena tak terpakai masih teronggok sendu di bagian lain ujung meja. Dan ya, suara ringan entah-mesin-apa pun masih terdengar sama. Beginilah. Sedikit ramai, namun damai. Kugelarkan karpet dan satu-satunya sajadah merah yang terlipat kaku di atas kardus. Allah, terimalah ibadahku, sungguh Engkau sebaik-baik penerima amal..

**

Tiba-tiba saja ruangan menjadi gelap. Seseorang telah mematikan lampu. Suara derap langkah berhambur keluar diiringi rincingan bunyi kunci. 
"Ağabeeeyy !" teriakku sambil bersegera berlari keluar ruangan.
"Aiiih... ben unuttum ya seni!" (Aiih.. saya lupa kalau ada kamu) katanya polos disertai kehkehan tawa. Aku hanya cemberut. Untung saja aku berlari di saat yang tepat. Jika tidak, terkuncilah sudah di ruangan bawah tangga.
Nasil beni unutmussunuz Abi.. (kok bisa lupa kalau aku masih di dalam sih Abi) T_T


Post a Comment

Popular posts from this blog

Perempuan Indonesia di Mata Laki-laki Turki

Hati-hati dengan (kriteria) Pria Turki !

Cari Jodoh Orang Turki?

Satu Kata Tentang Orang Turki: 'tukang maksa!'

Pernikahan ala Turki